METABOLISME KARBOHIDRAT

Kamis, Januari 21, 2010

1.GLIKOLISIS
2.GLIKOGENESIS
3.GLIKOGENOLISIS
4.JALUR PENTOSA FOSFAT
5.GLUKONEOGENESIS
6.METABOLISME HEKSOSA LAINNYA
GLIKOLISIS
1. SEBAGIAN BESAR JARIN GLIKOLISIS
2. GLIKOGENESIS
3. GLIKOGENOLISIS
4. JALUR PENTOSA FOSFAT
5. GLUKONEOGENESIS
6. METABOLISME HEKSOSA LAINNYA
 organ perlu glukosa
 Otak dan eritrosit hampir semua tenaganya dari glukosa

§ Glikolisis = jalur utama penggunaan glukosa reaksi bisa erob atau anerob.

§ Oksidasi glukosa à perlu oksigen, sistem enzim mitokondria, siklus asam sitrat dan rantai respirasi

§ Glikolisis : jalur metabolisme glukosa, fruktosa dan galaktosa dari diet.

§ Glikolisis menghasilkan ATP.
Di otot (erob) à ATP >>, anerob à ATP <<  Jantung teradaptasi kondisi erob à pada iskemiaà glikolisis <<<.  Sel kanker yang tumbuh cepat à glikolisis >> siklus asam sitrat à piruvat >> à laktat (asam)
{ penyakit : enzim glikolisis defisien aktivitasnya piruvat kinase à anemia hemolitika otot skelet (fosfofruktokinase <<) à fatigue. Glikolisis anerob : { Awal penelitian : proses fermentasi ragi = pemecahan glikogen di otot { Pada kontraksi otot (anerob) à glikogen ¯, laktat { Pada kontraksi otot secara erob à laktat (piruvat sebagai hasil akhir glikolisis) à CO2 & H2O { Disimpulkan : metabolisme karbohidrat : aerob dan anerob. { Reaksi glikolisis : erob/anerob : sama, kecuali produk akhirnya (piruvat/laktat) REAKSI-REAKSI PADA GLIKOLISIS Glukosa + 2 ADP + 2 Pi à 2 L(laktat) + 2 ATP + 2 H2O  Terjadi ekstramitokondrial {sitosol heksokinase. 1. Glukosa +ATP Glukosa –6-fosfat + ADP  Di hepar : glukokinase,  Glukosa-6-fosfat : penghubung jalur metabolik - glikolisis - glukoneogenesis - jalur pentosa fosfat - glikogenesis - glikogenolisis
{ ATP : donor fosfat
Reaksi melepaskan tenaga sebagai panas ® ireversibel.
GLUKOKINASE

- aktif pada keadaan kenyang (kadar gula > 5 mmol/L).
- spesifik untuk glukosa

HEKSOKINASE : dihambat oleh produk (G-6-P)
ekstrahepatik
afinitas tinggi terhadap glukosa
aktif pada keadaan lapar
aktif pada a dan b-glukosa
aktif terhadap heksosa lain
(kec <<<) fosfoheksoseisomerase 2. G-6-P F-6-P (isomerisasi aldosa-ketosa & fosfofruktokinase 3. F-6-P + ATP F-1,6-difosfat Fosfofruktokinase : enzim alosterik inducible, irreversibel mengatur kecepatan reaksi aldolase 4. F-1,6-difosfat gliseraldehid 3-P + dihidroksiaseton-P (2 triose) inerconverted oleh enzim fosfotriose isomerase Fosfotriose isomerase 5. Gliseraldehid 3-P dihidroksiaseton-P gliseraldehid 3-fosfat DH 6. Gliseraldehid 3-P + NAD+ + Pi 1,3-DPG. + NADH + H+ 1,3-DPG = senyawa tenaga tinggi. fosfogliserat kinase. 7. 1,3-DPG + ADP 3-PG + ATP - 2 molekul triose-P/ mol glukose à 2 ATP ( fosforilasi peringkat substrat) - Jika terdapat arsenat à +1,3-DPG à 1-arsenofosfogliserat® 3-fosfogliserat + PANAS (tidak dihasilkan ATP). Di dalam eritrosit terjadi reaksi : 1,3-DPG 2,3-DPG 3-PG 2,3-DPG + hemoglobin à afinitas HbO ® oksigen dilepaskan oleh Hb di jaringan perifer. fosfogliserat mutase 8. 3-fosfogliserat 2-fosfogliserat enolase 9. 2-fosfogliserat PEP + H2O Reaksi : dehidrasi & redistribusi tenaga dlm mol. Enolase dihambat oleh fluorida. PEP : senyawa fosfat bertenaga tinggi piruvat kinase 10. PEP + ADP ATP + (enol) piruvat 11. (enol) piruvat (keto) piruvat ANEROB laktat dehidrogenase 12. Piruvat + NADH + H+ laktat + NAD+ EROB  Piruvatà mitokondriaà asetil-KoA à Siklus Krebs à CO2 + H2O  NADH dari glikolisis à mitokondria : 3 ATP ˜ Glikolisis di eritrosit (anerob) (tidak ada mitokondria) à hasil akhir laktat ˜ Serabut putih otot skelet, otot polos, eritrosit, otak, traktus gastrointestinal, medula ginjal, retina dan kulit, : energi dari glikolisis anerob.  Hepar, ginjal dan jantung : mengambil laktat à oxidasi menghasilkan laktat pada kondisi anerob. ˜Tiga langkah reaksi glikolisis : eksergonik & irreversibel dikatalisis : heksokinase (dan glukokinase) pengatur fosfofruktokinase glikolisis piruvat kinase Glukoneogenesis dikatalisis oleh enzim yang berbeda. OKSIDASI PIRUVAT à ASETIL-KoA : REAKSI IRREVERSIBEL : GLIKOLISIS à SIKLUS KREBS lSitosol : Piruvat à mitokondria à siklus asam sitrat  Piruvat à dekarboksilasi oksidatif à asetil-KoA piruvat DH kompleks. Piruvat + NAD+ + KoA Asetil-KoA + NADH + H+ + CO2 NADH à rantai respirasi à 3 ATP JALUR ENZIM YANG BEKERJA METODA PRODUKSI ATP Hs ATP GLIKOLISIS GLISERALDEHID-3-P DH FOSFOGLISERAT KINASE PIRUVAT KINASE ATP untuk rks (heksokinase & fosfofruktokinase) Rantai respirasi 2 NADH Fosforilasi tk substart Fosforilasi tk substrat 6 2 2 ----- 10 2 ----- 8 SIKLUS KREBS PIRUVAT DH ISOSITRAT DH a-KETOGLUTARAT DH SUKSINAT TIOKINASE SUKSINAT DH MALAT DH Rantai respirasi 2 NADH Rantai respirasi 2 NADH Rantai respirasi 2 NADH Fosforilasi tk substrat Rantai respirasi 2 FADH Rantai respirasi 2 NADH 6 6 6 2 4 6 ------ 30 Total ATP/mol glukosa pada kondisi Erobik Anerobik 38 2 METABOLISME GLIKOGEN Q Simpanan karbohidrat binatang. Q terutama di hepar (lebih dari 6%) dan otot (1%). Q sumber heksosa untuk glikolisis otot Q Glikogen hepar : mempertahankankadar gula darah Q Setelah 12 – 18 jam puasa glikogen hepar habis Q Glikogen otot : untuk kepentingan otot GLIKOGENOLISIS Ì Bukan langkah kebalikan glikogenesis 1) fosforilase (pembatas kecepatan reaksi) Glukosa pada ikatan (1à4) à(G-1-P) sampai 4 residu glukosa dari ikatan cabang 1à6. (C6)n + Pi à(C6)n-1 + glukosa 1-fosfat 2) glukan transferase : memindahkan trisakarida dari satu cabang ke lainnya à ikatan (1à6) terbuka. 3) debranching enzyme : Hidrolisis ikatan (1à6) à percabangan tidak ada bekerja kembali enzim fosforilase. Di otot : fosfoglukomutase Ì glukosa-1-fosfat glukosa 6-fosfat Hepar & ginjal : glukose 6-fosfatase glukosa 6-fosfat glukosa à darah GLUKONEOGENESIS DAN KONTROL GULA DARAH  Glukoneogenesis : senyawa non karbohidrat à glukosa atau glikogen. Substrat : asam amino glukogenik, asam laktat, gliserol  Terjadi jika karbohidrat dari diet tidak cukup  Fungsi glukosa : - jaringan adiposa : sumber gliserol à Lemak - mempertahankan kadar senyawa antara siklus Krebs - prekursor laktosa - sumber tenaga otot skelet pada kondisi anerob (ada lemak, ada kebutuhan basal untuk glukosa) JALUR PENTOSA FOSFAT JALUR METABOLISME HEKSOSA LAINNYA  Jalur pentosa fosfat :  jalur alternatif untuk metabolisme glukosa  tidak menghasilkan ATP mempunyai 2 fungsi : 1. Menghasilkan NADPH (sintesis reduktif : misalnya biosintesis asam lemak dan steroid) 2. Menghasilkan residu ribosa (biosintesis nukleat) Glukosa, fruktosa dan galaktosa : heksosa yang paling banyak diabsorpsi berasal dari pati, sukrosa dan laktosa. Defisiensi beberapa enzim dalam jalur pentosa fosfat à hemolisis sel darah merah Jalur : multisiklis 3 G 6-P + 6 NADP+ à 3 CO2 + 3 5-C + 6 NADPH + 6H+à 2 G-6-P + gliseraldehid-3P à glukosa 6-fosfat. a Reaksi sitosolik. a 2 fase : a. oksidatif non-reversibel à NADPH b. non-oksidatif reversibel à Ribosa (C5)  Manusia dan primata lainnya : tidak dapat mensintesis asam askorbat (tidak mempunyai enzim L-gulonolakton oksidase) Oxidasi dekarboksilasi Gulonat 3-keto-L-gulonat L-xylulosa reduksi (NADPH) Oksidasi (NAD) Aktivasi xylitol D-xylulosa xylulosa 5-P à jalur pentosa fosfat METABOLISME GALAKTOSA UNTUK SINTESIS LAKTOSA GLIKOLIPID PROTEOGLIKAN GLIKOPROTEIN Galaktosa : dari hidrolisis laktosa di usus à glukosa ( di hepar). Kemampuan hepar untuk mengubah galaktosa :tes fungsi hepar tes toleransi galaktosa.

Read more...

KOPING KELUARGA, RESIKO & KRISIS KELUARGA

STRESOR
Pencetus yang mengaktifkan proses stres.

STRES
Reaksi terhadap situasi yang menghasilkan tekanan (Burges, 1978).

ADAPTASI
Proses penyesuaian terhadap perubahan.

Stres Keluarga
Akumulasi permasalahan dalam keluarga baik meliputi fisik, emosi, maupun hub antar anggota keluarga.

Penyebab :
Perubahan aktivitas keluarga
Perubahan anggota keluarga
Perubahan waktu yg aktivitas keluarga

STRATEGI ADAPTASI
Menurut White (1974), ada 3 macam :
Mekanisme pertahanan : penyangkalan
Koping : suatu respon positif
Penguasaan : kompetensi

KRISIS KELUARGA
Sumber dan strategi adaptif tidak mampu mengatasi stresor.
Ada dua tipe :
Krisis perkembangan / maturasi
Krisis situasi

TEORI STRES DARI HILL
MODEL ABCX HILL
A : mengacu pada kejadian yang mengakibatkan ketidakseimbangan
B : sumber2 internal dan eksternal klg & dukungan sosial
C : faktor persepsi

MODEL ABCX
Menjelaskan perbedaan adaptasi keluarga dalam masa setelah kritis.
Usaha untuk menyeimbangkan tuntutan dan kemampuan yang menghasilkan beberapa tingkat adaptasi keluarga.
Model Stres Keluarga berdasarkan Konteks dari Boss
Konteks yang berbeda yang menjadi media stres adalah konteks internal dan konteks eksternal.
Konteks internal : dapat diubah meliputi psikologis, struktural (nilai-nilai keluarga), dan filosofis (keyakinan).
Konteks eksternal : tidak dapat dikontrol , termasuk tempat dan waktu.

STRESOR
Tiap individu / keluarga tidak stagnan tapi berubah –ubah setiap waktu.
Pengkajian terhadap stressor meliputi :
Sumber stresor
Pengaruh stresor terhadap anggota keluarga
Cara yang biasa digunakan dalam mengatasi stressor
Tingkat kedalaman stressor.
Waktu yang diperlukan untuk mengatasi stressor
Kemampuan mengatasi stressor

SUMBER STRESOR KELUARGA
Kontak penuh stres dari seorang anggota klg dg kekuatan di luar klg.
Kontak penuh stres seluruh klg dg kekuatan di luar klg
Stresor tradisional
Stresor situasional

TAHAP STRES & TUGAS KOPING
Periode antestres
Belajar, menabung, kompak dlm klg
Periode stres aktual
Energi terkuras, dukungan spiritual
Periode pasca stres
Untuk mengembalikan homeostastis klg, klg bersatu, dukungan klg lain.

TIPE STRATEGI KOPING KELUARGA
STRATEGI KOPING INTERNAL
STRATEGI KOPING EKSTERNAL
STRATEGI KOPING INTERNAL
Mengandalkan klp klg
Penggunaan humor
Sharing dlm klg
Mengontrol makna dr masalah (perumusan kognitif klg)
Pemecahan masalah bersama
Fleksibilitas peran
Normalisasi

STRATEGI KOPING EKSTERNAL
Mencari informasi
Jaga hub. Aktif dg komunitas
Mencari dukungan sosial
Mencari dukungan spiritual

SUMBER PENDUKUNG DALAM KELUARGA
Meliputi :
Sumber masing – masing individu,
Sense of humor
Intelegensi ( kemampuan mengatasi masalah, persepsi realistic terhadap stressor)
Self-esteem
Sistem keluarga
Cohesion ( Keutuhan keluarga )
Adaptability
Organisasi keluarga
Sumber pendukung komunitas dan dukungan social
Teman
Kemampuan sumber dalam komunitas

STRATEGI ADAPTIF DISFUNGSIONAL
Penyangkalan masalah & eksploitasi anggota klg
Penyangkalan thd klg : mitos, triangling, pseudomutualitas.
Hilangnya anggota klg
Otoritarianisme (menyerah / patuh pd yg dominan)

PENYANGKALAN MASALAH
Eksploitasi non-fisik : mengkambinghitamkan, penggunaan ancaman.
Eksploitasi emosional pasif non-fisik: pengabaian anak
Eksploitasi fisik & emosional : penyiksaan anggota klg

FAMILY TYPOLOGY
Mengacu pada dasar pola kebiasaan dalam keluarga yang menjelaskan fungsi keluaga dalam keadaan normal

HARAPAN KELUARGA - Harapan positif - Dapat mengembangkan koping yang strategis - Dapat mengatasi masalah

KOPING KELUARGA
Cara spesifik dari individu/keluarga untuk menurunkan
stressor dalam keluarga dan mengatur situasi dalam mengatasi stressor.
Hal-hal yang perlu dievaluasi :
Tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkn atau mengatasi stressor
Cara-cara mmanfaatkan sumber pendukung yang ada
Strategi mengatur situasi agar menjadi konstruktif, mudah diatur, dan dapat diterima anggota keluarga

ADAPTASI KELUARGA
Fungsi adaptasi yang baik dalam keluarga jika keluarga dapat fleksibel dalam menghadapi perubahan peran, tingkat tanggung jawab, dan pola interaksi dalam berbagai tingkatan stress dan perubahannya.
Keluarga yang mendapatkan dukungan dan konseling selama masa krisis tidak akan berkembang ke tingkat yang lebih parah atau disfungsi kronik.

Read more...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERSALINAN PRETERM

A.Pendahuluan
Setiap ibu hamil tentu menghendaki persalinan normal dan “jatuh tempo” pada saat yang tepat. Namun, karena berbagai sebab, si kecil jadi tak sabar ingin keluar, dan persalinan pun terjadi lebih cepat. Padahal, kalau janin lahir sebelum waktunya berarti pertumbuhannya juga belum sempurna. Ujung-ujungnya, kondisi bayi lemah, dan ia akan berhadapan dengan banyak masalah kesehatan.
Normalnya, persalinan terjadi setelah kehamilan berusia 40 minggu. Persalinan tergolong prematur bila berlangsung pada usia antara 20 – 37 minggu. Selain faktor belum cukup mur, kadang persalinan juga disebut prematur jika berat bayi yang lahir kurang dari 2,5 kg. Meski begitu, sebenarnya berat badan bayi lahir tidak selalu bisa dihubungkan dengan persalinan prematur. Misalnya, bayi prematur yang lahir dari ibu penderita diabetes, kadang lebih berat dibanding bayi normal. Tapi karena lahir lebih cepat, ia tetap saja menyandang masalah khas bayi prematur, seperti organ pencernaan atau paru-paru yang belum sempurna. Dalam keadaan demikian, bayi belum siap untuk hidup di luar rahim. Karenanya, ia “wajib” tinggal di kotak pemanas (inkubator) hingga cukup kuat hidup tanpa perlindungan.
Pada haid yang teratur, persalinan pretern dapat didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari hari haid pertama haid terakhir (ACOG, 1995). Di negara berkembang insidennya sekitar 7% dari seluruh persalinan. Persalinan preterm merupakan yang berbahaya karena potensial meningkatkan kematian prenatal sebesar 65% - 75%, umumnya berkaitan dengan berat lahir rendah. Berat lahir rendah dapat disebabkan oleh kelahiran preterm dan pertumbuhan janin yang terhambat. Keduanya sebaiknya dicegah karena dampaknya yang negatif, tidak hanya kematian perinatal tetapi juga moberiditas, potensi generasi akan datang, kelainan mental dan beban ekonomi bagi keluarga dan bangsa secara keseluruhan.
Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti persalinan pretern tidak diketahui bagaimana sebab dan faktor demografik diduga sebagai penyebab persalinan preterm seperti : solusio plasenta, kehamilan ganda, kelainan uterus, polihi dramnion, kelainan genital janin, ketuban pecah dini dan lain-lain. Penyebab persalinan preterm bukan tunggal tetapi multikompleks, antara lain karena infeksi. Infeksi pada kehamilan akan menyebabkan suatu respn imunologik spesifik melalui aktifasi sel limfosit B dan T dengan hasil akhir zat-zat yang menganisiasi kontraksi uterus. Terdapat makin banyak arti yang menunjukkan bahwa mungkin sepertiga kasus persalinan perterm kaitan dengan infeksi membran korioamnion.
Dari penelitian Lettieri, dkk (1993) didapati 38% persalinan peterm disebabkan akibat infeksi korionamnion. Knox dan Hoerner (1950) telah mengetahui dengan antara infeksi jalan lahir dengan kelainan prematur. Bobbit dan Ledger (1997) membuktikan infeksi amnion suibklinis seabgai penyebab kelahiran preterm dengan amniosentesis didapati bakteri patogen pada + 20% ibu yang mengalami persalinan preterm dengan ketuban utuh dan tanpa gejala klinis infeksi (Cox , 1996, Watts dkk, 1992).
Cara masuknya kunian penyebab infeksi amnion dapat sebagai berikut :
1. Melalui jalur transervikal masuk ke dalam selaput Amniokorion dan cairan amnion E. Coli dapat menembus membran korioamnion (Gyr dkk, 1994).
2. Melalui jalur transervikal ke desidua / chorionic junction pada segmen bawah rahim
3. Penetrasi langsung ke dalam jaringan serviks
4. Secara hematogen ke plasenta dan selaputnya.
5. Secara hematogen ke miometrium
Selain itu endotoksin dapat masuk ke dalam rongga amnion secara difusi tanpa kolonisasi bakteri dalam cairan amnion. Infeksi dan proses inflamasi amnion merupakan salah satu faktor yang dapat memulai kontraksi uterus dan persalinan preterm. Menurut Schwarz (1976), partus aterm diinisasi oleh aktivasi enzim phoholipase A.
Yang dapat melepaskan asasm arakidorat dari membran janin sehingga bentuk aasm arakidorat berbas yang merupakan bahan dasar sintesis prostaglandain. Baktiar dkk (1981) melaporkan sejumlah mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk menghasilkan enzim phospholipase A sehingga dapat menganisiasi terjadinya persalinan preterm. Bennet dan Elder (1992) menunjukkan bahwa mediator-mediator dapat merangsang timbulnya kontraksi uterus dan partus preterm melalui pengaruhnya terhadap biosintesis prostaglandin.
Kalau ibu termasuk golongan berisiko tinggi melahirkan prematur, cara yang dapat ditempuh adaLah memeriksakan diri secara teratur kepada dokter. Kalau selama ibu seorang pekerja keras, sebaiknya selama hamil kegiatan ibu dibatasi untuk menghindari kelelahan.Jangan bebani pikiran dengan berbagai persoalan sehingga membuat stress, hentikan kegiatan buruk seperti merokok. Hindari pula minuman beralkohol dan obat-obatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Disinyalir beberapa zat bahan kimia pada obat-obatan bisa membahayakan keselamatan bayi dalam kandungan...
Satu hal perlu diingat, sebaiknya ibu tidak melanggar anjuran dokter. Jika tidak bisa-bisa si kecil jadi tak sabar ingin segera melihat dunia, meskipun itu bisa membahayakan kesehatannya.
B. Konsep
1. Pengertian
Persalinan prematur adalah suatu proses kelahiran bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu atau sebelum 3 minggu dari waktu perkiraan persalina (dr. Suririnah).
Persalinan prematur adalah dimulainya kontraksi uterus yang teratur yang disertai pendataran atau cervik serta turunnya bayi pada wanita hamil yang lama kehamilannya kurang dari 37 minggu (kurang 259 hari) sejak hari pertama haid terakhir (dr. M. Halimi).
Pada haid yang teratur, persalinan preterm dpaat didefinisikan seabgai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (ACOG, 1995).
2. Etiologi
Kemampuan untuk memperkirakan wanita yang mana yang akan mengalami kelainan prematur, spontan dan kelahiran sangat susah karena penyebab preterm laboratorium tidak ketahui secara pasti. Dalam banyak kasus kelahiran preterm tidak diketahui meskipun demikian ada beberapa studi dilakukan selama 15 tahun dapat menunjukkan beberapa kondisi yang memungkinkan adanya kelahiran preterm (Newton et al 1970, Mamelle et al, 1984, Romero et al 1989, Klien et al, 1990) antara lain :
a. Distensi berlebihan dari uterus karena kondisi seperti poli hidroamnion
b. Anomali uterus
c. Riwayat pembedahan uterus
d. Aktivitas uterus yang muncul lebih awal
e. Infeksi maternal antara lain : bakteri uria asimtomatik
f. Kokain (kemungkinan terjadi persalinan preterm 4 kali lebih besar)
g. Merokok
h. Stress psikologis wanita pekerja dan kelelahan
3. Faktor Resiko
Tabel Resiko Kelahiran Prematur
Kelahiran Pertama Kelahiran Kedua Kelahiran Prematur selanjutnya dalam %
Tidak Prematur 4,2
Prematur 14,3
Tidak Prematur Tidak Prematur 2,6
Prematur Tidak Prematur 5,7
Tidak Prematur Prematur 9,0
Prematur Prematur 28,1
Tabel Hubungan Anomali Uterus terhadap Persalinan Prematur
Anomali Jumlah Pasien Pasien dengan Kelahiran Prematur %
Unikornus 8 37
Didelfis 17 35
Bikornus - -
Bikollis 5 80
Unikollis 66 27
Arkuata 33 18
Septum 2 4
Inkomplet 36 17
(James Rscoot)
Faktor Resiko
a. Faktor Demografi
- Kulit hitam
- Status sosial ekonomi yang rendah
- Umur saat kehamilan (<20> 40 tahun)
- TB < 159 cm dan BB < 45 kg b.
Riwayat Reproduksi yang lalu
- Kejadian aborsi sebelumnya
- BBLR sebelumnya
- Kurang dari satu tahun sejak kelahiran
c. Faktor resiko mayor
- Kelahiran preterm sebelumnya
- Kehamilan multiple
- Hidroamnion
- Dilatasi cerviks < 1 cm pada 32 minggu
- Anomali uterus - Riwayat aborsi
- Dua kali aborsi pada trimester ke 2
- Riwayat pyelonefritis
d. Status data Riwayat Medis
- Penyakit jantung dan Anemia
- ISK pada Trimester ke 3
e. Karakteristik prilaku dan lingkungan
- Kekurangan nutrisi
- Merokok (lebih dari 10 batang sehari)
- Senyawa alkohol dan obat-obatan
- Toksin
- Pekerja berat dan kelelahan
f. Obsetri pada kehamilan
- Kurang atau lambatnya prenatal care
- Kurang / penurunan BB sebelum kehamilan
- Perkembangan komplikasi kehamilan seperti demam
g. Psikososial
- Stress
- Trauma fisik
- Sikap negatif terhadap kehamilan
4. Manifestasi Klinis
a. Kontraksi uterus teratur 3 – 5 menit selama 45 detik dalam waktu sekurangnya 2 jam. b. Fase aktif meningkat, intensitas dan frekuensinya ketika pasien beraktivitas.
c. Terjadi tanda gejala mayor dan minor
d. Usia kehamilan 20 – 37 minggu
e. Taksiran berat janin sesuai usia kehamilan 20 – 37 minggu
f. Biasanya presentasi abnormal
5. Patofisiologi Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor atau minor. Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang per hari, riwayat abortus pada trimester III, riwayat abortus pada trimester 1 lebih dari 2 kali. Faktor resiko mayor ialah kehamilan multipel, hidramnion, anomali uterus, servik terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi dan iritabilitas uterus.
Pasien tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor mayor atau bila ada 2 lebih faktor resiko minor atau bila ditemukan keduanya.
6. Pencegahan
a. Pengenalan pasien berisiko
b. Pendidikan persalinan kurang bulan
c. Kenali kontraksi uterus kurang bulan sejak dini untuk mendapatkan terapi dr. OBGIN. d. Pemantauan rahim sejak dini.
e. Pemberian hormon hydroxyprogesterone caproate (dr. suririnah)
f. Diet yang tepat untuk hamil.
g. Personal higen yang baik.
h. Aktivitas dibatasi bagi ada riwayah prematur.
i. Penyakit-penyakit panas akut segera ditangani
j. Kontrol seksama kalau ada penyakit dm / toksosemia.
k. Tunda pembedahan abdomen yang elektif.
l. Tindakan yang khusus untuk
1) Gameli harus istirahat ditempat tidur sejak kehamilan 28 sampai 36 minggu
2) Fibromyoma uteri kalau ada keluhan istirahat ditempat tidur dan diberi analgesia.
3) Placenta previa istirahat total dan tranfusi darah sampai bayi ukuran viabelnya cukup 4) Inkompetensi cervik harus dijahit pada trimester II.
5) SC dilakukan sampai bayi-bayi cukup viabel
7. Penatalaksanaan Rujuk ke rumah sakit dan cari faktor penyebabnya dinilai apakah termasuk resiko rendah atau rendah :
a. Sebelum dirujuk diberi air minum sebanyak 1000 ml dilihat berhenti atau tidak kontraksi uterusnya.
b. Bila masih kontraksi beri obat fenoterol sebanyak 5 mg peroral dosis tunggal atau ritodrin 10 mg peroral dosis tunggal pilihan kedua, ibuprofen 400 mg pilihan ketiga dosis tunggal.
c. Bila menolak dirujuk pasien harus istirahat baring dan banyak minum, dan diberi beli obat fenoterol sebanyak 5 mg peroral dosis tunggal atau ritodrin 10 mg peroral, dosis tunggal pilihan kedua, ibuprofen 400 mg pilihan ketiga dosis tunggal.
d. Persalinan tidak dapat ditunda bila ada kontra indikasi mutlak (gawat janin, karioamnionitis, perdarahan anterpartum yang banyak) dan kontra indikasi relatif (gestosis, DM, pertumbuhan janin terhambat dan pembukaan serviks 4 cm).
Di Rumah Sakit
a. Hidrasi dan sedasi (pemberian cairan NaCl 0,9% / D5% / Ringer Lactat sebanyak 1 : 1 dengan morpin sulfat 8 – 12 mg im) sambil observasi ibu dan jamin
b. Kelompok Pasien menjadi 3 Pembukaan Servik terus berlangsung Tidak ada pembukaan, kontraksi berlangsung Tidak Pembukaan, Kontraksi Uterus Berkurang Kelompok I Obat tokolisis Kelompok II Obat tokolisis Kelompok III Obervasi pasien
c. Bila janin masih dalam keadaan baik beri obat tokolisis kehamilan 20 – 37 minggu permbukaan serviks kurang dari 4 cm dan selaput ketuban masih ada dengan jenis tokolisisnya beta mimetik, magnesium sulfat 4 g (200 ml MGSO 10% dalam dektrose 5% dengan tetesan 100ml/jam) etil alkohol dan glukokortikoid (deksametason 12 perhari selama 3 hari).
d. Lakukan persalinan pervaginam bila janin presentasi kepala terutama pada umur kehamilan 35 minggu lakukan SC bila syarat partus pervaginam tidak terpenuhi.
Agen Tokolitik Indikasi umum digunakan untuk :
a. Tanda-tanda kelahiran prematurd
b. Umur kehamilan > 20 minggu atau< 36 minggu
c. Kemungkinan berat janin > 500 gram atau < 2500 gram
d. Tidak ada kontra indikasi untuk melanjutkan kehamilan Kontra Indikasi Umum
a. Kehamilan < 20 minggu
b. Ruptur membran, khususnya dengan tanda-tanda infeksi
c. Perdarahan uterus yang aktif
d. Komplikasi medis maternal, seperti DM atau preeklamasi
e. Fetal distress akut atau konik
f. Anomali fetal mayor
g. Intra uterine fetal death
h. Kontra undikasi B
i. Beberapa keadaan maternal atau fetal untuk kelanjutan kehamilan
j. Kemajuan kelahiran dengan dilatasi serviks melebihi 4 cm.
Jenis Obat
1. B-Adrenergik Agonisth
a. Ritodrin (Yutopar)
1) Reaksi Memberikan efek secara khusus pada B2 reseptor dalam otot uterus memperlambat kontraksi, pada pembuluh darah menyebabkan vasodilatasi.
2) Kontra Indikasi Penyakit jantung maternal, penyakit ginjal, DM, hypertirodisme dan alergi terhadap agen obat.
3) Efek Samping Matermal Kardiovaskuler : peningkatan HR, nadi melemah Tekanan darah : peningkatan sistolik BP, penurunan diastolik BP, peningkatan cardiac output. Hyperglikemia, retensi air, edema paru, palpitasi.
4) Dosis IV Infus : 150 mg ritodrin 500 ml larutan = 0,3 mg/ml. Dimulai pada : 0,05 mg untuk 0,1 mg/menit, ditingkatkan sampai 0,05 mg/menit setiap 10 menit. Maksimum dosis yang direkomen dasikan adalah 0,35 mg/menit dan dilanjutkan IV 12 hari setelah kelahiran. Peringatan : Hanya digunakan untuk pengorbatan kelahiran prematur, resiko peningkatan oedema paru terjadi bersamaan dengan pemberian kortikoesteroid. Perawat harus mengetahui tanda dari oedema paru Tambahan :
Efek samping dan komplikasi : Sakit kepala, gugup, cemas, gelisah, nyeri, dyspnea, tachi cardi, janin, neonatal, hypoglikemia. Dosis : 30 menit sebelum IV diberikan, mulai ritodrine, oral ritodrine 18 mg setiap 2 jam selama 24 jam, 10 – 20 minggu setiap 4 – 6 jam untuk pemeliharaan
b. Terbulatalin
1) Kerja obat : sama dengan ritodrine
2) Kontra indikasi : pasien dengan asma yang lain sama dengan ritrodrine
3) Efek samping sama dengan ritodrine 4) Dosis : IV infus : 0,01 mg/mt menigkat sampai dengan 0,085 mg/mt maksimal. Oral : Dosis pemeliharaan 2,5 – 5 mg setiap 4 – 6 jam Injeksi subkutan : 0,25 mg setiap 20 – 60 menit rumusnya : Basal Rate 0,05 s/d 0,1 mg/jam
Peringatan : Kebutuhan dibanding ritrodrine lebih murah dapat diberi melalui subkutan c. Magnesium Sulfat
1) Reaksi : secara spesifik tidak diketahui penurunan aktivitas uterus ketika level semua magnesium maternal 6 – 8 mEg/L. 2)
Kontra indikasi : CSN depression, cardiac disfunction, patologi ginjal 3) Efek Samping : Maternal : dihubungkan dengan peningkatan level serum magnesium, hipertensi, depresi pernafasan, hipotonus.
Toksik magnesium : respiratiry Arrest, kolap pada sirkulasi, henti jantung. Fetal : respon disstress
4) Dosis IV infus dosis 4 – 6 gr melalui dengan pelan atau gejala toxit hilang
5) Peringatan : tanggung jawab perawat : Monitor VS setiap 5 menit selama pemberian dosis dan setiap 15 menit selama pemeliharaan Pertahankan kalsium glukonat Stop infus dan laporkan jika BP, 90/60 R < 12/mt, tidak ada refleks patela, urine output < 30 m/jam. Obat-obat yang digunakan untuk mencegah distressindrom pernafasan yaitu :
a. Corticosteroid
1. Reaksi : peningkatan produksi surfaktan pada paru janin
2. Indikasi : kelahiran preterm pada umum kehamilan 23 – 34 minggu kemungkinan hilangnya kemampuan kelahiran selama 48 jam therapi misasif tanpa resiko yang tak semestinya pada ibu dan janin.
3. Kontra indikasi : ketidakmampuan atau keterbatasan pada umum kehamilan > 34 minggu L : S perbandingan > 2 minggu
4. Efek Samping : Maternal dapat meningkatkan efek yang tidak diiinginkan pada DM Preeklamsia, peningkatan resiko infeksi, lambatnya penyembuhan pada luka SC.
Fetal/Neoantal : tidak ada laporan yang serius tentang efek samping tetapi efek jangka panjang tidak diketahui.
5. Dosis : 12 mg IM, diulaang pada 12 – 24 jam x 1,6 mg IM, diulang dalam 12 –24 jam x 1 diulang setiap minggu 6 mg IM sampai L : S rasio : 2 : 1 3/4 minggu efek yang terlihat akan pindah / hilang, puncaknya pada 48 jam dan kemungkinan hilang dalam waktu 1 minggu.
6. Peringatan : gunakan dengan agen tokalitik untuk menurunkan resiko peningkatan oedema pulmunal. FDA tidak disetujui digunakan pada potensial terjadinya bahaya dan kontroversi.

8. Prognosis
a. Prematuritas merupakan faktor kematian yang terkait mortalitas dan morbiditas sebagian bayi meninggal pada 28 hari pertama mempunyai bobot kurang dari 2500 g saat lahir.
b. Anoksia 12 kali lebih sering pada bayi yang baru lahir.
c. Gangguan respirasi menyebabkan 44% bayi meningggal pada bayi kurang 1 bulan jika bayi kurang dari 1000 g angka kematian sebesar 74%.
d. Rentan terhadap kompresi kepala karena lunaknya tulang tengkorak dan immaturitas jaringan otak.
e. Perdarahan intra cranial 5x lebih sering
f. Cerebral Palsy
g. Prognosis untuk kesehatan fisik dan intelektual bayi belum diketahui dengan pasti tampaknya insiden kerusakan otak organik otak lebih tinggi pada bayi prematur.

9. Persalinan Preterm / Pencegahan Kelahiran Preterm
Kelahiran dalam 2 minggu dari tanggal melahirkan yang diperkirakan, diinginkan oleh baik wanita hamil dan profesional kesehatan. Persalinan preterm merujuk pada persalinan yang terjadi setelah janin telah mencapai periode viabilitas (sedikitnya 20 minggu gestasi tetapi sebelum selesai minggu ke-37). Menunggu kelahiran sampai term mungkin dikontraindikasikan bila resiko bagi klien atau janin lebih berat daripada resiko melahirkan bayi preterm.

C. Asuhan Keperawatan

Pengkajian Data Dasar Klien
Catatan : etiologi tidak diketahui pada 70-80% kasus, ketuban pecah dini (KPD) terjadi pada sisa 20 – 30%.

Sirkulasi
Hipertensi, edema patologis (tanda hipertensi karena kehamilan [HKK]).
Penyakit jantung sebelumnya.

Integritas Ego
Adanya ansietas sedang

Makanan / Cairan
Ketidakadekuatan atau penambahan berat badan berlebihan.

Nyeri / Ketidaknyamanan
Kontraksi intermiten sampai reguler yang jaraknya kurang dari 10 menit selama paling sedikit 30 detik dalam 30 – 60 menit.
Pernafasan
Mungkin perokok berat (> 10 rokok/hari)

Keamanan
Infeksi mungkin ada (misalnya : infeksi saluran kemih dan atau atau infeksi vagina)

Seksualitas
Tulang servikal dilatasi
Perdarahan mungkin terlihat
Membran mungkin ruptur (KPD)
Perdarahan trimester III.
Aborsi sebelumnya, persalinan / melahirkan preterm, riwayat biopsi konus
Uterus mungkin distensi berlebihan, karena hiramnion, makrosomia atau gestasi multipel.

Interaksi Sosial
Mungkin kelas sosioekonoi rendah

Penyuluhan / Pembelajaran
Ketidakadekuatan atau tidak anya perawatan pranatal
Mungkin dibawah usia 18 atau lebih dari 40 tahun
Penggunaan alkohol / obat lain, pemajanan pada diestilstilbesterol (DES).

Pemeriksan Diagnostik
Ultrasonografi : Pengkajian gestasi (dengan berat badan janin 500 sampai 2.499 gram).
Tes Nitrazin : Menetukan KPD
Jumlah sel daerah putih : Peningkatan menandakan adanya infeksi
Urinalisis dan kultur : Mengesampingkan ISK
Kultul vaginal, reagen plasma cepat (RPC) : Mengindenfikasi infeksi.
Amniositensis : Rasio lesitin terhadap stingomielen (L/S) mendeteksi fosfati digliserol (PG) untuk meturitas paru janin, atau infeksi amniotik.
Pemantauan elektronik : Memvalidasi aktivitas uterus / status janin.

Prioritas Keperawatan
1. Memasikan kondisi ibu adanya persalinan dan kesejahteraan janin.
2. Membantu upaya untuk mempertahakan kehamilan, bila mungkin
3. Mencegah komplikasi
4. Memberikan dukungan emosi
5. Memberikan informasi yang perlu

Tujuan Pulang
1. Penghentian kontraksi uterus.
2. Bebas komplikasi dan atau efek yang tidak diinginkan
3. Menerima situasi dengan cara positif
4. Memahami tanda preterm persalinan / komplikasi dan terapi yang dibutuhkan

Potensial Komplikasi (Masalah Kolaborasi)
- PK : Persalinan preterm bayi, edema pulmonary (sekunder dari medikasi tokolitik)
- PK dari terapi magnesium sulfat : keracunan magenesium.

Diagnosa Keperawatan
- Kecemasan berhubungan dengan faktor : hasil kehamilan, efek samping tokolitik, kekurangan waktu untuk mempersiapkan persalinan atau perawatan bayi dan krisis situasional, ancaman yang dirasakan atau aktual pada diri dan janin.
- Aktifitas pengalihan yang tidak sempurna berhubungan dengan faktor : tirah baring yang lama.
- Proses keluarga terganggu berhubungan dengan faktor : penyakit atau ketidakmampuan anggota keluarga, perubahan dalam aturan keluarga, kekurangan suport sistem yang adekuat, perlakuan tirah baring.
- Ketakutan berhubungan dengan faktor : kemungkinan persalinan dan kelahiran awal.
- Pemeliharaan rumah terganggu berhubungan dengan faktor : support sistem yang tidak adekuat, perlakuan tirah baring.
- Manajemen regimen tetapi tidak efektif berhubungan dengan faktor : defisit pengetahuan, tuntutan berlebihan yang dibuat individu atau keluarga, defisit support sosial.
- Nausea berhubungan dengan faktor : efek samping pengobatan tokolitik.
- Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan faktor : efek samping magnesium sulfat.
- Ketidakberdayaan berhubungan dengan komplikasi penanganan kehamilan, kekurangan dalam perbaikan meskipun mengikuti regimen pengobatan dan tirah baring.
- Harga diri rendah (kronis, situasional) berhubungan dengan faktor : tidak berharap untuk kelahiran anak, ketidakmampuan menyelesaikan tugas seperti biasa.
- Disfungsi seksual berhubungan dengan faktor : retriksi yang muncul karena pengobatan, takut menyakiti janin, takut menyebabkan kontraksi uterus.
- Gangguan pola tidur berhubungan dengan faktor : moitoring dan frekuensi pengobatan.
- Intoleransi aktifitas berhubungan dengan hipersensitivitas otot/seluler.
- Resiko tinggi cedera pada janin berhubungan dengan : melahirkan bayi preterm/tidak matur.
- Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai persalinan preterm, kebutuhan tindakan dan prognosis berhubungan dengan kesalahan interprestasi atau kurang informasi.

Dx Prioritas Masalah
1. Kecemasan berhubungan dengan persalinan preterm ditandai dengan :
- Takut - Kewaspadaan meningkat
- Gugup - Stressor
- Kawatir - Gelisah
NOC : Kecemasan klien berkurang (secara verbal)
- Klien mengungkapkan kesiapannya menjalani proses persalinannya.
- Klien dapat mengontrol kecemasannya untuk mengurangi perasaan kawatir dan ketegangannya.
- Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang efektif dalam mengatasi cemas dan stresornya.
- Klien tidak lagi menunjukkan tingkah laku kecemasan pada dirinya.
NIC :
- Kaji tingkat kecemasan klien dan reaksi fisik terhadap cemas (seperti : takikardi).
- Jelaskan tentang prosedur kegiatan dan masalah yang melibatkan klien, selama dalam prosedur, gunakan istilah umum dan tenang serta bicara pelan.
- Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan yang mengindikasikan intervensi.
- Berikan informasi yang factual/akurat tentang dukung klien menginterprestasikan gejala kecemasan suatu hal yang normal.
- Instruksikan klien koping sebelumnya digunakan oleh klien untuk mengatasi kecemasannya.
- Instruksikan klien menggunakan teknik relaksasi.
2. Nausea berhubungan dengan efek samping pengobatan tokolitik ditandai dengan :
- Rasa mual - Peningkatan saliva
- Perasaan tidak nyaman - Rasa sakit pada perut
- Stimulasi visual tidak mengenakkan
NOC :
- Mual dapat teratasi/berkurang.
- Klien dapat mempertahankan status nutrisi secara adekuat (pemalsuan makanan dan minuman).
- Klien dapat mendemonstrasikan gejala nausea dengan dibuktikan indikator-indikator berikut (membahayakan dengan ketentuan 1-5 yaitu : berat, sedang, ringan, substansial, tidak membahayakan) dengan melihat intensitanya, frekuensi dari gejala yang timbul.
NIC :
- Monitor gejala subyektif pada mual yang ditimbulkan klien.
- Observasi keadaan umum klien.
- Monitor status hidrasi klien dengan : (pada kekuatan Nadi, TD).
- Identifikasi faktor yang mengkonstribusi beratnya gejala nausea yang ditimbulkan (misalnya obat-obatan, demam, stress, anjuran pengobatan).
- Kaji orientasi terhadap orang, tempat dan waktu.
- Pertahankan keakuratan catatan terhadap pemasukan dan pengeluaran.
- Monitor hasil lab yang relevan dengan keseimbangan cairan (BUN, albumin, protein total, osmolaritas).
- Anjurkan klien untuk mengkonfirmasi bila muncul gejala nausea, rasa ingin muntah.
3. Resiko injuri (pada bayi dan janin) berhubungan dengan persalinan preterm
NOC :
- Klien mampu mengurangi atau menghilangkan ancaman injuri pada ibu dan janinnya.
NIC :
- Tinjau ulang riwayat persalinan, awitan dan durasi.
- Kaji pola kontraksi uterus secara manual atau elektronik.
- Evaluasi tingkat keletihan yang menyertai serta aktivitas dan istirahat, sebelum awitan persalinan.
- Catat penonjolan, posisi janin presentasi janin dengan maneuver leopold dan tinjau ulang hasil USG.
- Sediakan kotak peralatan kedaruratan.
- Kaji DJJ secara manual atau elektronik.
- Siapkan untuk metode melahirkan yang paling aman lengkap dengan perawatan bayi resiko tinggi.
4. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas organ pernapasan ditandai dengan :
- Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi - Dypnea
- Penurunan pertukaran udara permenit - Napas pendek
- Tahap ekspirasi berlangsung lama - Tampak sianosis
NOC :
- Suara napas bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu.
- Irama napas, frekuensi pernapasan dalam rentang normal tidak ada suara napas abnormal.
- Tanda-tanda vital normal : Nadi : 120x/menit, R : 30x/menit
NIC :
- Bersihkan mulut, hidung dan keluarkan secret dengan suction
- Auskultasi suara napas, catat adanya suara tambahan.
- Monitor respirasi dan status oxigennya
- Pertahankan jalan napas
- Monitor aliran oxygen
- Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
- Monitor Nadi, pernapasan klien
- Monitor frekuensi, irama pernapasan, dan suara paru
- Monitor pola pernapasan abnormal
- Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit, serta sianosis perifer

Read more...

FARMAKOLOGI OBAT

1.Piracetam 3 g/15ml Injeksi
Indikasi:
Untuk pengobatan infark serebral.
Dosis:
Dosis lazim 1 g, 3 kali sehari secara intravena.
Kelompok Bersihan Kreatinin (ml/menit) Dosis dan Frekuensi
Normal > 80 Dosis lazim harian, 2-4 sub dosis
Ringan 50-79 2/3 lazim harian, 2 atau 3 sub dosis
Sedang 30-49 1/3 lazim harian, 2 atau sub dosis
Berat < 30 1/6 dosis lazim harian, dosis tunggal
Paket:
Kotak berisi 4 ampul @ 15 ml

2.Tramadol 50 mg Tab
Deskripsi:
Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat.
Tramadol mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem syaraf pusat sehingga memblok sensasi rasa nyeri dan respon terhadap nyeri. Disamping itu tramadol menghambat pelepasan neurotransmitter dari syaraf aferen yang sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat.
Komposisi:
Tiap kapsul mengandung 50 mg tramadol hydrochloride.
Indikasi:
Efektif untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, termasuk nyeri pasca pembedahan, nyeri akibat tindakan diagnostik.
Dosis:
Terapi oral
Dewasa dan anak di atas 14 tahun.
Dosis umum:
dosis tunggal 50 mg. Dosis tersebut biasanya cukup untuk meredakan nyeri, apabila masih terasa nyeri dapat ditambahkan 50 mg setelah selang waktu 30 – 60 menit.
Dosis maksimum:
400 mg sehari.
Dosis sangat tergantung pada intensitas rasa nyeri yang diderita.
Penderita gangguan hati dan ginjal dengan klirens kreatinin < 30 ml/menit:
50 – 100 mg setiap 12 jam, maksimum 200 mg sehari.
Terapi parenteral
Dosis yang diberikan sebaiknya disesuaikan dengan intensitas rasa nyeri. Bila tidak ada petunjuk lain dari dokter, dosis yang diberikan adalah sebagai berikut :
Dewasa atau anak di atas 14 tahun :
i.v.: 100 mg (1 ampul), diinjeksikan secara lambat atau dilarutkan dalam larutan infus, kemudian diinfuskan.
i.m.: 100 mg (1 ampul)
subkutan: 100 mg (1 ampul)
Dosis tersebut biasanya cukup untuk meredakan nyeri. Bila masih terasa nyeri, dapat ditambahkan 1 kapsul tramadol 50 mg atau 50 mg tramadol injeksi (1 ml) setelah selang waktu 30 – 60 menit. Pada penderita gangguan fungsi hati atau ginjal, perlu dilakukan penyesuaian dosis. Dosis maksimum 400 mg/sehari.
Kemasan:
Kotak 50

3.Erythromycin 200 mg/5 ml (kering)
Deskripsi:
Eritromisina termasuk golongan makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis protein bakteri, bersifat bakteriostatik atau bakterisid, tergantung dari jenis bakteri dan kadarnya dalam darah. Eritromisina efektif terhadap kuman gram-positif seperti S. aureus (baik yang menghasilkan penisillinase maupun tidak), Streptococcus group A, Enterococcus, C. diphtheriae dan Pneumococcus. Juga efektif terhadap kuman gram-negatif seperti Neisseria, H. influenzae, B. pertusis, Brucella juga terhadap Riketsia, Treponema dan M. pneumoniae. Resistensi silang dapat terjadi antar berbagai antibiotika golongan makrolida.
Komposisi:
Tiap 5 ml suspensi mengandung eritromisina etilsuksinat setara dengan eritromisina 200 mg
Indikasi:
Untuk mencegah infeksi saluran nafas bagian atas terutama yang disebabkan oleh kuman S. pyogenes (streptokokus grup A beta-hemolitik).
Dosis:
Dewasa:
sehari empat kali 250 – 500 mg
Anak – anak:
sehari 30 – 50 mg/kg berat badan dalam 4 dosis terbagi. Pemberian dalam keadaan perut kosong. Untuk infeksi berat 4 gram sehari yang terbagi dalam beberapa dosis. Untuk infeksi karena streptokokus grup A, terapi paling sedikit harus 10 hari.
Kemasan:
Btl 60 ml

4.Inazol
Deskripsi:
Lansoprazol adalah penghambat sekresi asam lambung yang efektif. Lansoprazol secara spesifik menghambat (H+/K+) ATPase (pompa proton) dari sel parietal di mukosa lambung.
Komposisi:
Tiap kapsul mengandung 30 mg lansoprazol.
Indikasi:
Inazol diindikasikan untuk :
Ulkus duodenum.
Benigna ulkus gaster.
Refluks esofagitis.
Dosis:
Ulkus duodenum : 1 kali sehari 30 mg selama 4 minggu.
Benigna ulkus gaster : 1 kali sehari 30 mg selama 8 minggu.
Refluks esofagitis : 1 kali sehari 30 mg selama 4 minggu.
Cara Pemberian:
Inazol diberikan 1 kali sehari. Untuk mencapai efek penghambatan asam yang optimal dan kesembuhan yang cepat dan hilangnya gejala-gejala, Inazol� sebaiknya diberikan pagi hari sebelum makan.
Pengobatan jangka panjang dengan Inazol� tidak dianjurkan pada saat ini karena pengalaman klinis terbatas.
Orang tua� : Tidak perlu penyesuaian dosis. Dosis 1 kali sehari 30 mg.
Anak-anak : Tidak ada pengalaman pemberian Inazol� pada anak-anak.
Lansoprazol dimetabolisme di hati.
Pada penderita penyakit hati, tidak perlu penyesuaian dosis, dosis tidak boleh melebihi 30 mg sehari.
Tidak perlu mengubah dosis pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
Kemasan:
Kotak 2 blister @ 10 kapsul

5.Urispas 200
Deskripsi:
Flavoxate hidroklorida merupakan derivat flavone yang secara langsung bekerja sebagai spasmolitik pada otot polos saluran kemih.
Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung flavoxate hidroklorida 200 mg.
Indikasi:
Urispas digunakan untuk mengurangi gejala-gejala akibat gangguan saluran kemih seperti dysuria, urgency, nocturia, suprapubic pain, frequency dan incontinence yang terjadi pada penderita cystitis, prostatitis, urethritis, urethrocystitis dan urethrotrigonitis.
Dosis:
Dewasa dan anak diatas 12 tahun: 200 mg, sehari 3 - 4 kali. Dosis diturunkan sejalan dengan berkurangnya gejala.
Kemasan:
Kotak 30

6.Amoxicillin 125 mg/5 ml Sirker
Deskripsi:
Amoksisilina merupakan senyawa penisilina semi sintetik dengan aktivitas antibakteri spektrum luas yang bersifat bakterisid. Aktivitasnya mirip dengan ampisilina, efektif terhadap sebagian besar bakteri gram-positif dan beberapa gram-negatif yang patogen. Bakteri patogen yang sensitif terhadap amoksisilina adalah Staphylococci, Streptococci, Enterococci, S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H. influenzae, E. coli, dan P. mirabilis.
Amoksisilina kurang efektif terhadap spesies Shigella dan bakteri penghasil beta-laktamase.
Komposisi:
Tiap sendok teh (5 ml) suspensi mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 125 mg.
Indikasi:
Amoksisilina efektif terhadap penyakit :
Infeksi saluran pernafasan kronik dan akut: pneumonia, faringitis (tidak untuk faringitis gonore), bronkitis, laringitis.
Infeksi saluran cerna: disentri basiler.
Infeksi saluran kemih : gonore tidak terkomplikasi, uretritis, sistitis, pielonefritis.
Infeksi lain : septikemia, endokarditis.
Dosis:
Dosis amoksisilina disesuaikan dengan jenis dan beratnya infeksi.
Anak dengan berat badan kurang dari 20 kg : 20 - 40 mg/kg berat badan sehari, terbagi dalam 3 dosis.
Dewasa atau anak dengan berat badan lebih dari 20 kg: 250 - 500 mg sehari, sebelum makan.
Gonore yang tidak terkomplikasi: amoksisilina 3 gram dengan probenesid 1 gram sebagai dosis tunggal.
Kemasan:
Btl 60 ml...

7.Inciflox
Deskripsi:
Siprofloksasin merupakan antibiotik golongan fluorokuinolon, bekerja dengan cara mempengaruhi enzim DNA gyrase bakteri.
Siprofloksasin merupakan antibiotik untuk bakteri gram negatif dan gram positif yang sensitif.
Bakteri gram positif yang sensitif : Enterococcus faecallis, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus piogenes.
Bakteri gram negatif yang sensitif : Campylobacter jejuni, Citrobacter diversus, Citrobacter freundii, Enterobacter cloacae, Escherihia coli, Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Morganella morganii, Neisseria gonorrheae, Proteus mirabilis, Proteus vulgaris, Providencia rettgeri, Providencia stuartii, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, Serratia marensens, Shigella flexneri, Shigella sonnei.
Komposisi:
Tiap tablet salut selaput Inciflox� mengandung siprofloksasin hidroklorida setara dengan siprofloksasin 500 mg.
Indikasi:
Untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap siprofloksasin seperti :
Infeksi saluran kemih termasuk prostatitis
Uretritis dan servisitis gonorhae
Infeksi saluran cerna, termasuk demam tifoid yang disebabkan oleh S. thypi.
Khasiat siprofloksasin untuk eradikasi ”chronic thypoid carrier” belum diketahui.
Infeksi saluran nafas, kecuali pneumonia akibat streptococcus.
Infeksi kulit dan jaringan lunak
Infeksi tulang dan sendi
Dosis:
Infeksi ringan/sedang saluran kemih: 2 x 250 mg sehari
Infeksi berat saluran kemih: 2 x 500 mg sehari
Infeksi ringan/sedang saluran nafas, tulang, sendi, kulit dan jaringan lunak: 2 x 250 – 500 mg sehari
Infeksi berat saluran nafas, tulang, sendi, kulit dan jaringan lunak: 2 x 500 - 750 mg sehari
Prostatis kronis: 2 x 500 mg
Infeksi saluran cerna: 2 x 500 mg sehari
Gonore akut: 250 mg dosis tunggal
Untuk mencapai kadar yang adekuat pada osteomyelitis akut, dosis tidak boleh kurang dari 2 x 750 mg sehari.
Lama pengobatan tergantung beratnya infeksi, kemajuan klinis dan bakteriologis.
Untuk infeksi akut, lama pengobatan biasanya 5 – 10 hari. Pada umumnya pengobatan harus diteruskan sampai minimal 3 hari setelah gejala klinis hilang.

8.Insetron Tab 8 mg
Deskripsi:
Ondansetron adalah suatu antagonis reseptor 5HT3 yang bekerja secara selektif dan kompetitif dalam mencegah maupun mengatasi mual dan muntah akibat pengobatan dengan sitostatika dan radioterapi.
Komposisi:
Insetron 8, tiap tablet salut selaput mengandung ondansetron hydrochloride setara dengan 8 mg ondansetron.
Indikasi:
Penanggulangan mual dan muntah karena kemoterapi dan radioterapi serta operasi.
Dosis:
Pencegahan mual dan muntah pasca bedah :
Dosis pertama : 8 mg, tablet diberikan 1 jam sebelum pembiusan dilanjutkan pemberian 2 dosis berikutnya 8 mg tablet dengan interval waktu masing-masing 8 jam.
Atau 4 mg injeksi i.m. sebagai dosis tunggal atau injeksi i.v. secara perlahan.
Pencegahan mual dan muntah karena kemoterapi
Dewasa:
Kemoterapi yang sangat emetogenik, misalnya cisplatin. Mula-mula diberikan injeksi 8 mg ondansetron i.v. secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan infus 1 mg ondansetron/jam selama terus-menerus selama kurang dari 24 jam atau 2 injeksi 8 mg i.v. secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit dengan selang waktu 4 jam. Atau bisa juga diikuti dengan pemberian 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari.
Kemoterapi yang kurang emetogenik, misalnya siklospamid. Injeksi i.v. 8 mg ondansetron secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari.
Mual dan muntah karena radioterapi:
Tablet 8 mg, 3 kali sehari dimulai 1 – 2 jam sebelum radioterapi.
Lama pengobatan tergantung panjangnya radioterapi.
Anak-anak > 4 tahun:
5 mg/ml secara i.v. selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan memberikan 4 mg peroral tiap 12 jam selama kurang dari 5 hari.
Usia lanjut:
Ondansetron dapat ditoleransi dengan baik pada penderita usia diatas 65 tahun tanpa mengubah dosis, frekuensi, ataupun cara pemberian.
Penderita dengan gangguan fungsi ginjal :
Tidak memerlukan penyesuaian dosis harian, frekuensi ataupun cara pemberian.
Penderita dengan gangguan fungsi hati:
Dosis total harian tidak boleh lebih dari 8 mg.
Kemasan:
Dus, 2 strip @ 6 tablet

9.Parasetamol 120 mg/5 ml
Deskripsi:
Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik / analgesik. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Sifat analgesik Parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Sifat antiinflamasinya sangat lemah sehingga tidak digunakan sebagai antirematik.
Pada penggunaan per oral Parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60 menit setelah pemberian. Parasetamol diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan dan sebagian besar dalam bentuk terkonyugasi.
Komposisi:
Tiap sendok teh (5ml) sirup mengandung Parasetamol 120 mg.
Indikasi:
Sebagai antipiretik/analgesik, termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal. Sebagai analgesik, misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot. Serta menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi.
Dosis:
Dibawah 1 tahun:
� - 1 sendok teh atau 60–120 mg, tiap 4-6 jam.
1 - 5 tahun:
1 - 2 sendok teh atau 120–250 mg, tiap 4-6 jam.
6 - 12 tahun:
2 - 4 sendok teh atau 250–500 mg, tiap 4-6 jam.
Diatas 12 tahun:
� - 1 g tiap 4 jam, maksimum 4 g sehari.
Kemasan:
Btl 60 ml

10.Ondansetron 4 mg/2 ml Inj
Deskripsi:
Ondansetron suatu antagonis reseptor 5HT3 yang bekerja secara selektif dan kompetitif dalam mencegah maupun mengatasi mual dan muntah akibat pengobatan dengan sitostatika dan radioterapi.
Komposisi:
Tiap 4 ml injeksi mengandung ondansetron hydrochloride setara dengan 8 mg ondansetron.
Indikasi:
Penanggulangan mual dan muntah karena kemoterapi dan radioterapi serta operasi.
Dosis:
Pencegahan mual dan muntah pasca bedah:
4 mg/i.m. sebagai dosis tunggal atau injeksi i.v. secara perlahan.
Pencegahan mual dan muntah karena kemoterapi.
Dewasa
Kemoterapi yang sangat emetogenik, misalnya cisplatin. Mula-mula diberikan injeksi 8 mg ondansetron i.v. secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan infus 1 mg ondansetron/jam selama terus-menerus selama kurang dari 24 jam atau 2 injeksi 8 mg i.v. secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit dengan selang waktu 4 jam. Atau bisa juga diikuti dengan pemberian 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari.
Kemoterapi yang kurang emetogenik, misalnya siklospamid. Injeksi i.v. 8 mg ondansetron secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari.
Anak-anak > 4 tahun:
5 mg/ml secara i.v. selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan memberikan 4 mg peroral tiap 12 jam selama kurang dari 5 hari.
Usia lanjut:
Ondansetron dapat ditoleransi dengan baik pada penderita usia diatas 65 tahun tanpa mengubah dosis, frekuensi, ataupun cara pemberian.
Penderita dengan gangguan fungsi ginjal:
Tidak memerlukan penyesuaian dosis harian, frekuensi ataupun cara pemberian.
Penderita dengan gangguan fungsi hati:
Dosis total harian tidak boleh lebih dari 8 mg.
Kemasan:
Ktk 5

11.Vermic
Komposisi:
Tiap 5 ml suspensi mengandung albendazole 200 mg
Indikasi:
Albendazole berkasiat membasmi cacing parasit yang terdapat dalam usus yang hidup sebagai parasit tunggal atau mejemuk albendazole efektif untuk pengobatan:
1. Cacing gelang (Ascaris lumbricoides)
2. Cacing cambuk (Trichuris trichuria)
3. Cacing kremi (Enterobius vermicularis)
4. Cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus
Cacing pita (Taenia sp)
5. Strongyloides strecoralis
Dosis:
Dewasa dan anak di atas 12 tahun : sehari 10 ml suspensi, diberikan sekaligus sebagi dosis tunggal
Pada kasus dimana diduga atau terbukti adanya penyakit cacing pita atau Strongyloides: maka dosis dengan 10 ml suspensi setiap hari harus diberikan selama 3 hari berturut-turut
Perhatian
Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan hati
Jangan diberikan kepada ibu menyusui
Sebaiknya tidak diberikan pada anak-anak di bawah umur 2 tahun
Kemasan:
Vermic 200 mg/5ml, botol 10 ml suspensi

Read more...

tokoh keperawatan berkata:

Menurut Martha. E. Rogers, untuk mengadakan suatu perubahan perlu ada beberapa langkah yang ditempuh sehingga harapan dan tujuan akhir dari perubahan dapat dicapai . Langkah-langkah tersebut antara lain :
Tahap Awereness,
Tahap ini merupakan tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan diperlukan adanya kesadaran untuk berubah apabila tidak ada kesadaran untuk berubah, maka tidak mungkin tercipta suatu perubahan
Tahap Interest
Tahap yang kedua dalam mengadakan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari perubahan yang dikenalkan. Timbulnya minat akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah
Tahap Evaluasi
Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjadi hambatan yang akan ditemukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan
Tahap Trial
Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan
Tahap Adoption
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat dari sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.

banner_ku

Image and video hosting by TinyPic

Tukar Banner

Tukeran link



Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali

Image and video hosting by TinyPic

banner blog-blog lainnya

Image and video hosting by TinyPic http://bengawan.org/

among us

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP