Metode Pembelajaran

Minggu, Januari 17, 2010

Strategi pembelajaran tuntas sebenarnya menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik, sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal.

Adapun langkah-langkahnya adalah :

1. mengidentifikasi prasyarat (prerequisite),
2. membuat tes untuk mengukur perkembangan dan pencapaian kompetensi,
3. mengukur pencapaian kompetensi peserta didik.


Metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran tuntas adalah pembelajaran individual, pembelajaran dengan teman atau sejawat (peer instruction), dan bekerja dalam kelompok kecil. Berbagai jenis metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok.

Pembelajaran tuntas sangat mengandalkan pada pendekatan tutorial dengan sesion-sesion kelompok kecil, tutorial orang perorang, pembelajaran terprogram, buku-buku kerja, permainan dan pembelajaran berbasis komputer (Kindsvatter, 1996)

2. Peran Guru

Strategi pembelajaran tuntas menekankan pada peran atau tanggung jawab guru dalam mendorong keberhasilan peserta didik secara individual. Pendekatan yang digunakan mendekati model Personalized System of Instruction (PSI) seperti dikembangkan oleh Keller, yang lebih menekankan pada interaksi antara peserta didik dengan materi/objek belajar.

Peran guru harus intensif dalam hal-hal berikut:

1. Menjabarkan/memecah KD (Kompetensi Dasar) ke dalam satuan-satuan (unit-unit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya.
2. Mengembangkan indikator berdasarkan SK/KD.
3. Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi
4. Memonitor seluruh pekerjaan peserta didik
5. Menilai perkembangan peserta didik dalam pencapaian kompetensi (kognitif, psikomotor, dan afektif)
6. Menggunakan teknik diagnostik
7. Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi peserta didik yang mengalami kesulitan

3. Peran Peserta didik

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi sangat menjunjung tinggi dan menempatkan peran peserta didik sebagai subjek didik. Fokus program pembelajaran bukan pada “Guru dan yang akan dikerjakannya” melainkan pada ”Peserta didik dan yang akan dikerjakannya”. Oleh karena itu, pembelajaran tuntas memungkinkan peserta didik lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan. Artinya, peserta didik diberi kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensinya. Kemajuan peserta didik sangat bertumpu pada usaha serta ketekunannya secara individual.

4. Evaluasi

Penting untuk dicatat bahwa ketuntasan belajar dalam KTSP ditetapkan dengan penilaian acuan patokan (criterion referenced) pada setiap kompetensi dasar dan tidak ditetapkan berdasarkan norma (norm referenced). Dalam hal ini batas ketuntasan belajar harus ditetapkan oleh guru, misalnya apakah peserta didik harus mencapai nilai 75, 65, 55, atau sampai nilai berapa seorang peserta didik dinyatakatan mencapai ketuntasan dalam belajar.

Asumsi dasarnya adalah:

1. bahwa semua orang bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan berbeda,
2. standar harus ditetapkan terlebih dahulu, dan hasil evaluasi adalah lulus atau tidak lulus. (Gentile & Lalley: 2003)

Sistem evaluasi menggunakan penilaian berkelanjutan, yang ciri-cirinya adalah:

1. Ulangan dilaksanakan untuk melihat ketuntasan setiap Kompetensi Dasar
2. Ulangan dapat dilaksanakan terdiri atas satu atau lebih Kompetensi Dasar (KD)
3. Hasil ulangan dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan program pengayaan.
4. Ulangan mencakup aspek kognitif dan psikomotor
5. Aspek afektif diukur melalui kegiatan inventori afektif seperti pengamatan, kuesioner, dsb.

Sistem penilaian mencakup jenis tagihan serta bentuk instrumen/soal. Dalam pembelajaran tuntas tes diusahakan disusun berdasarkan indikator sebagai alat diagnosis terhadap program pembelajaran. Dengan menggunakan tes diagnostik yang dirancang secara baik, peserta didik dimungkinkan dapat menilai sendiri hasil tesnya, termasuk mengenali di mana ia mengalami kesulitan dengan segera. Sedangkan penentuan batas pencapaian ketuntasan belajar, meskipun umumnya disepakati pada skor/nilai 75 (75%) namun batas ketuntasan yang paling realistik atau paling sesuai adalah ditetapkan oleh guru mata pelajaran, sehingga memungkinkan adanya perbedaan dalam penentuan batas ketuntasan untuk setiap KD maupun pada setiap sekolah dan atau daerah.

Read more...

PERUBAHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR PD PROSES MENUA

Rabu, Januari 13, 2010


  • Pusat pengaturan tidur dan bangun ada di hipotalamus

Dasar pemeriksaan dgn: EEG,EOG, dan EMG menentukan tahap tidur, yaitu:

1. NREM (non rapid eye movement), dan

    tahap 1 dan 2 : Light sleep

    tahap 3 dan 4 : deep sleep

2. REM (rapid eye movement)

  • SIKLUS TIDUR
  • Faktor2 yg mempengaruhi kualitas tidur pd lansia:
  1. Umur
  2. Lingkungan
  3. Nyeri
  4. Penyakit
  5. Diet (xanthin, caffein)
  6. Penggunaan obat (antisaporific)
  7. Issue psikososial
  • Perub fisiologis yg normal
  1. Jml sel menurun - fgs neurotransmiter mengalami penurunan (sistem syaraf)
  2. Nervus perifer mengalami degeneratif

    (konduksi motorik-sensorik)

3. Perub ritme sirkadian

  1. Kebut tidur < 8 jam/hr tanpa terganggu
  2. Mudah cepat lelah (kurang istirahat)
  3. Penurunan waktu aktual tidur
  4. Peningkatan wktu total tidur/berbaring
  5. Peningkatan latensi tidur (wkt menjelang tidur)
  6. Peningkatan frekuensi terjaga (bangun) tiap malam
  7. Tidur REM sering terpotong
  8. Peningkatan tahap I tidur
  9. Tahap 3 dan 4 kurang dalam

h. Penurunan efisiensi tidur

i. Lbh mudah terganggu

j. Kualitas tidur tidak baik

k. Peningkatan rasa kantuk

  • Perub fisiologis yg tdk normal

1. Apnea

    * kurangnya aliran udara dr hidung & mulut

     (10")

    * dlm brp jam mlm hr tjd 30 episode apnea

    * bs tjd 300 kali setiap malam & 120"/apnea

    * 15 kali lbh byk pria : wanita krn obesitas,     pendek dan leher tebal

    * Kelihatan ngantuk sepanjang hari

    * resiko cardiovaskuler & komplikasi

     pernapasan.

2. Periodic limb movement

    (nocturnal myoclonus)

    * myoclonous pd mlm hari

    * Konstraksi kaki yg berulang (per 30")

    * Konstraksi muncul 5-60 ' & dpt

     insomnia

    * tdk ada penyebab yg pasti, srg tjd pd

     DM, GG ginjal, Sedatif, kopi, alkohol.

  • 3. Restless legs syndrome
  • Ada perasaan yg sgt tidak nyaman yg merayap pd kaki shg tdk bs memindah kaki, jln, berdiri.
  • Tjd pd saat mengantuk, wkt duduk lama dikursi a/ tempat tidur
  • Wkt tidur sgt berkurang

4. Gg istirahat dan tidur krn dimentia:

    a. peningkatan NREM,

    b. Penurunan REM

    c. Penurunan deep sleep

    d. peningkatan prevalensi sleep apnea

    e. disorientasi t.u mlm hari jk terbangun

5. Penurunan tingkat kesadaran

    dr ringan smp berat a/ pingsan krn faktor tumor intrakarnial, hematoma subdural

  • Klasifikasi Internasional GG tidur

I. Dyssomnias (Insomnia):

    a. GG memulai a/ memperthnkan tidur

    b. GG tidur instrinsik spt: nocturnal myoclonus

    c. GG tidur ekstrinsik spt: environment sleep

disorder, hypnotic-dependent sleep disorder

    d. GG irama sirkadian tidur spt: shift-work sleep

disorder, time zone change sleep disorder

II. Parasomnia, mcmnya:

    a. arousal disorder spt: confusional

     arousals, sleepwalking

    b. GG transisi tidur-bangun spt gg gerakan

     yg berirama

    c. parasomnia yg berhub dgn REM spt

     nightmare

    d. parasomnia lainnya: enuresis,

     mendengkur

III. GG Psikiatric a/ drugs:

    a. gg mental spt: psikosis, gg mood

    b. gg neurologi spt: dimensia, parkinson

    c. gg pengobatan spt: peny, obstruksi

     pulmonal kronik, nocturnal cardiac

ischemia

  • Klasifikasi GG tidur menurut:
    Association of sleep disorder centers, 1999:
  1. Disorder of initiating and maintaining sleep (DIMS)
  2. Disorder of excessive somnolence (DOES)
  3. Disorder of the sleep-wake cycle
  4. Abnormal sleep behavior, parasomnias
  • ASSESSMENT

A. Riwayat( gunakan tabel REST)

    1. Review of perception related to

         the problem

    2. Evaluateion of related factors

    3. Sleep disorder

    4. Typical daytime and nighttime

     routines

  • Review of perception related to
             the problem
  1. Ceritakan masalah tidur
  2. Sdh berapa lama
  3. Bgmn perub pola tidur terjadi
  4. Sejak kapan masalah ini muncul
  5. Apa sj peningkatan masalah tidur
  6. Apa sj penyebab susah tidur
  7. Seriuskah masalah ini?
  • Evaluation of related factors
  1. Ceritakan pola makan dlm sehari
  2. Apakah mgunakan alkohol/xanthin/caffein
  3. Apakah merokok, obat-obatan
  4. Apa nama obat u/ tidur
  5. Adakah depresi/cemas
  6. Adakah penyakit kronis
  7. Adakah nyeri, perasaan tdk nyaman
  8. Adakah faktor spesifik: perub kehidupan, perub makan, mental/fisik
  • Sleep disorder
  1. Apakah mendengkur
  2. Apakah kaki menghentak pd mlm-siang
  3. Adakah kelambanan/capek pd kaki
  4. Apakah rasa kantuk sepanjang hari
  • Typical daytime and nighttime routines

1. Ceritakan jenis aktivitas siang:

    a. sejauh mana masalah tidur mengubah

     kebiasaan sehari hari

    b. suka tidur siang? Brp sering?

     Lamanya? Kapan?

2. Ceritakan jenis kegiatan pd malam hari

    a. tidur dimana,

    b. apa yg dimakan/minum 1 jm sblm tidur

    c. kapan tidur

    d. kegiatan sblm tidur

    e. brp lama wkt u/ bs tidur

    f. brp sering terbangun, brp lama

    g. apa kegiatan yg dilakukan

    h. strategi apa agar bs tidur lagi

    i. brp jam digunakan u/ tidur,

    j. jam brp bangun pagi

  • Faktor2 penting u/ dikaji
  1. Periode lethargi, rasa kantuk,
  2. Bingung
  3. Disorientasi, rasa malas
  4. Sakit kepala
  5. Amnesia
  • Pemeriksaan fisik

U/ mengetahui:

  1. Nystagmus (pergerakan involunter bola mata)
  2. Tremor pd tangan
  3. Ptosis (penurunan kelopak mata)
  4. Peningkatan sensitivitas nyeri
  5. Perubahan mimik
  • Gejala2 lain yg perlu diidentifikasi:
  1. Fatigue, penurunan kesadaran, kelesuan, penurnan konsentrasi/kemampuan motorik, agitasi, lelah, iritabilitas
  2. Penurunan sensori: respon dr stimulus
  3. Observasi reaksi terhadap respon
  4. Kemampuan melihat dan mendengar
  • Problem keperawatan
  1. Resiko injury
  2. GG komunikasi verbal
  3. Perub proses berpikir
  4. GG mobilitas fisik
  5. Perub persepsi a/ sensori
  6. Personal hygiene
  7. Konsep diri
  8. GG pola tidur dll
  • Intervensi: GG pola tidur
  1. Review kembali persepsi terhadap masalah
  2. Evaluasi faktor yg behub dgn masalah
  3. Identifikasi kebiasaan siang/mlm
  4. Kaji kebiasaan yg mengganggu tidur
  5. Diskusikan dgn klien ttg kebutuhan stimulasi sosial
  6. Rencanakan istirahat siang hari
  7. Edukasi pd klien dan keluarga
  8. Modifikasi lingkungan
  9. Meningkatkan kemampuan fungsional
  10. Memberikan support
  11. Meningkatkan tidur
  12. Diet a/ nutrisi
  13. Penatalaksanaan obat
  • Tindakan non-spesifik u/ menginduksi tidur
  1. Bangun pd wkt yg sama setiap hari
  2. Batasi wkt ditempat tidur setiap hari
  3. Hentikan obat/stimulan lainnya
  4. Hindari tidur sekejab pd siang hari
  5. Dptkan hub fisik dgn olah raga
  6. Hindari stimulasi mlm hari
  7. Makan dgn wkt yg teratur dan hindari makan byk sblm tidur
  8. Lakukan relaksasi rutin pd malam hari
  9. perthNKn kondisi tidur yg menyenangkan

10. Tidurlah hanya sebanyak yang anda

     perlukan.

11. Miliki jadual tidur reguler

12. Jgn bekerja menjelang tidur

13. Kurangi kebisingan dan cahaya dlm

kamar dan suhu kamar dlm keadaan

     nyaman

14. Jgn tidur dlm keadaan lapar

15. Hindari melihat jam

16. Hilangkan kekwatiran sblm tidur

  • Referensi

Angela, et.al, 1996. Essentials of gerontological nursing, adaptation to the aging process, JB Lipincott, comp.

Annete, GL. 1996. Gerontological nursing, Mosby year Book, St, Louis Miss.

Prayitno. 2002. gangguan pola tidur pada kelompok usia lanjut dan penatalaksanaannya. Journal Kedokteran Trisakti, jan-April 2002, vol. 21 no. 1.

Read more...

tokoh keperawatan berkata:

Menurut Martha. E. Rogers, untuk mengadakan suatu perubahan perlu ada beberapa langkah yang ditempuh sehingga harapan dan tujuan akhir dari perubahan dapat dicapai . Langkah-langkah tersebut antara lain :
Tahap Awereness,
Tahap ini merupakan tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan diperlukan adanya kesadaran untuk berubah apabila tidak ada kesadaran untuk berubah, maka tidak mungkin tercipta suatu perubahan
Tahap Interest
Tahap yang kedua dalam mengadakan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari perubahan yang dikenalkan. Timbulnya minat akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah
Tahap Evaluasi
Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjadi hambatan yang akan ditemukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan
Tahap Trial
Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan
Tahap Adoption
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat dari sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.

banner_ku

Image and video hosting by TinyPic

Tukar Banner

Tukeran link



Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali

Image and video hosting by TinyPic

banner blog-blog lainnya

Image and video hosting by TinyPic http://bengawan.org/

among us

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP