24 wajah billy

Minggu, Januari 24, 2010


Anda pernah mendengar tentang kisah 24 wajah Billy???. Sebagian diantara kita mungkin pernah membaca buku yang pernah menjadi best seller di Amerika. Jika anda belum mengetahui sama sekali, disini akan saya sadurkan cerita dari Billy, dan apa yang dimaksud dengan 24 wajah Billy itu.KEPRIBADIAN ganda, hingga kini masih menjadi rahasia terbesar dunia psikiatri. Teori ilmiah yang dicoba dirangkai untuk menjelaskan fenomena ini sering kali berbenturan dengan fakta di luar jangkauan akal sehat. 24 Wajah Billy telah mengguncang Amerika, bukan hanya di kalangan ilmujiwa melainkan juga masyarakat awam. Kisah kriminal yang dilakukan pria dengan 24 kepribadian ini serta politisasi proses penyembuhan Billy menjadi nilai tambah yang tidak diperoleh dalam Sybil. Kisah Billy, pemuda sekaligus pemudi, orang dewasa sekaligus anak-anak yang terjebak dalam satu tubuh ini jelas akan memberikan pencerahan buat masyarakat awam maupun ahli ilmu jiwa di negeri ini. Kisah nyata Billy dengan beragam konflik dan penistaan yang dialaminya, diangkat apik oleh Keyes. Sehingga, beberapa adegan kontroversial yang dilakukan Billy tetap dapat disimak tanpa menimbulkan rasa jengah. Pengemasan yang cerdas membuat kalimat yang terurai mudah dipahami namun tetap sarat makna. Langkah Qanita menerjemahkan buku ini dan melemparkannya pada publik pada Juli lalu, bisa saja menjadi sumber inspirasi kalangan ahli maupun penulis ilmiah populer di Indonesia untuk mengangkat fenomena langka ini. Qanita pernah sukses ketika menerbitkan kisah Torey Hayden, guru asal Amerika Serikat (AS) yang mencuat karena kiprahnya dalam menangani anak- anak berkebutuhan khusus. Tak lama setelah seri Torey Hayden menangguk sukses di Indonesia, Qanita berhasil menggiring seorang ibu berputra anak autisme menerbitkan kisah hidupnya ke khalayak.

24 Alter ego
Kisah nyata Billy jelas akan menyedot konsentrasi, karena lompatan 24 nama tokoh alter ego bisa timbul tiba-tiba, kapan pun, di mana pun. Namun, lebih jauh dari itu, kisah Billy sang psikotis yang piawai melukis ini telah menyeret realitas kehidupan sosial negara adidaya dengan segala implikasinya. Billy lahir dan dibesarkan dalam keluarga submarginal yang terseok-seok bertahan dalam tekanan ekonomi dan liberalisme budaya. Keadaan makin buruk bagi Billy ketika ia menjadi korban perilaku seksual menyimpang
saat usianya masih sangat belia. Tarik ulur politis yang kerap menghambat penyembuhan Billy kian menguatkan kenyataan bahwa sesempurna apa pun sistem yang diterapkan negara adidaya tersebut, hak kaum jelata tetap kerap terpinggirkan. American dream ternyata tak seindah opini yang kerap dilontarkan publik AS.

Nyatanya, penyimpangan terjadi di mana-mana, pertanyaan besar tentang eksistensi manusia dan humanisasi merajalela. Billy, mungkin menjadi simbol betapa jargon-jargon kejayaan AS tak mampu menutupi masalah psikososial yang dihadapi masyarakatnya. Misteri yang tak terjawab Kendati sejak awal diproklamasikan sebagai buku ilmiah populer, pertanyaan besar justru luput dijawab Keyes. Misteri penyebab munculnya
24 kepribadian dalam satu tubuh tak sedikit pun diungkap buku ini. Kendati secara teoretis masih terdapat pertentangan antar para ahli, semestinya perkembangan terkini teori kepribadian ganda idealnya tetap dinukil. Catatan lainnya, 24 wajah Billy juga menyiratkan kondisi bahwa perkembangan pemahaman kesehatan jiwa, ternyata tak berbanding lurus
dengan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran fisik. Kenyataan itu ternyata tak hanya terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, namun juga di masyarakat modern AS. Gangguan jiwa kerap disepelekan, tak diwaspadai secara dini. Akibatnya, kerusakan telanjur menjadi kronis dan sulit disembuhkan. Dampaknya, bukan
hanya si penderita yang mengalami penderitaan karena sulit beradaptasi di lingkungan sosial, masyarakat di sekitarnya juga terancam terkena dampaknya. Penderita gangguan perilaku seksual yang tak segera ditangani berpotensi berubah menjadi pelaku kejahatan. Korban mereka pun di masa datang bukannya tak mungkin akan berubah menjadi mimpi buruk bagi komunitasnya. Lingkaran mengerikan yang jelas tak mudah ditangani itu turut mewarnai kisah Billy. Ketiadaan penjelasan tentang munculnya alter ego dari dua jenis kelamin berbeda dengan rentang usia yang sangat beragam membuat pembaca merasa
tak tuntas. Bagi mereka yang masih penasaran, menjelajahi perpustakaan dan browsing di internet untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung menjadi solusi utama. Pertanyaan paling mendasar bagi pembaca awam adalah pemicu munculnya lebih dari satu alter ego pada satu tubuh manusia. Pertanyaan berikutnya, bagaimana proses pemulihan yang harus dilalui bagi yang memiliki kepribadian ganda. Misteri selanjutnya adalah pertanyaan apakah orang yang berkepribadian ganda tetap dapat hidup normal dan bersosialisasi dengan wajar di lingkungan publik. Apakah penyatuan kepribadian-kepribadian unik itu menjadi solusi satu-satunya? 24 Wajah Billy memang tak secara tuntas menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Keyes mungkin sengaja memancing perhatian publik terhadap fenomena kepribadian ganda.

Tanggapan
Buku yang diklaim penerbitnya laku keras ini dikomentari positif ole penulis Sybil, Flora Rheta Schreiber. “Benar-benar membuat shock,” ujar Schreiber. Sementara itu, Sarlito W Sarwono, psikolog yang juga penerjemah Sybil menyatakan buku 24 Wajah Billy merupakan kisah nyata yang sangat memikat. “Bermanfaat bagi para profesional maupun awam,” kata Sarlito. Di negeri asalnya, buku ini sukses meraih nominasi Edgar Ward dalam
kategori kisah nyata kriminal terbaik. Ajang ini diselenggarakan oleh asosiasi penulis misteri AS. Berikut adalah beberapa kepribadian yang menghuni sosok Billy: Antara lain, Philip, penjahat kelas teri. Kevin, otak sebuah perampokan toko obat. April, wanita dengan satu ambisi membunuh ayah tiri Billy. Adalana, lesbian kesepian dan haus cinta, ia memakai tubuh Billy dalam pemerkosaan yang menyebabkan Billy ditangkap. David, anak lelaki 8 tahun, si penanggung rasa nyeri. Ragen, berbahasa Serbo-Kroasia, dan sang guru Billy sendiri digambarkan sebagai lelaki muda yang tersiksa, amnesia, dan kerap menemukan dunianya terpecah-belah dan menakutkan. Billy tak memiliki kendali atas tindakan pribadi-pribadi lain yang bersemayam dalam dirinya. Billy Milligan ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena penculikan dan pemerkosaan tiga wanita di kampus Ohio State University. Namun kemudian, atas dasar alasan kegilaan, pengadilan membebaskannya. Meragukan kisah Billy dan menganggap fenomena kepribadian ganda hanya isapan jempol dan akting sempurna seorang penipu? Sketsa lukisan yang disisipkan dalam 24 Wajah Bila membuktikan kisah ini direka dari fakta nyata. Beragam lukisan dengan pulasan yang eksotis dilukis mencerminkan eksistensi tiap kepribadian Billy. Buat penikmat seni lukis, pasti akan tergoda memiliki salah satu lukisan fenomenal itu. Bagi kaum awam, coretan tangan Billy menggugah inspirasi dan menggoda angan untuk membayangkan betapa misteriusnya sosok Billy dengan 24 karakter yang berbeda satu sama lain.

Penulis
Daniel Keyes lahir di New York. Meraih gelar sarjananya dari Brooklyn
College. Novel pertamanya, Flowers for Algernon (difilmkan dengan judul
CHARLY) memenangi sejumlah penghargaan.
Tulisannya dalam buku itu menjadi bahan kajian di berbagai sekolah
menengah umum dan sekolah setingkat akademi di seluruh AS. Keyes dan
istri serta dua orang putrinya yang sudah dewasa kini tinggal di Florida.
Dalam situs pribadinya, www.astraeasweb.net terungkap bahwa kisah hidup
Billy Milligan akan diangkat ke dalam layar lebar. Sejumlah aktor
Hollywood papan atas disebut-sebut menjadi kandidat pemeran Billy. Nama
Leonardo DiCaprio menjadi salah satu aktor yang berpeluang besar
memainkan tokoh Billy.
Hingga kini, kabar terakhir dari Billy Milligan nyaris tak terdeteksi.
Billy terakhir kali memberikan pernyataan pada publik melalui situs
tersebut dengan mengkritik keras sistem perawatan di sejumlah institusi
kesehatan jiwa milik pemerintah AS.
Ia tak menyebutkan apakah kepribadian-kepribadian dalam dirinya telah
menyatu. Namun, dalam babak-babak terakhir tulisan Keyes terungkap bahwa
Billy masih berjuang keras meraih dan menyatukan potongan-potongan
jiwanya dengan terapi psikiatris.
Billy juga mengkritik keras sikap psikiatris di negerinya yang tak pernah
tuntas menyelesaikan masalah kepribadian ganda. Puluhan hingga ratusan
pasien kepribadian ganda malah menjadi komoditas penangguk keuntungan.
Rumah sakit dan dokter dianggapnya membebankan biaya perawatan yang tak
wajar.
Kemarahan Billy yang terungkap dalam kritik pedasnya pada institusi
birokrasi dan rumah sakit mencerminkan dendam seorang pengidap kelainan
jiwa yang harus melalui proses penyembuhan yang panjang namun tak kunjung
sembuh.
“Sistem yang ada di negeri ini harus diubah total. Seorang penderita
penyakit jiwa akan makin kronis dengan sistem ini. Mereka jadi objek dari
sebuah kejahatan ekonomi yang kejam. Negara ini juga mampu membuat
seorang yang sehat menjadi sakit dengan sistemnya yang tak waras,” tegas
Billy, entah kepribadian siapa yang muncul saat Billy menegaskan sikapnya
tersebut. Atau, itu adalah pernyataan Billy yang telah utuh?



Read more...

METABOLISME KARBOHIDRAT

Kamis, Januari 21, 2010

1.GLIKOLISIS
2.GLIKOGENESIS
3.GLIKOGENOLISIS
4.JALUR PENTOSA FOSFAT
5.GLUKONEOGENESIS
6.METABOLISME HEKSOSA LAINNYA
GLIKOLISIS
1. SEBAGIAN BESAR JARIN GLIKOLISIS
2. GLIKOGENESIS
3. GLIKOGENOLISIS
4. JALUR PENTOSA FOSFAT
5. GLUKONEOGENESIS
6. METABOLISME HEKSOSA LAINNYA
 organ perlu glukosa
 Otak dan eritrosit hampir semua tenaganya dari glukosa

§ Glikolisis = jalur utama penggunaan glukosa reaksi bisa erob atau anerob.

§ Oksidasi glukosa à perlu oksigen, sistem enzim mitokondria, siklus asam sitrat dan rantai respirasi

§ Glikolisis : jalur metabolisme glukosa, fruktosa dan galaktosa dari diet.

§ Glikolisis menghasilkan ATP.
Di otot (erob) à ATP >>, anerob à ATP <<  Jantung teradaptasi kondisi erob à pada iskemiaà glikolisis <<<.  Sel kanker yang tumbuh cepat à glikolisis >> siklus asam sitrat à piruvat >> à laktat (asam)
{ penyakit : enzim glikolisis defisien aktivitasnya piruvat kinase à anemia hemolitika otot skelet (fosfofruktokinase <<) à fatigue. Glikolisis anerob : { Awal penelitian : proses fermentasi ragi = pemecahan glikogen di otot { Pada kontraksi otot (anerob) à glikogen ¯, laktat { Pada kontraksi otot secara erob à laktat (piruvat sebagai hasil akhir glikolisis) à CO2 & H2O { Disimpulkan : metabolisme karbohidrat : aerob dan anerob. { Reaksi glikolisis : erob/anerob : sama, kecuali produk akhirnya (piruvat/laktat) REAKSI-REAKSI PADA GLIKOLISIS Glukosa + 2 ADP + 2 Pi à 2 L(laktat) + 2 ATP + 2 H2O  Terjadi ekstramitokondrial {sitosol heksokinase. 1. Glukosa +ATP Glukosa –6-fosfat + ADP  Di hepar : glukokinase,  Glukosa-6-fosfat : penghubung jalur metabolik - glikolisis - glukoneogenesis - jalur pentosa fosfat - glikogenesis - glikogenolisis
{ ATP : donor fosfat
Reaksi melepaskan tenaga sebagai panas ® ireversibel.
GLUKOKINASE

- aktif pada keadaan kenyang (kadar gula > 5 mmol/L).
- spesifik untuk glukosa

HEKSOKINASE : dihambat oleh produk (G-6-P)
ekstrahepatik
afinitas tinggi terhadap glukosa
aktif pada keadaan lapar
aktif pada a dan b-glukosa
aktif terhadap heksosa lain
(kec <<<) fosfoheksoseisomerase 2. G-6-P F-6-P (isomerisasi aldosa-ketosa & fosfofruktokinase 3. F-6-P + ATP F-1,6-difosfat Fosfofruktokinase : enzim alosterik inducible, irreversibel mengatur kecepatan reaksi aldolase 4. F-1,6-difosfat gliseraldehid 3-P + dihidroksiaseton-P (2 triose) inerconverted oleh enzim fosfotriose isomerase Fosfotriose isomerase 5. Gliseraldehid 3-P dihidroksiaseton-P gliseraldehid 3-fosfat DH 6. Gliseraldehid 3-P + NAD+ + Pi 1,3-DPG. + NADH + H+ 1,3-DPG = senyawa tenaga tinggi. fosfogliserat kinase. 7. 1,3-DPG + ADP 3-PG + ATP - 2 molekul triose-P/ mol glukose à 2 ATP ( fosforilasi peringkat substrat) - Jika terdapat arsenat à +1,3-DPG à 1-arsenofosfogliserat® 3-fosfogliserat + PANAS (tidak dihasilkan ATP). Di dalam eritrosit terjadi reaksi : 1,3-DPG 2,3-DPG 3-PG 2,3-DPG + hemoglobin à afinitas HbO ® oksigen dilepaskan oleh Hb di jaringan perifer. fosfogliserat mutase 8. 3-fosfogliserat 2-fosfogliserat enolase 9. 2-fosfogliserat PEP + H2O Reaksi : dehidrasi & redistribusi tenaga dlm mol. Enolase dihambat oleh fluorida. PEP : senyawa fosfat bertenaga tinggi piruvat kinase 10. PEP + ADP ATP + (enol) piruvat 11. (enol) piruvat (keto) piruvat ANEROB laktat dehidrogenase 12. Piruvat + NADH + H+ laktat + NAD+ EROB  Piruvatà mitokondriaà asetil-KoA à Siklus Krebs à CO2 + H2O  NADH dari glikolisis à mitokondria : 3 ATP ˜ Glikolisis di eritrosit (anerob) (tidak ada mitokondria) à hasil akhir laktat ˜ Serabut putih otot skelet, otot polos, eritrosit, otak, traktus gastrointestinal, medula ginjal, retina dan kulit, : energi dari glikolisis anerob.  Hepar, ginjal dan jantung : mengambil laktat à oxidasi menghasilkan laktat pada kondisi anerob. ˜Tiga langkah reaksi glikolisis : eksergonik & irreversibel dikatalisis : heksokinase (dan glukokinase) pengatur fosfofruktokinase glikolisis piruvat kinase Glukoneogenesis dikatalisis oleh enzim yang berbeda. OKSIDASI PIRUVAT à ASETIL-KoA : REAKSI IRREVERSIBEL : GLIKOLISIS à SIKLUS KREBS lSitosol : Piruvat à mitokondria à siklus asam sitrat  Piruvat à dekarboksilasi oksidatif à asetil-KoA piruvat DH kompleks. Piruvat + NAD+ + KoA Asetil-KoA + NADH + H+ + CO2 NADH à rantai respirasi à 3 ATP JALUR ENZIM YANG BEKERJA METODA PRODUKSI ATP Hs ATP GLIKOLISIS GLISERALDEHID-3-P DH FOSFOGLISERAT KINASE PIRUVAT KINASE ATP untuk rks (heksokinase & fosfofruktokinase) Rantai respirasi 2 NADH Fosforilasi tk substart Fosforilasi tk substrat 6 2 2 ----- 10 2 ----- 8 SIKLUS KREBS PIRUVAT DH ISOSITRAT DH a-KETOGLUTARAT DH SUKSINAT TIOKINASE SUKSINAT DH MALAT DH Rantai respirasi 2 NADH Rantai respirasi 2 NADH Rantai respirasi 2 NADH Fosforilasi tk substrat Rantai respirasi 2 FADH Rantai respirasi 2 NADH 6 6 6 2 4 6 ------ 30 Total ATP/mol glukosa pada kondisi Erobik Anerobik 38 2 METABOLISME GLIKOGEN Q Simpanan karbohidrat binatang. Q terutama di hepar (lebih dari 6%) dan otot (1%). Q sumber heksosa untuk glikolisis otot Q Glikogen hepar : mempertahankankadar gula darah Q Setelah 12 – 18 jam puasa glikogen hepar habis Q Glikogen otot : untuk kepentingan otot GLIKOGENOLISIS Ì Bukan langkah kebalikan glikogenesis 1) fosforilase (pembatas kecepatan reaksi) Glukosa pada ikatan (1à4) à(G-1-P) sampai 4 residu glukosa dari ikatan cabang 1à6. (C6)n + Pi à(C6)n-1 + glukosa 1-fosfat 2) glukan transferase : memindahkan trisakarida dari satu cabang ke lainnya à ikatan (1à6) terbuka. 3) debranching enzyme : Hidrolisis ikatan (1à6) à percabangan tidak ada bekerja kembali enzim fosforilase. Di otot : fosfoglukomutase Ì glukosa-1-fosfat glukosa 6-fosfat Hepar & ginjal : glukose 6-fosfatase glukosa 6-fosfat glukosa à darah GLUKONEOGENESIS DAN KONTROL GULA DARAH  Glukoneogenesis : senyawa non karbohidrat à glukosa atau glikogen. Substrat : asam amino glukogenik, asam laktat, gliserol  Terjadi jika karbohidrat dari diet tidak cukup  Fungsi glukosa : - jaringan adiposa : sumber gliserol à Lemak - mempertahankan kadar senyawa antara siklus Krebs - prekursor laktosa - sumber tenaga otot skelet pada kondisi anerob (ada lemak, ada kebutuhan basal untuk glukosa) JALUR PENTOSA FOSFAT JALUR METABOLISME HEKSOSA LAINNYA  Jalur pentosa fosfat :  jalur alternatif untuk metabolisme glukosa  tidak menghasilkan ATP mempunyai 2 fungsi : 1. Menghasilkan NADPH (sintesis reduktif : misalnya biosintesis asam lemak dan steroid) 2. Menghasilkan residu ribosa (biosintesis nukleat) Glukosa, fruktosa dan galaktosa : heksosa yang paling banyak diabsorpsi berasal dari pati, sukrosa dan laktosa. Defisiensi beberapa enzim dalam jalur pentosa fosfat à hemolisis sel darah merah Jalur : multisiklis 3 G 6-P + 6 NADP+ à 3 CO2 + 3 5-C + 6 NADPH + 6H+à 2 G-6-P + gliseraldehid-3P à glukosa 6-fosfat. a Reaksi sitosolik. a 2 fase : a. oksidatif non-reversibel à NADPH b. non-oksidatif reversibel à Ribosa (C5)  Manusia dan primata lainnya : tidak dapat mensintesis asam askorbat (tidak mempunyai enzim L-gulonolakton oksidase) Oxidasi dekarboksilasi Gulonat 3-keto-L-gulonat L-xylulosa reduksi (NADPH) Oksidasi (NAD) Aktivasi xylitol D-xylulosa xylulosa 5-P à jalur pentosa fosfat METABOLISME GALAKTOSA UNTUK SINTESIS LAKTOSA GLIKOLIPID PROTEOGLIKAN GLIKOPROTEIN Galaktosa : dari hidrolisis laktosa di usus à glukosa ( di hepar). Kemampuan hepar untuk mengubah galaktosa :tes fungsi hepar tes toleransi galaktosa.

Read more...

KOPING KELUARGA, RESIKO & KRISIS KELUARGA

STRESOR
Pencetus yang mengaktifkan proses stres.

STRES
Reaksi terhadap situasi yang menghasilkan tekanan (Burges, 1978).

ADAPTASI
Proses penyesuaian terhadap perubahan.

Stres Keluarga
Akumulasi permasalahan dalam keluarga baik meliputi fisik, emosi, maupun hub antar anggota keluarga.

Penyebab :
Perubahan aktivitas keluarga
Perubahan anggota keluarga
Perubahan waktu yg aktivitas keluarga

STRATEGI ADAPTASI
Menurut White (1974), ada 3 macam :
Mekanisme pertahanan : penyangkalan
Koping : suatu respon positif
Penguasaan : kompetensi

KRISIS KELUARGA
Sumber dan strategi adaptif tidak mampu mengatasi stresor.
Ada dua tipe :
Krisis perkembangan / maturasi
Krisis situasi

TEORI STRES DARI HILL
MODEL ABCX HILL
A : mengacu pada kejadian yang mengakibatkan ketidakseimbangan
B : sumber2 internal dan eksternal klg & dukungan sosial
C : faktor persepsi

MODEL ABCX
Menjelaskan perbedaan adaptasi keluarga dalam masa setelah kritis.
Usaha untuk menyeimbangkan tuntutan dan kemampuan yang menghasilkan beberapa tingkat adaptasi keluarga.
Model Stres Keluarga berdasarkan Konteks dari Boss
Konteks yang berbeda yang menjadi media stres adalah konteks internal dan konteks eksternal.
Konteks internal : dapat diubah meliputi psikologis, struktural (nilai-nilai keluarga), dan filosofis (keyakinan).
Konteks eksternal : tidak dapat dikontrol , termasuk tempat dan waktu.

STRESOR
Tiap individu / keluarga tidak stagnan tapi berubah –ubah setiap waktu.
Pengkajian terhadap stressor meliputi :
Sumber stresor
Pengaruh stresor terhadap anggota keluarga
Cara yang biasa digunakan dalam mengatasi stressor
Tingkat kedalaman stressor.
Waktu yang diperlukan untuk mengatasi stressor
Kemampuan mengatasi stressor

SUMBER STRESOR KELUARGA
Kontak penuh stres dari seorang anggota klg dg kekuatan di luar klg.
Kontak penuh stres seluruh klg dg kekuatan di luar klg
Stresor tradisional
Stresor situasional

TAHAP STRES & TUGAS KOPING
Periode antestres
Belajar, menabung, kompak dlm klg
Periode stres aktual
Energi terkuras, dukungan spiritual
Periode pasca stres
Untuk mengembalikan homeostastis klg, klg bersatu, dukungan klg lain.

TIPE STRATEGI KOPING KELUARGA
STRATEGI KOPING INTERNAL
STRATEGI KOPING EKSTERNAL
STRATEGI KOPING INTERNAL
Mengandalkan klp klg
Penggunaan humor
Sharing dlm klg
Mengontrol makna dr masalah (perumusan kognitif klg)
Pemecahan masalah bersama
Fleksibilitas peran
Normalisasi

STRATEGI KOPING EKSTERNAL
Mencari informasi
Jaga hub. Aktif dg komunitas
Mencari dukungan sosial
Mencari dukungan spiritual

SUMBER PENDUKUNG DALAM KELUARGA
Meliputi :
Sumber masing – masing individu,
Sense of humor
Intelegensi ( kemampuan mengatasi masalah, persepsi realistic terhadap stressor)
Self-esteem
Sistem keluarga
Cohesion ( Keutuhan keluarga )
Adaptability
Organisasi keluarga
Sumber pendukung komunitas dan dukungan social
Teman
Kemampuan sumber dalam komunitas

STRATEGI ADAPTIF DISFUNGSIONAL
Penyangkalan masalah & eksploitasi anggota klg
Penyangkalan thd klg : mitos, triangling, pseudomutualitas.
Hilangnya anggota klg
Otoritarianisme (menyerah / patuh pd yg dominan)

PENYANGKALAN MASALAH
Eksploitasi non-fisik : mengkambinghitamkan, penggunaan ancaman.
Eksploitasi emosional pasif non-fisik: pengabaian anak
Eksploitasi fisik & emosional : penyiksaan anggota klg

FAMILY TYPOLOGY
Mengacu pada dasar pola kebiasaan dalam keluarga yang menjelaskan fungsi keluaga dalam keadaan normal

HARAPAN KELUARGA - Harapan positif - Dapat mengembangkan koping yang strategis - Dapat mengatasi masalah

KOPING KELUARGA
Cara spesifik dari individu/keluarga untuk menurunkan
stressor dalam keluarga dan mengatur situasi dalam mengatasi stressor.
Hal-hal yang perlu dievaluasi :
Tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkn atau mengatasi stressor
Cara-cara mmanfaatkan sumber pendukung yang ada
Strategi mengatur situasi agar menjadi konstruktif, mudah diatur, dan dapat diterima anggota keluarga

ADAPTASI KELUARGA
Fungsi adaptasi yang baik dalam keluarga jika keluarga dapat fleksibel dalam menghadapi perubahan peran, tingkat tanggung jawab, dan pola interaksi dalam berbagai tingkatan stress dan perubahannya.
Keluarga yang mendapatkan dukungan dan konseling selama masa krisis tidak akan berkembang ke tingkat yang lebih parah atau disfungsi kronik.

Read more...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERSALINAN PRETERM

A.Pendahuluan
Setiap ibu hamil tentu menghendaki persalinan normal dan “jatuh tempo” pada saat yang tepat. Namun, karena berbagai sebab, si kecil jadi tak sabar ingin keluar, dan persalinan pun terjadi lebih cepat. Padahal, kalau janin lahir sebelum waktunya berarti pertumbuhannya juga belum sempurna. Ujung-ujungnya, kondisi bayi lemah, dan ia akan berhadapan dengan banyak masalah kesehatan.
Normalnya, persalinan terjadi setelah kehamilan berusia 40 minggu. Persalinan tergolong prematur bila berlangsung pada usia antara 20 – 37 minggu. Selain faktor belum cukup mur, kadang persalinan juga disebut prematur jika berat bayi yang lahir kurang dari 2,5 kg. Meski begitu, sebenarnya berat badan bayi lahir tidak selalu bisa dihubungkan dengan persalinan prematur. Misalnya, bayi prematur yang lahir dari ibu penderita diabetes, kadang lebih berat dibanding bayi normal. Tapi karena lahir lebih cepat, ia tetap saja menyandang masalah khas bayi prematur, seperti organ pencernaan atau paru-paru yang belum sempurna. Dalam keadaan demikian, bayi belum siap untuk hidup di luar rahim. Karenanya, ia “wajib” tinggal di kotak pemanas (inkubator) hingga cukup kuat hidup tanpa perlindungan.
Pada haid yang teratur, persalinan pretern dapat didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari hari haid pertama haid terakhir (ACOG, 1995). Di negara berkembang insidennya sekitar 7% dari seluruh persalinan. Persalinan preterm merupakan yang berbahaya karena potensial meningkatkan kematian prenatal sebesar 65% - 75%, umumnya berkaitan dengan berat lahir rendah. Berat lahir rendah dapat disebabkan oleh kelahiran preterm dan pertumbuhan janin yang terhambat. Keduanya sebaiknya dicegah karena dampaknya yang negatif, tidak hanya kematian perinatal tetapi juga moberiditas, potensi generasi akan datang, kelainan mental dan beban ekonomi bagi keluarga dan bangsa secara keseluruhan.
Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti persalinan pretern tidak diketahui bagaimana sebab dan faktor demografik diduga sebagai penyebab persalinan preterm seperti : solusio plasenta, kehamilan ganda, kelainan uterus, polihi dramnion, kelainan genital janin, ketuban pecah dini dan lain-lain. Penyebab persalinan preterm bukan tunggal tetapi multikompleks, antara lain karena infeksi. Infeksi pada kehamilan akan menyebabkan suatu respn imunologik spesifik melalui aktifasi sel limfosit B dan T dengan hasil akhir zat-zat yang menganisiasi kontraksi uterus. Terdapat makin banyak arti yang menunjukkan bahwa mungkin sepertiga kasus persalinan perterm kaitan dengan infeksi membran korioamnion.
Dari penelitian Lettieri, dkk (1993) didapati 38% persalinan peterm disebabkan akibat infeksi korionamnion. Knox dan Hoerner (1950) telah mengetahui dengan antara infeksi jalan lahir dengan kelainan prematur. Bobbit dan Ledger (1997) membuktikan infeksi amnion suibklinis seabgai penyebab kelahiran preterm dengan amniosentesis didapati bakteri patogen pada + 20% ibu yang mengalami persalinan preterm dengan ketuban utuh dan tanpa gejala klinis infeksi (Cox , 1996, Watts dkk, 1992).
Cara masuknya kunian penyebab infeksi amnion dapat sebagai berikut :
1. Melalui jalur transervikal masuk ke dalam selaput Amniokorion dan cairan amnion E. Coli dapat menembus membran korioamnion (Gyr dkk, 1994).
2. Melalui jalur transervikal ke desidua / chorionic junction pada segmen bawah rahim
3. Penetrasi langsung ke dalam jaringan serviks
4. Secara hematogen ke plasenta dan selaputnya.
5. Secara hematogen ke miometrium
Selain itu endotoksin dapat masuk ke dalam rongga amnion secara difusi tanpa kolonisasi bakteri dalam cairan amnion. Infeksi dan proses inflamasi amnion merupakan salah satu faktor yang dapat memulai kontraksi uterus dan persalinan preterm. Menurut Schwarz (1976), partus aterm diinisasi oleh aktivasi enzim phoholipase A.
Yang dapat melepaskan asasm arakidorat dari membran janin sehingga bentuk aasm arakidorat berbas yang merupakan bahan dasar sintesis prostaglandain. Baktiar dkk (1981) melaporkan sejumlah mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk menghasilkan enzim phospholipase A sehingga dapat menganisiasi terjadinya persalinan preterm. Bennet dan Elder (1992) menunjukkan bahwa mediator-mediator dapat merangsang timbulnya kontraksi uterus dan partus preterm melalui pengaruhnya terhadap biosintesis prostaglandin.
Kalau ibu termasuk golongan berisiko tinggi melahirkan prematur, cara yang dapat ditempuh adaLah memeriksakan diri secara teratur kepada dokter. Kalau selama ibu seorang pekerja keras, sebaiknya selama hamil kegiatan ibu dibatasi untuk menghindari kelelahan.Jangan bebani pikiran dengan berbagai persoalan sehingga membuat stress, hentikan kegiatan buruk seperti merokok. Hindari pula minuman beralkohol dan obat-obatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Disinyalir beberapa zat bahan kimia pada obat-obatan bisa membahayakan keselamatan bayi dalam kandungan...
Satu hal perlu diingat, sebaiknya ibu tidak melanggar anjuran dokter. Jika tidak bisa-bisa si kecil jadi tak sabar ingin segera melihat dunia, meskipun itu bisa membahayakan kesehatannya.
B. Konsep
1. Pengertian
Persalinan prematur adalah suatu proses kelahiran bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu atau sebelum 3 minggu dari waktu perkiraan persalina (dr. Suririnah).
Persalinan prematur adalah dimulainya kontraksi uterus yang teratur yang disertai pendataran atau cervik serta turunnya bayi pada wanita hamil yang lama kehamilannya kurang dari 37 minggu (kurang 259 hari) sejak hari pertama haid terakhir (dr. M. Halimi).
Pada haid yang teratur, persalinan preterm dpaat didefinisikan seabgai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (ACOG, 1995).
2. Etiologi
Kemampuan untuk memperkirakan wanita yang mana yang akan mengalami kelainan prematur, spontan dan kelahiran sangat susah karena penyebab preterm laboratorium tidak ketahui secara pasti. Dalam banyak kasus kelahiran preterm tidak diketahui meskipun demikian ada beberapa studi dilakukan selama 15 tahun dapat menunjukkan beberapa kondisi yang memungkinkan adanya kelahiran preterm (Newton et al 1970, Mamelle et al, 1984, Romero et al 1989, Klien et al, 1990) antara lain :
a. Distensi berlebihan dari uterus karena kondisi seperti poli hidroamnion
b. Anomali uterus
c. Riwayat pembedahan uterus
d. Aktivitas uterus yang muncul lebih awal
e. Infeksi maternal antara lain : bakteri uria asimtomatik
f. Kokain (kemungkinan terjadi persalinan preterm 4 kali lebih besar)
g. Merokok
h. Stress psikologis wanita pekerja dan kelelahan
3. Faktor Resiko
Tabel Resiko Kelahiran Prematur
Kelahiran Pertama Kelahiran Kedua Kelahiran Prematur selanjutnya dalam %
Tidak Prematur 4,2
Prematur 14,3
Tidak Prematur Tidak Prematur 2,6
Prematur Tidak Prematur 5,7
Tidak Prematur Prematur 9,0
Prematur Prematur 28,1
Tabel Hubungan Anomali Uterus terhadap Persalinan Prematur
Anomali Jumlah Pasien Pasien dengan Kelahiran Prematur %
Unikornus 8 37
Didelfis 17 35
Bikornus - -
Bikollis 5 80
Unikollis 66 27
Arkuata 33 18
Septum 2 4
Inkomplet 36 17
(James Rscoot)
Faktor Resiko
a. Faktor Demografi
- Kulit hitam
- Status sosial ekonomi yang rendah
- Umur saat kehamilan (<20> 40 tahun)
- TB < 159 cm dan BB < 45 kg b.
Riwayat Reproduksi yang lalu
- Kejadian aborsi sebelumnya
- BBLR sebelumnya
- Kurang dari satu tahun sejak kelahiran
c. Faktor resiko mayor
- Kelahiran preterm sebelumnya
- Kehamilan multiple
- Hidroamnion
- Dilatasi cerviks < 1 cm pada 32 minggu
- Anomali uterus - Riwayat aborsi
- Dua kali aborsi pada trimester ke 2
- Riwayat pyelonefritis
d. Status data Riwayat Medis
- Penyakit jantung dan Anemia
- ISK pada Trimester ke 3
e. Karakteristik prilaku dan lingkungan
- Kekurangan nutrisi
- Merokok (lebih dari 10 batang sehari)
- Senyawa alkohol dan obat-obatan
- Toksin
- Pekerja berat dan kelelahan
f. Obsetri pada kehamilan
- Kurang atau lambatnya prenatal care
- Kurang / penurunan BB sebelum kehamilan
- Perkembangan komplikasi kehamilan seperti demam
g. Psikososial
- Stress
- Trauma fisik
- Sikap negatif terhadap kehamilan
4. Manifestasi Klinis
a. Kontraksi uterus teratur 3 – 5 menit selama 45 detik dalam waktu sekurangnya 2 jam. b. Fase aktif meningkat, intensitas dan frekuensinya ketika pasien beraktivitas.
c. Terjadi tanda gejala mayor dan minor
d. Usia kehamilan 20 – 37 minggu
e. Taksiran berat janin sesuai usia kehamilan 20 – 37 minggu
f. Biasanya presentasi abnormal
5. Patofisiologi Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor atau minor. Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang per hari, riwayat abortus pada trimester III, riwayat abortus pada trimester 1 lebih dari 2 kali. Faktor resiko mayor ialah kehamilan multipel, hidramnion, anomali uterus, servik terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi dan iritabilitas uterus.
Pasien tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor mayor atau bila ada 2 lebih faktor resiko minor atau bila ditemukan keduanya.
6. Pencegahan
a. Pengenalan pasien berisiko
b. Pendidikan persalinan kurang bulan
c. Kenali kontraksi uterus kurang bulan sejak dini untuk mendapatkan terapi dr. OBGIN. d. Pemantauan rahim sejak dini.
e. Pemberian hormon hydroxyprogesterone caproate (dr. suririnah)
f. Diet yang tepat untuk hamil.
g. Personal higen yang baik.
h. Aktivitas dibatasi bagi ada riwayah prematur.
i. Penyakit-penyakit panas akut segera ditangani
j. Kontrol seksama kalau ada penyakit dm / toksosemia.
k. Tunda pembedahan abdomen yang elektif.
l. Tindakan yang khusus untuk
1) Gameli harus istirahat ditempat tidur sejak kehamilan 28 sampai 36 minggu
2) Fibromyoma uteri kalau ada keluhan istirahat ditempat tidur dan diberi analgesia.
3) Placenta previa istirahat total dan tranfusi darah sampai bayi ukuran viabelnya cukup 4) Inkompetensi cervik harus dijahit pada trimester II.
5) SC dilakukan sampai bayi-bayi cukup viabel
7. Penatalaksanaan Rujuk ke rumah sakit dan cari faktor penyebabnya dinilai apakah termasuk resiko rendah atau rendah :
a. Sebelum dirujuk diberi air minum sebanyak 1000 ml dilihat berhenti atau tidak kontraksi uterusnya.
b. Bila masih kontraksi beri obat fenoterol sebanyak 5 mg peroral dosis tunggal atau ritodrin 10 mg peroral dosis tunggal pilihan kedua, ibuprofen 400 mg pilihan ketiga dosis tunggal.
c. Bila menolak dirujuk pasien harus istirahat baring dan banyak minum, dan diberi beli obat fenoterol sebanyak 5 mg peroral dosis tunggal atau ritodrin 10 mg peroral, dosis tunggal pilihan kedua, ibuprofen 400 mg pilihan ketiga dosis tunggal.
d. Persalinan tidak dapat ditunda bila ada kontra indikasi mutlak (gawat janin, karioamnionitis, perdarahan anterpartum yang banyak) dan kontra indikasi relatif (gestosis, DM, pertumbuhan janin terhambat dan pembukaan serviks 4 cm).
Di Rumah Sakit
a. Hidrasi dan sedasi (pemberian cairan NaCl 0,9% / D5% / Ringer Lactat sebanyak 1 : 1 dengan morpin sulfat 8 – 12 mg im) sambil observasi ibu dan jamin
b. Kelompok Pasien menjadi 3 Pembukaan Servik terus berlangsung Tidak ada pembukaan, kontraksi berlangsung Tidak Pembukaan, Kontraksi Uterus Berkurang Kelompok I Obat tokolisis Kelompok II Obat tokolisis Kelompok III Obervasi pasien
c. Bila janin masih dalam keadaan baik beri obat tokolisis kehamilan 20 – 37 minggu permbukaan serviks kurang dari 4 cm dan selaput ketuban masih ada dengan jenis tokolisisnya beta mimetik, magnesium sulfat 4 g (200 ml MGSO 10% dalam dektrose 5% dengan tetesan 100ml/jam) etil alkohol dan glukokortikoid (deksametason 12 perhari selama 3 hari).
d. Lakukan persalinan pervaginam bila janin presentasi kepala terutama pada umur kehamilan 35 minggu lakukan SC bila syarat partus pervaginam tidak terpenuhi.
Agen Tokolitik Indikasi umum digunakan untuk :
a. Tanda-tanda kelahiran prematurd
b. Umur kehamilan > 20 minggu atau< 36 minggu
c. Kemungkinan berat janin > 500 gram atau < 2500 gram
d. Tidak ada kontra indikasi untuk melanjutkan kehamilan Kontra Indikasi Umum
a. Kehamilan < 20 minggu
b. Ruptur membran, khususnya dengan tanda-tanda infeksi
c. Perdarahan uterus yang aktif
d. Komplikasi medis maternal, seperti DM atau preeklamasi
e. Fetal distress akut atau konik
f. Anomali fetal mayor
g. Intra uterine fetal death
h. Kontra undikasi B
i. Beberapa keadaan maternal atau fetal untuk kelanjutan kehamilan
j. Kemajuan kelahiran dengan dilatasi serviks melebihi 4 cm.
Jenis Obat
1. B-Adrenergik Agonisth
a. Ritodrin (Yutopar)
1) Reaksi Memberikan efek secara khusus pada B2 reseptor dalam otot uterus memperlambat kontraksi, pada pembuluh darah menyebabkan vasodilatasi.
2) Kontra Indikasi Penyakit jantung maternal, penyakit ginjal, DM, hypertirodisme dan alergi terhadap agen obat.
3) Efek Samping Matermal Kardiovaskuler : peningkatan HR, nadi melemah Tekanan darah : peningkatan sistolik BP, penurunan diastolik BP, peningkatan cardiac output. Hyperglikemia, retensi air, edema paru, palpitasi.
4) Dosis IV Infus : 150 mg ritodrin 500 ml larutan = 0,3 mg/ml. Dimulai pada : 0,05 mg untuk 0,1 mg/menit, ditingkatkan sampai 0,05 mg/menit setiap 10 menit. Maksimum dosis yang direkomen dasikan adalah 0,35 mg/menit dan dilanjutkan IV 12 hari setelah kelahiran. Peringatan : Hanya digunakan untuk pengorbatan kelahiran prematur, resiko peningkatan oedema paru terjadi bersamaan dengan pemberian kortikoesteroid. Perawat harus mengetahui tanda dari oedema paru Tambahan :
Efek samping dan komplikasi : Sakit kepala, gugup, cemas, gelisah, nyeri, dyspnea, tachi cardi, janin, neonatal, hypoglikemia. Dosis : 30 menit sebelum IV diberikan, mulai ritodrine, oral ritodrine 18 mg setiap 2 jam selama 24 jam, 10 – 20 minggu setiap 4 – 6 jam untuk pemeliharaan
b. Terbulatalin
1) Kerja obat : sama dengan ritodrine
2) Kontra indikasi : pasien dengan asma yang lain sama dengan ritrodrine
3) Efek samping sama dengan ritodrine 4) Dosis : IV infus : 0,01 mg/mt menigkat sampai dengan 0,085 mg/mt maksimal. Oral : Dosis pemeliharaan 2,5 – 5 mg setiap 4 – 6 jam Injeksi subkutan : 0,25 mg setiap 20 – 60 menit rumusnya : Basal Rate 0,05 s/d 0,1 mg/jam
Peringatan : Kebutuhan dibanding ritrodrine lebih murah dapat diberi melalui subkutan c. Magnesium Sulfat
1) Reaksi : secara spesifik tidak diketahui penurunan aktivitas uterus ketika level semua magnesium maternal 6 – 8 mEg/L. 2)
Kontra indikasi : CSN depression, cardiac disfunction, patologi ginjal 3) Efek Samping : Maternal : dihubungkan dengan peningkatan level serum magnesium, hipertensi, depresi pernafasan, hipotonus.
Toksik magnesium : respiratiry Arrest, kolap pada sirkulasi, henti jantung. Fetal : respon disstress
4) Dosis IV infus dosis 4 – 6 gr melalui dengan pelan atau gejala toxit hilang
5) Peringatan : tanggung jawab perawat : Monitor VS setiap 5 menit selama pemberian dosis dan setiap 15 menit selama pemeliharaan Pertahankan kalsium glukonat Stop infus dan laporkan jika BP, 90/60 R < 12/mt, tidak ada refleks patela, urine output < 30 m/jam. Obat-obat yang digunakan untuk mencegah distressindrom pernafasan yaitu :
a. Corticosteroid
1. Reaksi : peningkatan produksi surfaktan pada paru janin
2. Indikasi : kelahiran preterm pada umum kehamilan 23 – 34 minggu kemungkinan hilangnya kemampuan kelahiran selama 48 jam therapi misasif tanpa resiko yang tak semestinya pada ibu dan janin.
3. Kontra indikasi : ketidakmampuan atau keterbatasan pada umum kehamilan > 34 minggu L : S perbandingan > 2 minggu
4. Efek Samping : Maternal dapat meningkatkan efek yang tidak diiinginkan pada DM Preeklamsia, peningkatan resiko infeksi, lambatnya penyembuhan pada luka SC.
Fetal/Neoantal : tidak ada laporan yang serius tentang efek samping tetapi efek jangka panjang tidak diketahui.
5. Dosis : 12 mg IM, diulaang pada 12 – 24 jam x 1,6 mg IM, diulang dalam 12 –24 jam x 1 diulang setiap minggu 6 mg IM sampai L : S rasio : 2 : 1 3/4 minggu efek yang terlihat akan pindah / hilang, puncaknya pada 48 jam dan kemungkinan hilang dalam waktu 1 minggu.
6. Peringatan : gunakan dengan agen tokalitik untuk menurunkan resiko peningkatan oedema pulmunal. FDA tidak disetujui digunakan pada potensial terjadinya bahaya dan kontroversi.

8. Prognosis
a. Prematuritas merupakan faktor kematian yang terkait mortalitas dan morbiditas sebagian bayi meninggal pada 28 hari pertama mempunyai bobot kurang dari 2500 g saat lahir.
b. Anoksia 12 kali lebih sering pada bayi yang baru lahir.
c. Gangguan respirasi menyebabkan 44% bayi meningggal pada bayi kurang 1 bulan jika bayi kurang dari 1000 g angka kematian sebesar 74%.
d. Rentan terhadap kompresi kepala karena lunaknya tulang tengkorak dan immaturitas jaringan otak.
e. Perdarahan intra cranial 5x lebih sering
f. Cerebral Palsy
g. Prognosis untuk kesehatan fisik dan intelektual bayi belum diketahui dengan pasti tampaknya insiden kerusakan otak organik otak lebih tinggi pada bayi prematur.

9. Persalinan Preterm / Pencegahan Kelahiran Preterm
Kelahiran dalam 2 minggu dari tanggal melahirkan yang diperkirakan, diinginkan oleh baik wanita hamil dan profesional kesehatan. Persalinan preterm merujuk pada persalinan yang terjadi setelah janin telah mencapai periode viabilitas (sedikitnya 20 minggu gestasi tetapi sebelum selesai minggu ke-37). Menunggu kelahiran sampai term mungkin dikontraindikasikan bila resiko bagi klien atau janin lebih berat daripada resiko melahirkan bayi preterm.

C. Asuhan Keperawatan

Pengkajian Data Dasar Klien
Catatan : etiologi tidak diketahui pada 70-80% kasus, ketuban pecah dini (KPD) terjadi pada sisa 20 – 30%.

Sirkulasi
Hipertensi, edema patologis (tanda hipertensi karena kehamilan [HKK]).
Penyakit jantung sebelumnya.

Integritas Ego
Adanya ansietas sedang

Makanan / Cairan
Ketidakadekuatan atau penambahan berat badan berlebihan.

Nyeri / Ketidaknyamanan
Kontraksi intermiten sampai reguler yang jaraknya kurang dari 10 menit selama paling sedikit 30 detik dalam 30 – 60 menit.
Pernafasan
Mungkin perokok berat (> 10 rokok/hari)

Keamanan
Infeksi mungkin ada (misalnya : infeksi saluran kemih dan atau atau infeksi vagina)

Seksualitas
Tulang servikal dilatasi
Perdarahan mungkin terlihat
Membran mungkin ruptur (KPD)
Perdarahan trimester III.
Aborsi sebelumnya, persalinan / melahirkan preterm, riwayat biopsi konus
Uterus mungkin distensi berlebihan, karena hiramnion, makrosomia atau gestasi multipel.

Interaksi Sosial
Mungkin kelas sosioekonoi rendah

Penyuluhan / Pembelajaran
Ketidakadekuatan atau tidak anya perawatan pranatal
Mungkin dibawah usia 18 atau lebih dari 40 tahun
Penggunaan alkohol / obat lain, pemajanan pada diestilstilbesterol (DES).

Pemeriksan Diagnostik
Ultrasonografi : Pengkajian gestasi (dengan berat badan janin 500 sampai 2.499 gram).
Tes Nitrazin : Menetukan KPD
Jumlah sel daerah putih : Peningkatan menandakan adanya infeksi
Urinalisis dan kultur : Mengesampingkan ISK
Kultul vaginal, reagen plasma cepat (RPC) : Mengindenfikasi infeksi.
Amniositensis : Rasio lesitin terhadap stingomielen (L/S) mendeteksi fosfati digliserol (PG) untuk meturitas paru janin, atau infeksi amniotik.
Pemantauan elektronik : Memvalidasi aktivitas uterus / status janin.

Prioritas Keperawatan
1. Memasikan kondisi ibu adanya persalinan dan kesejahteraan janin.
2. Membantu upaya untuk mempertahakan kehamilan, bila mungkin
3. Mencegah komplikasi
4. Memberikan dukungan emosi
5. Memberikan informasi yang perlu

Tujuan Pulang
1. Penghentian kontraksi uterus.
2. Bebas komplikasi dan atau efek yang tidak diinginkan
3. Menerima situasi dengan cara positif
4. Memahami tanda preterm persalinan / komplikasi dan terapi yang dibutuhkan

Potensial Komplikasi (Masalah Kolaborasi)
- PK : Persalinan preterm bayi, edema pulmonary (sekunder dari medikasi tokolitik)
- PK dari terapi magnesium sulfat : keracunan magenesium.

Diagnosa Keperawatan
- Kecemasan berhubungan dengan faktor : hasil kehamilan, efek samping tokolitik, kekurangan waktu untuk mempersiapkan persalinan atau perawatan bayi dan krisis situasional, ancaman yang dirasakan atau aktual pada diri dan janin.
- Aktifitas pengalihan yang tidak sempurna berhubungan dengan faktor : tirah baring yang lama.
- Proses keluarga terganggu berhubungan dengan faktor : penyakit atau ketidakmampuan anggota keluarga, perubahan dalam aturan keluarga, kekurangan suport sistem yang adekuat, perlakuan tirah baring.
- Ketakutan berhubungan dengan faktor : kemungkinan persalinan dan kelahiran awal.
- Pemeliharaan rumah terganggu berhubungan dengan faktor : support sistem yang tidak adekuat, perlakuan tirah baring.
- Manajemen regimen tetapi tidak efektif berhubungan dengan faktor : defisit pengetahuan, tuntutan berlebihan yang dibuat individu atau keluarga, defisit support sosial.
- Nausea berhubungan dengan faktor : efek samping pengobatan tokolitik.
- Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan faktor : efek samping magnesium sulfat.
- Ketidakberdayaan berhubungan dengan komplikasi penanganan kehamilan, kekurangan dalam perbaikan meskipun mengikuti regimen pengobatan dan tirah baring.
- Harga diri rendah (kronis, situasional) berhubungan dengan faktor : tidak berharap untuk kelahiran anak, ketidakmampuan menyelesaikan tugas seperti biasa.
- Disfungsi seksual berhubungan dengan faktor : retriksi yang muncul karena pengobatan, takut menyakiti janin, takut menyebabkan kontraksi uterus.
- Gangguan pola tidur berhubungan dengan faktor : moitoring dan frekuensi pengobatan.
- Intoleransi aktifitas berhubungan dengan hipersensitivitas otot/seluler.
- Resiko tinggi cedera pada janin berhubungan dengan : melahirkan bayi preterm/tidak matur.
- Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai persalinan preterm, kebutuhan tindakan dan prognosis berhubungan dengan kesalahan interprestasi atau kurang informasi.

Dx Prioritas Masalah
1. Kecemasan berhubungan dengan persalinan preterm ditandai dengan :
- Takut - Kewaspadaan meningkat
- Gugup - Stressor
- Kawatir - Gelisah
NOC : Kecemasan klien berkurang (secara verbal)
- Klien mengungkapkan kesiapannya menjalani proses persalinannya.
- Klien dapat mengontrol kecemasannya untuk mengurangi perasaan kawatir dan ketegangannya.
- Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang efektif dalam mengatasi cemas dan stresornya.
- Klien tidak lagi menunjukkan tingkah laku kecemasan pada dirinya.
NIC :
- Kaji tingkat kecemasan klien dan reaksi fisik terhadap cemas (seperti : takikardi).
- Jelaskan tentang prosedur kegiatan dan masalah yang melibatkan klien, selama dalam prosedur, gunakan istilah umum dan tenang serta bicara pelan.
- Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan yang mengindikasikan intervensi.
- Berikan informasi yang factual/akurat tentang dukung klien menginterprestasikan gejala kecemasan suatu hal yang normal.
- Instruksikan klien koping sebelumnya digunakan oleh klien untuk mengatasi kecemasannya.
- Instruksikan klien menggunakan teknik relaksasi.
2. Nausea berhubungan dengan efek samping pengobatan tokolitik ditandai dengan :
- Rasa mual - Peningkatan saliva
- Perasaan tidak nyaman - Rasa sakit pada perut
- Stimulasi visual tidak mengenakkan
NOC :
- Mual dapat teratasi/berkurang.
- Klien dapat mempertahankan status nutrisi secara adekuat (pemalsuan makanan dan minuman).
- Klien dapat mendemonstrasikan gejala nausea dengan dibuktikan indikator-indikator berikut (membahayakan dengan ketentuan 1-5 yaitu : berat, sedang, ringan, substansial, tidak membahayakan) dengan melihat intensitanya, frekuensi dari gejala yang timbul.
NIC :
- Monitor gejala subyektif pada mual yang ditimbulkan klien.
- Observasi keadaan umum klien.
- Monitor status hidrasi klien dengan : (pada kekuatan Nadi, TD).
- Identifikasi faktor yang mengkonstribusi beratnya gejala nausea yang ditimbulkan (misalnya obat-obatan, demam, stress, anjuran pengobatan).
- Kaji orientasi terhadap orang, tempat dan waktu.
- Pertahankan keakuratan catatan terhadap pemasukan dan pengeluaran.
- Monitor hasil lab yang relevan dengan keseimbangan cairan (BUN, albumin, protein total, osmolaritas).
- Anjurkan klien untuk mengkonfirmasi bila muncul gejala nausea, rasa ingin muntah.
3. Resiko injuri (pada bayi dan janin) berhubungan dengan persalinan preterm
NOC :
- Klien mampu mengurangi atau menghilangkan ancaman injuri pada ibu dan janinnya.
NIC :
- Tinjau ulang riwayat persalinan, awitan dan durasi.
- Kaji pola kontraksi uterus secara manual atau elektronik.
- Evaluasi tingkat keletihan yang menyertai serta aktivitas dan istirahat, sebelum awitan persalinan.
- Catat penonjolan, posisi janin presentasi janin dengan maneuver leopold dan tinjau ulang hasil USG.
- Sediakan kotak peralatan kedaruratan.
- Kaji DJJ secara manual atau elektronik.
- Siapkan untuk metode melahirkan yang paling aman lengkap dengan perawatan bayi resiko tinggi.
4. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas organ pernapasan ditandai dengan :
- Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi - Dypnea
- Penurunan pertukaran udara permenit - Napas pendek
- Tahap ekspirasi berlangsung lama - Tampak sianosis
NOC :
- Suara napas bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu.
- Irama napas, frekuensi pernapasan dalam rentang normal tidak ada suara napas abnormal.
- Tanda-tanda vital normal : Nadi : 120x/menit, R : 30x/menit
NIC :
- Bersihkan mulut, hidung dan keluarkan secret dengan suction
- Auskultasi suara napas, catat adanya suara tambahan.
- Monitor respirasi dan status oxigennya
- Pertahankan jalan napas
- Monitor aliran oxygen
- Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
- Monitor Nadi, pernapasan klien
- Monitor frekuensi, irama pernapasan, dan suara paru
- Monitor pola pernapasan abnormal
- Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit, serta sianosis perifer

Read more...

FARMAKOLOGI OBAT

1.Piracetam 3 g/15ml Injeksi
Indikasi:
Untuk pengobatan infark serebral.
Dosis:
Dosis lazim 1 g, 3 kali sehari secara intravena.
Kelompok Bersihan Kreatinin (ml/menit) Dosis dan Frekuensi
Normal > 80 Dosis lazim harian, 2-4 sub dosis
Ringan 50-79 2/3 lazim harian, 2 atau 3 sub dosis
Sedang 30-49 1/3 lazim harian, 2 atau sub dosis
Berat < 30 1/6 dosis lazim harian, dosis tunggal
Paket:
Kotak berisi 4 ampul @ 15 ml

2.Tramadol 50 mg Tab
Deskripsi:
Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat.
Tramadol mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem syaraf pusat sehingga memblok sensasi rasa nyeri dan respon terhadap nyeri. Disamping itu tramadol menghambat pelepasan neurotransmitter dari syaraf aferen yang sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat.
Komposisi:
Tiap kapsul mengandung 50 mg tramadol hydrochloride.
Indikasi:
Efektif untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, termasuk nyeri pasca pembedahan, nyeri akibat tindakan diagnostik.
Dosis:
Terapi oral
Dewasa dan anak di atas 14 tahun.
Dosis umum:
dosis tunggal 50 mg. Dosis tersebut biasanya cukup untuk meredakan nyeri, apabila masih terasa nyeri dapat ditambahkan 50 mg setelah selang waktu 30 – 60 menit.
Dosis maksimum:
400 mg sehari.
Dosis sangat tergantung pada intensitas rasa nyeri yang diderita.
Penderita gangguan hati dan ginjal dengan klirens kreatinin < 30 ml/menit:
50 – 100 mg setiap 12 jam, maksimum 200 mg sehari.
Terapi parenteral
Dosis yang diberikan sebaiknya disesuaikan dengan intensitas rasa nyeri. Bila tidak ada petunjuk lain dari dokter, dosis yang diberikan adalah sebagai berikut :
Dewasa atau anak di atas 14 tahun :
i.v.: 100 mg (1 ampul), diinjeksikan secara lambat atau dilarutkan dalam larutan infus, kemudian diinfuskan.
i.m.: 100 mg (1 ampul)
subkutan: 100 mg (1 ampul)
Dosis tersebut biasanya cukup untuk meredakan nyeri. Bila masih terasa nyeri, dapat ditambahkan 1 kapsul tramadol 50 mg atau 50 mg tramadol injeksi (1 ml) setelah selang waktu 30 – 60 menit. Pada penderita gangguan fungsi hati atau ginjal, perlu dilakukan penyesuaian dosis. Dosis maksimum 400 mg/sehari.
Kemasan:
Kotak 50

3.Erythromycin 200 mg/5 ml (kering)
Deskripsi:
Eritromisina termasuk golongan makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis protein bakteri, bersifat bakteriostatik atau bakterisid, tergantung dari jenis bakteri dan kadarnya dalam darah. Eritromisina efektif terhadap kuman gram-positif seperti S. aureus (baik yang menghasilkan penisillinase maupun tidak), Streptococcus group A, Enterococcus, C. diphtheriae dan Pneumococcus. Juga efektif terhadap kuman gram-negatif seperti Neisseria, H. influenzae, B. pertusis, Brucella juga terhadap Riketsia, Treponema dan M. pneumoniae. Resistensi silang dapat terjadi antar berbagai antibiotika golongan makrolida.
Komposisi:
Tiap 5 ml suspensi mengandung eritromisina etilsuksinat setara dengan eritromisina 200 mg
Indikasi:
Untuk mencegah infeksi saluran nafas bagian atas terutama yang disebabkan oleh kuman S. pyogenes (streptokokus grup A beta-hemolitik).
Dosis:
Dewasa:
sehari empat kali 250 – 500 mg
Anak – anak:
sehari 30 – 50 mg/kg berat badan dalam 4 dosis terbagi. Pemberian dalam keadaan perut kosong. Untuk infeksi berat 4 gram sehari yang terbagi dalam beberapa dosis. Untuk infeksi karena streptokokus grup A, terapi paling sedikit harus 10 hari.
Kemasan:
Btl 60 ml

4.Inazol
Deskripsi:
Lansoprazol adalah penghambat sekresi asam lambung yang efektif. Lansoprazol secara spesifik menghambat (H+/K+) ATPase (pompa proton) dari sel parietal di mukosa lambung.
Komposisi:
Tiap kapsul mengandung 30 mg lansoprazol.
Indikasi:
Inazol diindikasikan untuk :
Ulkus duodenum.
Benigna ulkus gaster.
Refluks esofagitis.
Dosis:
Ulkus duodenum : 1 kali sehari 30 mg selama 4 minggu.
Benigna ulkus gaster : 1 kali sehari 30 mg selama 8 minggu.
Refluks esofagitis : 1 kali sehari 30 mg selama 4 minggu.
Cara Pemberian:
Inazol diberikan 1 kali sehari. Untuk mencapai efek penghambatan asam yang optimal dan kesembuhan yang cepat dan hilangnya gejala-gejala, Inazol� sebaiknya diberikan pagi hari sebelum makan.
Pengobatan jangka panjang dengan Inazol� tidak dianjurkan pada saat ini karena pengalaman klinis terbatas.
Orang tua� : Tidak perlu penyesuaian dosis. Dosis 1 kali sehari 30 mg.
Anak-anak : Tidak ada pengalaman pemberian Inazol� pada anak-anak.
Lansoprazol dimetabolisme di hati.
Pada penderita penyakit hati, tidak perlu penyesuaian dosis, dosis tidak boleh melebihi 30 mg sehari.
Tidak perlu mengubah dosis pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
Kemasan:
Kotak 2 blister @ 10 kapsul

5.Urispas 200
Deskripsi:
Flavoxate hidroklorida merupakan derivat flavone yang secara langsung bekerja sebagai spasmolitik pada otot polos saluran kemih.
Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung flavoxate hidroklorida 200 mg.
Indikasi:
Urispas digunakan untuk mengurangi gejala-gejala akibat gangguan saluran kemih seperti dysuria, urgency, nocturia, suprapubic pain, frequency dan incontinence yang terjadi pada penderita cystitis, prostatitis, urethritis, urethrocystitis dan urethrotrigonitis.
Dosis:
Dewasa dan anak diatas 12 tahun: 200 mg, sehari 3 - 4 kali. Dosis diturunkan sejalan dengan berkurangnya gejala.
Kemasan:
Kotak 30

6.Amoxicillin 125 mg/5 ml Sirker
Deskripsi:
Amoksisilina merupakan senyawa penisilina semi sintetik dengan aktivitas antibakteri spektrum luas yang bersifat bakterisid. Aktivitasnya mirip dengan ampisilina, efektif terhadap sebagian besar bakteri gram-positif dan beberapa gram-negatif yang patogen. Bakteri patogen yang sensitif terhadap amoksisilina adalah Staphylococci, Streptococci, Enterococci, S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H. influenzae, E. coli, dan P. mirabilis.
Amoksisilina kurang efektif terhadap spesies Shigella dan bakteri penghasil beta-laktamase.
Komposisi:
Tiap sendok teh (5 ml) suspensi mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 125 mg.
Indikasi:
Amoksisilina efektif terhadap penyakit :
Infeksi saluran pernafasan kronik dan akut: pneumonia, faringitis (tidak untuk faringitis gonore), bronkitis, laringitis.
Infeksi saluran cerna: disentri basiler.
Infeksi saluran kemih : gonore tidak terkomplikasi, uretritis, sistitis, pielonefritis.
Infeksi lain : septikemia, endokarditis.
Dosis:
Dosis amoksisilina disesuaikan dengan jenis dan beratnya infeksi.
Anak dengan berat badan kurang dari 20 kg : 20 - 40 mg/kg berat badan sehari, terbagi dalam 3 dosis.
Dewasa atau anak dengan berat badan lebih dari 20 kg: 250 - 500 mg sehari, sebelum makan.
Gonore yang tidak terkomplikasi: amoksisilina 3 gram dengan probenesid 1 gram sebagai dosis tunggal.
Kemasan:
Btl 60 ml...

7.Inciflox
Deskripsi:
Siprofloksasin merupakan antibiotik golongan fluorokuinolon, bekerja dengan cara mempengaruhi enzim DNA gyrase bakteri.
Siprofloksasin merupakan antibiotik untuk bakteri gram negatif dan gram positif yang sensitif.
Bakteri gram positif yang sensitif : Enterococcus faecallis, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus piogenes.
Bakteri gram negatif yang sensitif : Campylobacter jejuni, Citrobacter diversus, Citrobacter freundii, Enterobacter cloacae, Escherihia coli, Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Morganella morganii, Neisseria gonorrheae, Proteus mirabilis, Proteus vulgaris, Providencia rettgeri, Providencia stuartii, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, Serratia marensens, Shigella flexneri, Shigella sonnei.
Komposisi:
Tiap tablet salut selaput Inciflox� mengandung siprofloksasin hidroklorida setara dengan siprofloksasin 500 mg.
Indikasi:
Untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap siprofloksasin seperti :
Infeksi saluran kemih termasuk prostatitis
Uretritis dan servisitis gonorhae
Infeksi saluran cerna, termasuk demam tifoid yang disebabkan oleh S. thypi.
Khasiat siprofloksasin untuk eradikasi ”chronic thypoid carrier” belum diketahui.
Infeksi saluran nafas, kecuali pneumonia akibat streptococcus.
Infeksi kulit dan jaringan lunak
Infeksi tulang dan sendi
Dosis:
Infeksi ringan/sedang saluran kemih: 2 x 250 mg sehari
Infeksi berat saluran kemih: 2 x 500 mg sehari
Infeksi ringan/sedang saluran nafas, tulang, sendi, kulit dan jaringan lunak: 2 x 250 – 500 mg sehari
Infeksi berat saluran nafas, tulang, sendi, kulit dan jaringan lunak: 2 x 500 - 750 mg sehari
Prostatis kronis: 2 x 500 mg
Infeksi saluran cerna: 2 x 500 mg sehari
Gonore akut: 250 mg dosis tunggal
Untuk mencapai kadar yang adekuat pada osteomyelitis akut, dosis tidak boleh kurang dari 2 x 750 mg sehari.
Lama pengobatan tergantung beratnya infeksi, kemajuan klinis dan bakteriologis.
Untuk infeksi akut, lama pengobatan biasanya 5 – 10 hari. Pada umumnya pengobatan harus diteruskan sampai minimal 3 hari setelah gejala klinis hilang.

8.Insetron Tab 8 mg
Deskripsi:
Ondansetron adalah suatu antagonis reseptor 5HT3 yang bekerja secara selektif dan kompetitif dalam mencegah maupun mengatasi mual dan muntah akibat pengobatan dengan sitostatika dan radioterapi.
Komposisi:
Insetron 8, tiap tablet salut selaput mengandung ondansetron hydrochloride setara dengan 8 mg ondansetron.
Indikasi:
Penanggulangan mual dan muntah karena kemoterapi dan radioterapi serta operasi.
Dosis:
Pencegahan mual dan muntah pasca bedah :
Dosis pertama : 8 mg, tablet diberikan 1 jam sebelum pembiusan dilanjutkan pemberian 2 dosis berikutnya 8 mg tablet dengan interval waktu masing-masing 8 jam.
Atau 4 mg injeksi i.m. sebagai dosis tunggal atau injeksi i.v. secara perlahan.
Pencegahan mual dan muntah karena kemoterapi
Dewasa:
Kemoterapi yang sangat emetogenik, misalnya cisplatin. Mula-mula diberikan injeksi 8 mg ondansetron i.v. secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan infus 1 mg ondansetron/jam selama terus-menerus selama kurang dari 24 jam atau 2 injeksi 8 mg i.v. secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit dengan selang waktu 4 jam. Atau bisa juga diikuti dengan pemberian 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari.
Kemoterapi yang kurang emetogenik, misalnya siklospamid. Injeksi i.v. 8 mg ondansetron secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari.
Mual dan muntah karena radioterapi:
Tablet 8 mg, 3 kali sehari dimulai 1 – 2 jam sebelum radioterapi.
Lama pengobatan tergantung panjangnya radioterapi.
Anak-anak > 4 tahun:
5 mg/ml secara i.v. selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan memberikan 4 mg peroral tiap 12 jam selama kurang dari 5 hari.
Usia lanjut:
Ondansetron dapat ditoleransi dengan baik pada penderita usia diatas 65 tahun tanpa mengubah dosis, frekuensi, ataupun cara pemberian.
Penderita dengan gangguan fungsi ginjal :
Tidak memerlukan penyesuaian dosis harian, frekuensi ataupun cara pemberian.
Penderita dengan gangguan fungsi hati:
Dosis total harian tidak boleh lebih dari 8 mg.
Kemasan:
Dus, 2 strip @ 6 tablet

9.Parasetamol 120 mg/5 ml
Deskripsi:
Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik / analgesik. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Sifat analgesik Parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Sifat antiinflamasinya sangat lemah sehingga tidak digunakan sebagai antirematik.
Pada penggunaan per oral Parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60 menit setelah pemberian. Parasetamol diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan dan sebagian besar dalam bentuk terkonyugasi.
Komposisi:
Tiap sendok teh (5ml) sirup mengandung Parasetamol 120 mg.
Indikasi:
Sebagai antipiretik/analgesik, termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal. Sebagai analgesik, misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot. Serta menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi.
Dosis:
Dibawah 1 tahun:
� - 1 sendok teh atau 60–120 mg, tiap 4-6 jam.
1 - 5 tahun:
1 - 2 sendok teh atau 120–250 mg, tiap 4-6 jam.
6 - 12 tahun:
2 - 4 sendok teh atau 250–500 mg, tiap 4-6 jam.
Diatas 12 tahun:
� - 1 g tiap 4 jam, maksimum 4 g sehari.
Kemasan:
Btl 60 ml

10.Ondansetron 4 mg/2 ml Inj
Deskripsi:
Ondansetron suatu antagonis reseptor 5HT3 yang bekerja secara selektif dan kompetitif dalam mencegah maupun mengatasi mual dan muntah akibat pengobatan dengan sitostatika dan radioterapi.
Komposisi:
Tiap 4 ml injeksi mengandung ondansetron hydrochloride setara dengan 8 mg ondansetron.
Indikasi:
Penanggulangan mual dan muntah karena kemoterapi dan radioterapi serta operasi.
Dosis:
Pencegahan mual dan muntah pasca bedah:
4 mg/i.m. sebagai dosis tunggal atau injeksi i.v. secara perlahan.
Pencegahan mual dan muntah karena kemoterapi.
Dewasa
Kemoterapi yang sangat emetogenik, misalnya cisplatin. Mula-mula diberikan injeksi 8 mg ondansetron i.v. secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan infus 1 mg ondansetron/jam selama terus-menerus selama kurang dari 24 jam atau 2 injeksi 8 mg i.v. secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit dengan selang waktu 4 jam. Atau bisa juga diikuti dengan pemberian 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari.
Kemoterapi yang kurang emetogenik, misalnya siklospamid. Injeksi i.v. 8 mg ondansetron secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari.
Anak-anak > 4 tahun:
5 mg/ml secara i.v. selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan memberikan 4 mg peroral tiap 12 jam selama kurang dari 5 hari.
Usia lanjut:
Ondansetron dapat ditoleransi dengan baik pada penderita usia diatas 65 tahun tanpa mengubah dosis, frekuensi, ataupun cara pemberian.
Penderita dengan gangguan fungsi ginjal:
Tidak memerlukan penyesuaian dosis harian, frekuensi ataupun cara pemberian.
Penderita dengan gangguan fungsi hati:
Dosis total harian tidak boleh lebih dari 8 mg.
Kemasan:
Ktk 5

11.Vermic
Komposisi:
Tiap 5 ml suspensi mengandung albendazole 200 mg
Indikasi:
Albendazole berkasiat membasmi cacing parasit yang terdapat dalam usus yang hidup sebagai parasit tunggal atau mejemuk albendazole efektif untuk pengobatan:
1. Cacing gelang (Ascaris lumbricoides)
2. Cacing cambuk (Trichuris trichuria)
3. Cacing kremi (Enterobius vermicularis)
4. Cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus
Cacing pita (Taenia sp)
5. Strongyloides strecoralis
Dosis:
Dewasa dan anak di atas 12 tahun : sehari 10 ml suspensi, diberikan sekaligus sebagi dosis tunggal
Pada kasus dimana diduga atau terbukti adanya penyakit cacing pita atau Strongyloides: maka dosis dengan 10 ml suspensi setiap hari harus diberikan selama 3 hari berturut-turut
Perhatian
Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan hati
Jangan diberikan kepada ibu menyusui
Sebaiknya tidak diberikan pada anak-anak di bawah umur 2 tahun
Kemasan:
Vermic 200 mg/5ml, botol 10 ml suspensi

Read more...

PERTOLONGAN PERTAMA PADA GIGITAN ULAR

Senin, Januari 18, 2010

A. Ular berbisa di Indonesia
Ular berbisa hanya sedikit yang ditemukan di Indonesia, diantaranya: ular sendok (kobra), ular anang (tedung atau king kobra), ular welang, ular weling, ular hijau pucuk/ular gadung (luwuk), ular taliwangsa (belang hitam-kuning) dan ular tanah (coklat tua dengan taring panjang).

B. Sifat Ular
Sifat ular yang harus dipahami adalah; ular takut pada manusia, menggigit untuk memperingatkan/mengusir manusia (pada kebanyakan kasus) serta 70% gigitan ular bukan dari ular berbisa, umumnya hanya sedikit atau tidak ada racun yang disuntikkan. Gigitan ular tidak semuanya berakhir dengan kematian. Kematian tidak datang seketika atau dalam beberapa menit saja. Gejala biasanya timbul 15 menit sampai 2 jam kemudian setelah korban digigit ular.

C. Ciri-ciri ular berbisa
Ciri secara umum (tidak mutlak) yg biasanya ada pada ular berbisa, yaitu: bentuk kepala pipih dan berpola huruf ‘V’, ukuran relatif kecil atau pendek, kecuali King Cobra yang bisa mencapai 5 meter dan warna biasanya cerah (tetapi hal ini tidak mutlak).

D. Mencegah tidak digigit ular
Mencegah agar tidak digigit ular adalah; jangan membuat koleksi dari ular, tinggalkan/jangan ganggu ular. beberapa orang digigt karena berusaha membunuh atau mencoba mendekat. Di daerah yang banyak ular, pakai sepatu, kaos kaki dan jeans apabila keluar rumah , jangan masukkan tangan dicelah-celah timbunan kayu atau sampah, Bila berjalan di semak belukar usahakan membuat suara berisik agar ular tahu keberadaan kita dan menyingkir, hati-hati bila berjalan di rumput yang tebal dan potong pendek rumput di sekitar rumah, tempat kerja dan sekolah dan pergunakan senter bila berjalan di malam hari.

E. gambaran gigian ular berbisa
Gambaran gigian ular berbisa akan timbul rasa nyeri daerah tusukan (muncul segera seelah gigitan), daerah gigitan bengkak, kemerahan, memar (dapat cepat berkembang), reaksi emosi yang kuat, penglihatan kembar/kabur, mengantuk, sakit kepala, pusing dan pingsan, mual dan atau muntah dan diare, rasa sakit atau berat didada dan perut, tanda-tanda tusukan gigi, gigitan biasanya pada tungkai/kaki, sukar bernafas dan berkeringat banyak, kesulitan menelan serta kaku di daerah leher dan geraham.

F. Pertolongan pertama
pertolongan pertama, pastikan daerah sekitar aman dan ular telah pergi segera cari pertolongan medis jangan tinggalkan korban. selanjutnya lakukan prinsip :
R = Reassure = yakinkan kondisi korban, tenangkan dan istirahatkan korban,
kepanikan akan menaikan tekanan darah dan nadi sehingga racun akan lebih cepat
menyebar ke tubuh. terkadang pasien pingsan / panik karena kaget.
I = Immobilisation = jangan menggerakan korban, perintahkan korban untuk tidak
berjalan atau lari. Jika dalam waktu 30 menit pertolongan medis tidak datang:
lakukan tehnik balut tekan ( pressure-immoblisation ) pada daerah sekitar gigitan
(tangan atau kaki) lihat prosedur pressure immobilization (balut tekan)
G = Get = bawa korban ke rumah sakit sesegera dan seaman mungkin.
T =Tell the Doctor = informasikan ke dokter tanda dan gejala yang muncul pada
korban.

G. Prosedur Pressure Immobilization (balut tekan)
1. Balut tekan pada tangan
a. Istirahatkan (Immobilisasikan) Korban
b. Keringkan sekitar luka gigitan
c. Gunakan pembalut elastis
d. Jaga luka lebih rendah dari jantung
e. Sesegera mungkin, lakukan pembalutan dari bawah pangkal jari kaki naik keatas.
f. Biarkan jari kaki jangan dibalut
g. Jangan melepas celana atau baju korban
h. Balut dengan cara melingkar cukup kencang namun jangan sampai menghambat
aliran darah (dapat dilihat dengan warna jari kakiyang tetap pink)
i. Beri papan/pengalas keras sepanjang kaki.

2. Balut tekan pada tangan
a. Balut dari telapak tangan naik keatas. ( jari tangan tidak dibalut)
b. Balut siku & lengan dngn posisi ditekuk 90 drjt.
c. Lanjutkan balutan ke lengan s/d pangkal lengan.
d. Pasang papan sebagai fiksasi
e. Gunakan mitela untuk menggendong tangan

H. Kesalahan Penanganan
Kesalahan penanganan yg sering dilakukan, mengikat (Tourniquets) sekitar luka /gigitan membuat sayatan memotong, membuat perdarahan atau menggerakan daerah gigitan, mencuci luka gigitan dan menyedot racun dari luka gigit
I. Pertolongan di RS
1. Pasang I.V.,
2. resusitasi cairan jika diperlukan
3. Pelacakan alergi,
4. Jenis gigitan untuk menentukan antibisa
5. Resusitasi kardiopulmoner jika diperlukan,
6. Adrenalin
7. Cek laboratorium darah, jika dlm waktu 4 jam darah korban tidak terdapat tanda
koagulopati, miolisis dan pasien tidak menunjukan tanda gigitan berbisa maka pasien
tidak terkena gigitan berbisa.

J. Penatalaksanaan gigitan ular berbisa
1. Infus RL,
2. resusitasi cairan jika diperlukan
3. Cek laboratorium
4. Urinalisa
5. Darah lengkap
6. Golongan darah
7. Ptt,aptt, fibrinogen
8. BUN, creatinin, Va, phospat, dll
9. EKG
10. Monitor ketat pasien ( tiap 15mnt – 2 jam setelah gigitan )
11. Intubasi jika gagal nafas, cek sumbatan jalam nafas
12. RKP jika cardipulmonary arrest
13. pemberian antibisa
14. Larutkan antibisa dalam RL 60 cc,
15. berikan selama 30 mnt
16. Cek efek antibisa 15 menit setelah antibisa habis
17. Kemudian buka balutan dng hati-hati dlm waktu 5 mnt,
18. Jika setelah dibuka keadaan umum pasien tambah buruk
19. lakukan pembidaian kembali
20. Beri ATSAntibiotik profilaksis
21. Kontraindikasi diberikan Morfin

SELAMAT MENCOBA...

Sumber : perkuliahan Ibu Sri Setyorini, 2008

Read more...

Metode Pembelajaran

Minggu, Januari 17, 2010

Strategi pembelajaran tuntas sebenarnya menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik, sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal.

Adapun langkah-langkahnya adalah :

1. mengidentifikasi prasyarat (prerequisite),
2. membuat tes untuk mengukur perkembangan dan pencapaian kompetensi,
3. mengukur pencapaian kompetensi peserta didik.


Metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran tuntas adalah pembelajaran individual, pembelajaran dengan teman atau sejawat (peer instruction), dan bekerja dalam kelompok kecil. Berbagai jenis metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok.

Pembelajaran tuntas sangat mengandalkan pada pendekatan tutorial dengan sesion-sesion kelompok kecil, tutorial orang perorang, pembelajaran terprogram, buku-buku kerja, permainan dan pembelajaran berbasis komputer (Kindsvatter, 1996)

2. Peran Guru

Strategi pembelajaran tuntas menekankan pada peran atau tanggung jawab guru dalam mendorong keberhasilan peserta didik secara individual. Pendekatan yang digunakan mendekati model Personalized System of Instruction (PSI) seperti dikembangkan oleh Keller, yang lebih menekankan pada interaksi antara peserta didik dengan materi/objek belajar.

Peran guru harus intensif dalam hal-hal berikut:

1. Menjabarkan/memecah KD (Kompetensi Dasar) ke dalam satuan-satuan (unit-unit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya.
2. Mengembangkan indikator berdasarkan SK/KD.
3. Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi
4. Memonitor seluruh pekerjaan peserta didik
5. Menilai perkembangan peserta didik dalam pencapaian kompetensi (kognitif, psikomotor, dan afektif)
6. Menggunakan teknik diagnostik
7. Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi peserta didik yang mengalami kesulitan

3. Peran Peserta didik

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi sangat menjunjung tinggi dan menempatkan peran peserta didik sebagai subjek didik. Fokus program pembelajaran bukan pada “Guru dan yang akan dikerjakannya” melainkan pada ”Peserta didik dan yang akan dikerjakannya”. Oleh karena itu, pembelajaran tuntas memungkinkan peserta didik lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan. Artinya, peserta didik diberi kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensinya. Kemajuan peserta didik sangat bertumpu pada usaha serta ketekunannya secara individual.

4. Evaluasi

Penting untuk dicatat bahwa ketuntasan belajar dalam KTSP ditetapkan dengan penilaian acuan patokan (criterion referenced) pada setiap kompetensi dasar dan tidak ditetapkan berdasarkan norma (norm referenced). Dalam hal ini batas ketuntasan belajar harus ditetapkan oleh guru, misalnya apakah peserta didik harus mencapai nilai 75, 65, 55, atau sampai nilai berapa seorang peserta didik dinyatakatan mencapai ketuntasan dalam belajar.

Asumsi dasarnya adalah:

1. bahwa semua orang bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan berbeda,
2. standar harus ditetapkan terlebih dahulu, dan hasil evaluasi adalah lulus atau tidak lulus. (Gentile & Lalley: 2003)

Sistem evaluasi menggunakan penilaian berkelanjutan, yang ciri-cirinya adalah:

1. Ulangan dilaksanakan untuk melihat ketuntasan setiap Kompetensi Dasar
2. Ulangan dapat dilaksanakan terdiri atas satu atau lebih Kompetensi Dasar (KD)
3. Hasil ulangan dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan program pengayaan.
4. Ulangan mencakup aspek kognitif dan psikomotor
5. Aspek afektif diukur melalui kegiatan inventori afektif seperti pengamatan, kuesioner, dsb.

Sistem penilaian mencakup jenis tagihan serta bentuk instrumen/soal. Dalam pembelajaran tuntas tes diusahakan disusun berdasarkan indikator sebagai alat diagnosis terhadap program pembelajaran. Dengan menggunakan tes diagnostik yang dirancang secara baik, peserta didik dimungkinkan dapat menilai sendiri hasil tesnya, termasuk mengenali di mana ia mengalami kesulitan dengan segera. Sedangkan penentuan batas pencapaian ketuntasan belajar, meskipun umumnya disepakati pada skor/nilai 75 (75%) namun batas ketuntasan yang paling realistik atau paling sesuai adalah ditetapkan oleh guru mata pelajaran, sehingga memungkinkan adanya perbedaan dalam penentuan batas ketuntasan untuk setiap KD maupun pada setiap sekolah dan atau daerah.

Read more...

PERUBAHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR PD PROSES MENUA

Rabu, Januari 13, 2010


  • Pusat pengaturan tidur dan bangun ada di hipotalamus

Dasar pemeriksaan dgn: EEG,EOG, dan EMG menentukan tahap tidur, yaitu:

1. NREM (non rapid eye movement), dan

    tahap 1 dan 2 : Light sleep

    tahap 3 dan 4 : deep sleep

2. REM (rapid eye movement)

  • SIKLUS TIDUR
  • Faktor2 yg mempengaruhi kualitas tidur pd lansia:
  1. Umur
  2. Lingkungan
  3. Nyeri
  4. Penyakit
  5. Diet (xanthin, caffein)
  6. Penggunaan obat (antisaporific)
  7. Issue psikososial
  • Perub fisiologis yg normal
  1. Jml sel menurun - fgs neurotransmiter mengalami penurunan (sistem syaraf)
  2. Nervus perifer mengalami degeneratif

    (konduksi motorik-sensorik)

3. Perub ritme sirkadian

  1. Kebut tidur < 8 jam/hr tanpa terganggu
  2. Mudah cepat lelah (kurang istirahat)
  3. Penurunan waktu aktual tidur
  4. Peningkatan wktu total tidur/berbaring
  5. Peningkatan latensi tidur (wkt menjelang tidur)
  6. Peningkatan frekuensi terjaga (bangun) tiap malam
  7. Tidur REM sering terpotong
  8. Peningkatan tahap I tidur
  9. Tahap 3 dan 4 kurang dalam

h. Penurunan efisiensi tidur

i. Lbh mudah terganggu

j. Kualitas tidur tidak baik

k. Peningkatan rasa kantuk

  • Perub fisiologis yg tdk normal

1. Apnea

    * kurangnya aliran udara dr hidung & mulut

     (10")

    * dlm brp jam mlm hr tjd 30 episode apnea

    * bs tjd 300 kali setiap malam & 120"/apnea

    * 15 kali lbh byk pria : wanita krn obesitas,     pendek dan leher tebal

    * Kelihatan ngantuk sepanjang hari

    * resiko cardiovaskuler & komplikasi

     pernapasan.

2. Periodic limb movement

    (nocturnal myoclonus)

    * myoclonous pd mlm hari

    * Konstraksi kaki yg berulang (per 30")

    * Konstraksi muncul 5-60 ' & dpt

     insomnia

    * tdk ada penyebab yg pasti, srg tjd pd

     DM, GG ginjal, Sedatif, kopi, alkohol.

  • 3. Restless legs syndrome
  • Ada perasaan yg sgt tidak nyaman yg merayap pd kaki shg tdk bs memindah kaki, jln, berdiri.
  • Tjd pd saat mengantuk, wkt duduk lama dikursi a/ tempat tidur
  • Wkt tidur sgt berkurang

4. Gg istirahat dan tidur krn dimentia:

    a. peningkatan NREM,

    b. Penurunan REM

    c. Penurunan deep sleep

    d. peningkatan prevalensi sleep apnea

    e. disorientasi t.u mlm hari jk terbangun

5. Penurunan tingkat kesadaran

    dr ringan smp berat a/ pingsan krn faktor tumor intrakarnial, hematoma subdural

  • Klasifikasi Internasional GG tidur

I. Dyssomnias (Insomnia):

    a. GG memulai a/ memperthnkan tidur

    b. GG tidur instrinsik spt: nocturnal myoclonus

    c. GG tidur ekstrinsik spt: environment sleep

disorder, hypnotic-dependent sleep disorder

    d. GG irama sirkadian tidur spt: shift-work sleep

disorder, time zone change sleep disorder

II. Parasomnia, mcmnya:

    a. arousal disorder spt: confusional

     arousals, sleepwalking

    b. GG transisi tidur-bangun spt gg gerakan

     yg berirama

    c. parasomnia yg berhub dgn REM spt

     nightmare

    d. parasomnia lainnya: enuresis,

     mendengkur

III. GG Psikiatric a/ drugs:

    a. gg mental spt: psikosis, gg mood

    b. gg neurologi spt: dimensia, parkinson

    c. gg pengobatan spt: peny, obstruksi

     pulmonal kronik, nocturnal cardiac

ischemia

  • Klasifikasi GG tidur menurut:
    Association of sleep disorder centers, 1999:
  1. Disorder of initiating and maintaining sleep (DIMS)
  2. Disorder of excessive somnolence (DOES)
  3. Disorder of the sleep-wake cycle
  4. Abnormal sleep behavior, parasomnias
  • ASSESSMENT

A. Riwayat( gunakan tabel REST)

    1. Review of perception related to

         the problem

    2. Evaluateion of related factors

    3. Sleep disorder

    4. Typical daytime and nighttime

     routines

  • Review of perception related to
             the problem
  1. Ceritakan masalah tidur
  2. Sdh berapa lama
  3. Bgmn perub pola tidur terjadi
  4. Sejak kapan masalah ini muncul
  5. Apa sj peningkatan masalah tidur
  6. Apa sj penyebab susah tidur
  7. Seriuskah masalah ini?
  • Evaluation of related factors
  1. Ceritakan pola makan dlm sehari
  2. Apakah mgunakan alkohol/xanthin/caffein
  3. Apakah merokok, obat-obatan
  4. Apa nama obat u/ tidur
  5. Adakah depresi/cemas
  6. Adakah penyakit kronis
  7. Adakah nyeri, perasaan tdk nyaman
  8. Adakah faktor spesifik: perub kehidupan, perub makan, mental/fisik
  • Sleep disorder
  1. Apakah mendengkur
  2. Apakah kaki menghentak pd mlm-siang
  3. Adakah kelambanan/capek pd kaki
  4. Apakah rasa kantuk sepanjang hari
  • Typical daytime and nighttime routines

1. Ceritakan jenis aktivitas siang:

    a. sejauh mana masalah tidur mengubah

     kebiasaan sehari hari

    b. suka tidur siang? Brp sering?

     Lamanya? Kapan?

2. Ceritakan jenis kegiatan pd malam hari

    a. tidur dimana,

    b. apa yg dimakan/minum 1 jm sblm tidur

    c. kapan tidur

    d. kegiatan sblm tidur

    e. brp lama wkt u/ bs tidur

    f. brp sering terbangun, brp lama

    g. apa kegiatan yg dilakukan

    h. strategi apa agar bs tidur lagi

    i. brp jam digunakan u/ tidur,

    j. jam brp bangun pagi

  • Faktor2 penting u/ dikaji
  1. Periode lethargi, rasa kantuk,
  2. Bingung
  3. Disorientasi, rasa malas
  4. Sakit kepala
  5. Amnesia
  • Pemeriksaan fisik

U/ mengetahui:

  1. Nystagmus (pergerakan involunter bola mata)
  2. Tremor pd tangan
  3. Ptosis (penurunan kelopak mata)
  4. Peningkatan sensitivitas nyeri
  5. Perubahan mimik
  • Gejala2 lain yg perlu diidentifikasi:
  1. Fatigue, penurunan kesadaran, kelesuan, penurnan konsentrasi/kemampuan motorik, agitasi, lelah, iritabilitas
  2. Penurunan sensori: respon dr stimulus
  3. Observasi reaksi terhadap respon
  4. Kemampuan melihat dan mendengar
  • Problem keperawatan
  1. Resiko injury
  2. GG komunikasi verbal
  3. Perub proses berpikir
  4. GG mobilitas fisik
  5. Perub persepsi a/ sensori
  6. Personal hygiene
  7. Konsep diri
  8. GG pola tidur dll
  • Intervensi: GG pola tidur
  1. Review kembali persepsi terhadap masalah
  2. Evaluasi faktor yg behub dgn masalah
  3. Identifikasi kebiasaan siang/mlm
  4. Kaji kebiasaan yg mengganggu tidur
  5. Diskusikan dgn klien ttg kebutuhan stimulasi sosial
  6. Rencanakan istirahat siang hari
  7. Edukasi pd klien dan keluarga
  8. Modifikasi lingkungan
  9. Meningkatkan kemampuan fungsional
  10. Memberikan support
  11. Meningkatkan tidur
  12. Diet a/ nutrisi
  13. Penatalaksanaan obat
  • Tindakan non-spesifik u/ menginduksi tidur
  1. Bangun pd wkt yg sama setiap hari
  2. Batasi wkt ditempat tidur setiap hari
  3. Hentikan obat/stimulan lainnya
  4. Hindari tidur sekejab pd siang hari
  5. Dptkan hub fisik dgn olah raga
  6. Hindari stimulasi mlm hari
  7. Makan dgn wkt yg teratur dan hindari makan byk sblm tidur
  8. Lakukan relaksasi rutin pd malam hari
  9. perthNKn kondisi tidur yg menyenangkan

10. Tidurlah hanya sebanyak yang anda

     perlukan.

11. Miliki jadual tidur reguler

12. Jgn bekerja menjelang tidur

13. Kurangi kebisingan dan cahaya dlm

kamar dan suhu kamar dlm keadaan

     nyaman

14. Jgn tidur dlm keadaan lapar

15. Hindari melihat jam

16. Hilangkan kekwatiran sblm tidur

  • Referensi

Angela, et.al, 1996. Essentials of gerontological nursing, adaptation to the aging process, JB Lipincott, comp.

Annete, GL. 1996. Gerontological nursing, Mosby year Book, St, Louis Miss.

Prayitno. 2002. gangguan pola tidur pada kelompok usia lanjut dan penatalaksanaannya. Journal Kedokteran Trisakti, jan-April 2002, vol. 21 no. 1.

Read more...

tokoh keperawatan berkata:

Menurut Martha. E. Rogers, untuk mengadakan suatu perubahan perlu ada beberapa langkah yang ditempuh sehingga harapan dan tujuan akhir dari perubahan dapat dicapai . Langkah-langkah tersebut antara lain :
Tahap Awereness,
Tahap ini merupakan tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan diperlukan adanya kesadaran untuk berubah apabila tidak ada kesadaran untuk berubah, maka tidak mungkin tercipta suatu perubahan
Tahap Interest
Tahap yang kedua dalam mengadakan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari perubahan yang dikenalkan. Timbulnya minat akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah
Tahap Evaluasi
Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjadi hambatan yang akan ditemukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan
Tahap Trial
Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan
Tahap Adoption
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat dari sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.

banner_ku

Image and video hosting by TinyPic

Tukar Banner

Tukeran link



Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali

Image and video hosting by TinyPic

banner blog-blog lainnya

Image and video hosting by TinyPic http://bengawan.org/

among us

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP