LABIOPALATO SCHISIS

Minggu, Mei 16, 2010

A. Pengertian
Labioschizis terdiri dari dua pengertian yaitu:
1. Labioshizis (bibir sumbing) adalah suatu celah yang membentang dari bibir atas kadang- . kadang sampai lubang hidung, bisa uni-lateral atau bi-lateral
2. Palatoschizis (sumbing langit-langit mulut) adalah bagian lateral palatum gagal bertemu satu sama lain sehingga tidak terjadi pernyataan (fusi) digaris tengah, keadaan ini menimbulkan patoschizis dengan demikian rongga mulut berhubungan dengan rongga hidung.
Kelainan seperti tersebut diatas bisa terjadi Labioschizis saja atau Palatischizis saja bahkan bisa kedua-duanya. Cacat in terjadi pada minggu kelima masa gestasi (dalam kandungan).

B. Tanda dan gejala
1. Adanya celah bibir pada tulang rawan cuping hidung
2. Celah langit-langit sehingga bisa menyebabkan terjadinya aspirasi dan tidak tecukupinya pembeian makanan, kesulitan mengeluarkan kata-kata atau suara ekplosif sehingga p,b,t,d,h atau hurud berdesis sepeti s, sh, c
3. Pergerakan kedua cuping hidung pad waktu bicara ketidakmampuan bersiul berkumur-kumur meniup lilin atau meniup sebuah balon
C. Patofisiologi
1. Labioshizis
Orifisio oralis primer dimodifikasi menjadi mulut dengan hidung oleh procesus maxilaris lateralis yang terbentuk dan kemudian tumbuh kearah medial. Palatum dan bibit sebelah atas dibentuk oleh processus maxilaris yang bertemu dengan processus nasalis yang tumbuh kebawah. Kegagalan tulang maxilaris dan naasalis untuk tumbuh bersama dan menyatu menyebabkan menetapnya celah.

2. Palatoschizis
Bagian lateral dari palatum gagal bertemu processus nasalis sehingga tidak terjadi penyatuan digaris tengah. Dengan demikian rongga mulut berhubungan dengan rongga hidung. Derajat palatum yang ringan hanya mengenai palatum mole saja.

Penyebab Labioschizis dikarenakan:
1. Faktor Genetik
2. Obat-obatan (terutama Cortikosteroid)
3. Radiasi
4. Hypoxia In-Uteri
5. Penyakit ibu saat mengandung
6. Pengaruh makanan
7. Perubahan seksual karena faktor keturunan
Palatum (langit-langit) terdiri dari 2 bagian yaitu :
1. Palatum Keras
Tersusun atas tajuk-tajuk palatum dari arah depan tulang maxilaris dan dua tulang palatum.
2. Palatum lunak
Lipatan lengantung yang dapat bergerak dan tediri atas otot jaringan fibrus dan selaput lendir.

D. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dilakukan bila anak mau dilakukan tindakan medis operasi dan untuk mengetahui kelainan bila ada faktor yang mencolok.
2. Pemeriksaan radiologis

E. Manajemen terapi
Terdapat tiga tahap penanganan labiopalato schisis yaitu tahap sebelum operasi, tahap sewaktu operasi dan tahap setelah operasi. Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi menerima tindakan operasi, asupan gizi yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang dicapai dan usia yang memadai. Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat badan lebih dari 10 pounds atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr % dan usia lebih dari 10 minggu.
Ketika bayi belum mencapai rule of ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan pada orang tua agar kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah. Misalnya memberi minum harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik susu dapat memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat bayi tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup, jika dot dengan besar lubang khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi minum dengan bantuan sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak untuk menghindari masuknya susu melewati langit-langit yang terbelah. Selain itu celah pada bibir harus direkatkan dengan menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga agar celah pada bibir menjadi tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh kembang yang menyebabkan menonjolnya gusi kearah depan (protrusio pre maksila) akibat dorongan lidah pada prolabium , karena jika hal ini terjadi tindakan koreksi pada saat operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika hasil akhir yang didapat tidak sempurna. Plester non alergenik tadi harus tetap direkatkan sampai waktu operasi tiba.
Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi, pada saat ini yang diperhatikan adalah soal kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi, hal ini hanya bisa diputuskan oleh seorang ahli bedah Usia optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3 bulan Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir sudah terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi kurang sempurna. Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada usia 18 – 20 bulan mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah.
Operasi yang dilakukan sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech teraphy karena jika tidak, setelah operasi suara sengau pada saat bicara tetap terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah, sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah.. Bila gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi labiognatopalatoschizis, koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia 8 – 9 tahun bekerja sama dengan dokter gigi ahli ortodonsi
Tahap selanjutnya adalah tahap setelah operasi, penatalaksanaanya tergantung dari tiap-tiap jenis operasi yang dilakukan, biasanya dokter bedah yang menangani akan memberikan instruksi pada orang tua pasien misalnya setelah operasi bibir sumbing luka bekas operasi dibiarkan terbuka dan tetap menggunakan sendok atau dot khusus untuk memberikan minum bayi. Banyaknya penderita bibir sumbing yang datang ketika usia sudah melebihi batas usia optimal untuk operasi membuat operasi hanya untuk keperluan kosmetika saja sedangkan secara fisiologis tidak tercapai, fungsi bicara tetap terganggu seperti sengau dan lafalisasi beberapa huruf tetap tidak sempurna, tindakan speech teraphy pun tidak banyak bermanfaat

1. Prinisip-prinsip umum perbaikan
a. Labioschizis
Labioschizis sebenarnya tidak ada jaringan yang hilang, masalahnya adalah bagaimana membentuk kembali jaringan bibir yang tersedia yang ada tetapi terpisah. Insisi direncanakan untuk membentuk bibir utuh yang terlihat nomal, dan pada saat bersaman memperbaiki deformitas cuping hidung.

b. Palatoschizis
Dalam memperbaiki paltoschizis tidak perlu mendapatkan perstuan tulang, tetapi hanya memindahkan kedua dan mucoperisteum paatum ke garis tengah dan menyatukan. Tujuannya untuk meno belahan tersebut dan untuk memastikan panjang dari patahan mole untuk penutupan velofaringeal yang baik. Jika palatumnakan mencukupi tetapi pada kebanyakan kasus dipelukan suatu operasi pemanjangan palatumnya cukup panjang. Pendekatan kedua belah digaris tengah

2. Prosedur perbaikan tambahan
a. Hidung dan bibir
Mungkin diperukan perbaikan deformitas cupung hidung biasanya cacat pada pendataran cuping hidung pada sisi sumbing, mungkin diinginkan perbaikan kecil pada bagian merah bibir. Pada kasus labiochizis bilateral serta pebaikan hidung karena kulumeta hidung memendek dan ujung hidung tertarik kebawah. Dismping itu bibir atas dan maksia kurang lubang mka rotasi bagian sentral bagian bibir atas menghasilkan kemajuan nyata.
b. Palatum dan faring
Pemendekan palatum karena tidak memadainya penutup angelo faringeal yang merupakan sebab utama dari suara sengau. Pada kasus -kasus ringan cukup dengan prosedur”V-Y”. tetapi pada kebanyakan kasus pelru dilakukan opeasi “Flap aringeal” yaitu peningkatan flap mucos dan oto pada dinding faring posterior dan melekatkanya pada permukaan atas palatum mole yang telah dibedah untuk mempersiapkannya.
Komplikasi yang bisa terjadi :
1. Otitis media berulang
2. Pegeseran lengkung maksila seta mal posisi geligi
3. Kelainan bicara
4. Aspirasi
5. Respiratory distress

BAB II. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN LABIOPALATOSCHISIS
A. PENGKAJIAN
1. Pra Bedah
Pengkajian keperawatan pada pasien pra bedah, pada klie adalah adanya bibir atas dan palatum terbelah universal atau bilateral, kemudian anak tidak dapat menghisap makanan/putting susu ibu. Orang tua merasa sedih karena kelahiran anaknya yang cacat, orang tua tidak bias merawat anaknya, terjadi kesulitan bicara, deformitas gigi yang mencolok.
2. Intra bedah
Pada pengkajian data intra bedah pada klien adalah klien mengalami resiko gangguan homeostasis karena adanya tindakan anestesi, kesadaran akan menurun dan pada proses pembedahan akan terdapat resiko perdarahan.
3. Pasca Bedah
Pengkajian pada pasien pasca operasi adalah data terdapatnya luka operasi pada bgian bibir bagian atas, tangan selalu bergerak kemulut, anak tidak dapat menghisap, anak mengalami keterbatasan gerak, orang tua menyatakan tidak dapat merawatnya.

Read more...

STRUMA

A. Definisi
Struma merupakan suatu pembesaran kelenjar thyroid.

B. Klasifikasi
Secara umum stroma dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1. Struma non-toksik : struma tanpa disertai hipertiroidisme.
a. Difusa : endemic goiter, gravida
b. Nodusa : neoplasma
2. Struma toksik : struma yang disertai hipertiroidisme
a. Difusa : Grave, Tirotoksikosis primer.
b. Nodusa : Tirotoksikosis sekunder.
Dapat juga dibagi berdasarkan klasifikasi yang lain yaitu:
3. Berdasarkan banyaknya nodul
Bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter atau uninodosa. Bila lebih dari satu disebut struma multinodosa.
4. Bertdasarkan kemampuan menangkap yodium radioaktif.
Disebbut cold nodule bila tidak ada penangkapan yodium atau kurang daro sekitarnya.
Warm nodule bila penangkapan yodium sama seperti jaringan sekitarnya.
Hot nodule bila penangkapan yodium melebihi jaringan sekitarnya.
5. Berdasarkan konsistensinya
Kurang keras sampai sangat keras.
6. Berdasarkan keganasan ( Benigna/non maligna dan maligna )
Adanya keganasan pada struma nodosa nontoksik nodosa dicurigai ialah srtuma endemik atau sporadik, kita tiroid, tiroiditis, tumor tiroid ( endnoma dan karsinoma tiroid ).

C. Etiologi
1. Defisiensi Iodium, seperti pada endemic goiter, gravida.
2. Autoimun : Tiroiditas, Hashimoto.
3. Defisiensi enzyme kongenital : Dyshormonogenetis Goiter.
4. Idiopatik : Struma riedel de Quervein’s, Grave, Neoplasma.
a. Penyebab struma nodusa non toksik bermacam-macam. Pada setiap orang dapat dijumpai massa dimana pertumbuhan kebutuhan terhadap tiroksin bertambah, terutama pada masa pertumbuhan, pubertas, menstruasi, kehamilan, laktasi, menopause, infeksi dan stress lain. Pada masa-masa tersebut dapat ditemui hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid. Perubahan ini dapat menimbulkan nodularitas kelenjar tiroid serta kelainan arsitektur yang dapat berlanjut dengan berkurangnya aliran darah di daerah tersebut sehingga terjadi iskemia.
b. Adapun penyebab struma difusa toksik, walaupun etiologinya tidak diketahui tampaknya terdapat peran antibody terhadap reseptor TSH yang menyebabkan peningkatan produksi tiroid. Penyakit ini ditandai dengan peninggian penyerapan yodium radioaktif oleh kelenjar tiroid.

D. Manifestasi klinik
Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan, maka tanda dan gejala pasien struma adalah :

a. Status Generalis (umum)
1) Tekanan darah meningkat (systole)
2) Nadi meningkat
3) Mata :
- Exophtalamus
- Stellwag sign : jarang berkedip
- Von Graefe sign : palpebra mengikuti bulbus okuli waktu melihat ke bawah.
- Morbius sign : sukar konvergensi
- Jeffroy sign : tak dapat mengerutkan dahi.
- Rossenbach sign : tremor palpebra jika mata ditutup.
4) Hipertoni simpatis : kulit basah dan dingin, tremor
5) Jantung : takikardi.

b. Status Lokalis : Regio Colli Anterior.
1) Inspeksi : benjolan, warna, permukaan, bergerak waktu menelan.
2) Palpasi :
- permukaan, suhu
- Batas atas----- kartilago tiroid
- Batas bawah --- incisura jugularis
- Batas medial --- garis tengah leher
- Batas lateral --- m.sternokleidomastoid.
3) Struma kistik
- Mengenai 1 lobus
- Bulat, batas tegas, permukaan licin, sebesar kepalan.
- Kadang multilobularis.
- Fluktuasi (+)
4) Struma Nodusa
- Batas jelas
- Konsistensi : Kenyal sampai keras
- Bila keras curiga neoplasma, umumnya berupa adenocarsinoma tiroidea
5) Struma Difusa
- Batas tidak jelas
- Konsistensi biasanya kenyal, lebih kearah lembek.
6) Struma vaskulosa
- Tampak pembuluh darah (biasanya arteri), berdenyut
- Auskultasi : Bruit pada neoplasma dan struma vaskulosa
- Kelenjar getah bening : Paratracheal Jugular Vein

E. Diagnosa
1. Anamnesa
- Usia dan jenis kelamin
- Benjolan pada leher, lama dan pembesarannya.
- Gangguan menelan, suara serak (gejala penekanan), nyeri.
- Riwayat radiasi di daerah leher dan kepala.
- Asal/tempat tinggal.
- Riwayat keluarga
- Struma toksik : kurus meski banyak makan, irritable, keringat banyak, nervous, palpitasi, tidak tahan udara panas, hipertoni simpatikus (kulit basah, dingin dan tremor halus).
- Struma non toksik : gemuk, malas dan banyak tidur, ganggun pertumbuhan.
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan penunjang
a. Scanning tiroid
- Presentasi uptake dan I131 yang didistribusikan tiroid.
- Dari uptake dapat ditentukan fungsi tiroid
- Uptake normal, 15-40% dalam 24 jam.
- Hot area : uptake > normal, jarang pada neoplasma
Misal pada : struma adenomatosa, adenoma toksik, radang neoplasma.
- Cold area : uptake < normal, sering pada neoplasma. Cold area curiga ganas jika :moth eaten appearance, pada pria usia tua/anak-anak. Contoh : kista, hematoma/perdarahan, radang neoplasma. b. Ultrasonografi : untuk membedakan kelainan kistik/solid (neoplasma biasanya solid). c. Radiologik Foto leher, foto soft-tissue, foto thorak, bone scanning. d. Fungsi tiroid - BMR : (0,75 x N) + (0,74 + IN) – 72% - PB I mendekati kadar hormone tiroid, normal 4-8 mg% - Serum kolesterol meningkat pada hipertiroid (N: 150-300 mg%). - Free tiroksin index : T3/T4 - Hitung kadar FT4¬, TSH, Tiroglobulin, dan Calsitonin bila perlu. e. Potong beku f. Needle biopsy - Large Needle Cutting Biopsy : jarum besar, sering perdarahan. - Fine Needle Aspiration Biopsy : jarum no 22. g. Termografi Yaitu suatu metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu tempat dengan memakai dynamic telethermografi. Pemeriksaan khusus pada curiga keganasan. Hasilnya disebut panas apabila perbedaan panas dengan sekitarnya > 0,9°C dan dingin apabila < 0,9°C. Pada penelitian Alves dkk didapatkan bahwa pada yang ganas semua hasilnya panas. h. Petanda tumor Yang diukur adalah peninggian tiroglobulin (Tg) serum. Kadar Tg serum normal antara 1,5-3,0 mg/ml. Pada kelainan jinak rata-rata 323 ng/ml dan pada keganasan rata-rata 424 ng/ml. F. Penatalaksanaan Medis Modalitas terapi : 1. Radiasi. 2. Kemoterapi. a) Konservatif dengan Indikasi: - Toleransi operasi tidak baik - Struma yang residif - Pasien usia lanjut. b) Struma non-toksik : Iodium, ekstrak tiroid 30-20 mg/dl c) Struma toksik : Bed rest, lugol 5-10 mg 3xsehari selama 14 hari, PTU 100-200 mg 3xsehari, periksa leukosit. 3. Operatif a) Indikasi : - Curiga/pasti ganas - Timbul tanda-tanda desakan trachea/esophagus. - Struma toksik - Struma besar (kosmetik) - Struma retrosternal - Preventif b) Strumektomi Dilakukan pada stroma yang besar dan menyebabkan keluhan mekanis. Strumektomi juga diindikasikan terhadap kista tiroid yang tidak mengecil setelah dilakukan biopsy aspirasi jarum halus. Juga pada nodul panas dengan diameter > 2,5 mm karena dikhawatirkan mudah timbul hiperoidisme.
c) Terapi lain :
- L- tiroksin selama 4-5 bulan
Diberikan apabila nodul hangat lalu dilakukan pemeriksaan sidik tiroid ulang. Bila nodul mengecil maka terapi diteruskan namun apabila tidak mengecil dilakukan biopsy aspirasi/operasi.
- Biopsi aspirasi jarum halus
Dilakukan pada kista tiroid hingga nodul <10 cm

G. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
1. Cemas b.d prosedur pengobatan.
2. Nyeri (akut) b.d kerusakan jaringan (prosedur operatif)
3. Resiko infeksi
4. Gangguan menelan b.d obstruksi partial mekanik
5. Kurang pengetahuan b.d tidak mengenal sumber-sumber informasi.

Read more...

tokoh keperawatan berkata:

Menurut Martha. E. Rogers, untuk mengadakan suatu perubahan perlu ada beberapa langkah yang ditempuh sehingga harapan dan tujuan akhir dari perubahan dapat dicapai . Langkah-langkah tersebut antara lain :
Tahap Awereness,
Tahap ini merupakan tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan diperlukan adanya kesadaran untuk berubah apabila tidak ada kesadaran untuk berubah, maka tidak mungkin tercipta suatu perubahan
Tahap Interest
Tahap yang kedua dalam mengadakan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari perubahan yang dikenalkan. Timbulnya minat akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah
Tahap Evaluasi
Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjadi hambatan yang akan ditemukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan
Tahap Trial
Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan
Tahap Adoption
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat dari sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.

banner_ku

Image and video hosting by TinyPic

Tukar Banner

Tukeran link



Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali

Image and video hosting by TinyPic

banner blog-blog lainnya

Image and video hosting by TinyPic http://bengawan.org/

among us

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP