POLIP HIDUNG

Minggu, Mei 16, 2010

Pengertian :
Polip hidung adalah massa yang lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang terdapat dalam rongga hidung.

Etiologi
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat hipersensitifitas atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi terhadap kejadian polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi tidak ada keraguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal serinkali ditemuakan bersamaan dengan adanya polip.
Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang terjadai pada anak-anak . Polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis (mucoviscidosis)

Patofisiologi
Polip berasal dari pembengkakan mukosa hidung yang terdiri atas cairan interseluler dan kemudian terdorong ke dalam rongga hidung dan gaya berat.
Polip dapat timbul dari bagian mukosa hidung atau sinus paranasal dan seringkali bilateral. Polip hiung paling sering berasal dari sinus maksila (antrum) dapat keluar melalui ostium sinus maksilla dan masuk ke ronga hidung dan membesar di koana dan nasopharing. Polip ini disebut polip koana.
Secara makroskopik polip tershat sebagai massa yang lunak berwarna putih atau keabu-abuan. Sedangkan secara mikroskopik tampak submukosa hipertropi dan sembab. Sel tidak bertambah banyak dan terutama terdiri dari sel eosinofil, limfosit dan sel plasma sedangkan letaknya berjauhan dipisahkan oleh cairan interseluler. Pembuluh darah, syaraf dan kelenjar sangat sedikit dalam polip dan dilapisi oleh epitel throrak berlapis semu.

Reaksi Alergi/Hipersensitivitas
I
I
Edema mukosa nasal
(Pembengkakan mukosa hidung)
I
I
Persisten
I
I
Polip Hidung
I
I
Ggn. Pola nafas




Gejala Klinik :
- Sumbatan hidung
- Hiposmia / anosmia
- Sinusitis, nyeri kepala, rinorhea
- Alergi; berupa bersin-bersin dan iritasi


Pengobatan :
Polip yang masih kecl dapat diobati dengan kortikosteroid (secara konservatif) baik lokal maupun secara sistemik. Pada polip yang cukup besar dan persisten dilakukan tindakan operatif berupa pengangkatan polip (polipectomy).
Dalam kejadian polip berulang maka dilakukan etmoidectomy baik intranasal maupun ekstranasal.

Proses Keperawatan

Pengkajian
AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Gejala : Kelelahan, kelemahan atau malaise umum
Tanda : Penurunan kekuatan, menunjukkan kelelahan

SIRKULASI
Gejala Lelah, pucat atau tidak ada tanda sama sekali
Tanda Takikardia, disritmia.
Pucat (anemia), diaforesis, keringat malam.

INTEGRITAS EGO
Gejala Masalah finansial : biaya rumah sakit, pengobatan .
Tanda Berbagai perilaku, misalnya marah, menarik diri, pasif

MAKANAN/CAIRAN
Gejala Anoreksia/kehilangan nafsu makan
Adanya penurunan berat badan sebanyak 10% atau lebih dari berat badan dalam 6 bulan sebelumnya dengan tanpa upaya diet.
Tanda -

NYERI/KENYAMANAN
Gejala Nyeri tekan/nyeri pada daerah hidung
Tanda Fokus pada diri sendiri, perilaku berhati-hati.

PERNAPASAN
Gejala Dispnea
Tanda Dispnea, takikardia
Pernafasan mulut
Tanda distres pernapasan, sianosis.(bila obstruksi total)
Terdapat pembesaran polip


1. Rencana Keperawatan
PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Memberikan dukungan fisik dan psikologi selama tes diagnostik dan program pengobatan.
2. Mencegah komplikasi
3. Menghilangkan nyeri
4. Memberikan informasi tentang penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan

TUJUAN PEMULANGAN
1. Komplikasi dicegah/menurun
2. Nyeri hilang/terkontrol
3. Proses penyakit/prognosis, kemungkinan komplikasi dan program pengobatan di pahami.

Diagnosa Keperawatan Pola Pernapasan/Bersihkan Jalan Napas, Tak Efektif Resiko Tinggi Terhadap
Hasil Yang Diharapkan/Kriteria Evaluasi Pasien Akan Mempertahankan Pola Pernapasan Normal/Efektif Bebas Dispnea, Sianosis Atau Tanda Lain Distres Pernapasan

Read more...

LABIOPALATO SCHISIS

A. Pengertian
Labioschizis terdiri dari dua pengertian yaitu:
1. Labioshizis (bibir sumbing) adalah suatu celah yang membentang dari bibir atas kadang- . kadang sampai lubang hidung, bisa uni-lateral atau bi-lateral
2. Palatoschizis (sumbing langit-langit mulut) adalah bagian lateral palatum gagal bertemu satu sama lain sehingga tidak terjadi pernyataan (fusi) digaris tengah, keadaan ini menimbulkan patoschizis dengan demikian rongga mulut berhubungan dengan rongga hidung.
Kelainan seperti tersebut diatas bisa terjadi Labioschizis saja atau Palatischizis saja bahkan bisa kedua-duanya. Cacat in terjadi pada minggu kelima masa gestasi (dalam kandungan).

B. Tanda dan gejala
1. Adanya celah bibir pada tulang rawan cuping hidung
2. Celah langit-langit sehingga bisa menyebabkan terjadinya aspirasi dan tidak tecukupinya pembeian makanan, kesulitan mengeluarkan kata-kata atau suara ekplosif sehingga p,b,t,d,h atau hurud berdesis sepeti s, sh, c
3. Pergerakan kedua cuping hidung pad waktu bicara ketidakmampuan bersiul berkumur-kumur meniup lilin atau meniup sebuah balon
C. Patofisiologi
1. Labioshizis
Orifisio oralis primer dimodifikasi menjadi mulut dengan hidung oleh procesus maxilaris lateralis yang terbentuk dan kemudian tumbuh kearah medial. Palatum dan bibit sebelah atas dibentuk oleh processus maxilaris yang bertemu dengan processus nasalis yang tumbuh kebawah. Kegagalan tulang maxilaris dan naasalis untuk tumbuh bersama dan menyatu menyebabkan menetapnya celah.

2. Palatoschizis
Bagian lateral dari palatum gagal bertemu processus nasalis sehingga tidak terjadi penyatuan digaris tengah. Dengan demikian rongga mulut berhubungan dengan rongga hidung. Derajat palatum yang ringan hanya mengenai palatum mole saja.

Penyebab Labioschizis dikarenakan:
1. Faktor Genetik
2. Obat-obatan (terutama Cortikosteroid)
3. Radiasi
4. Hypoxia In-Uteri
5. Penyakit ibu saat mengandung
6. Pengaruh makanan
7. Perubahan seksual karena faktor keturunan
Palatum (langit-langit) terdiri dari 2 bagian yaitu :
1. Palatum Keras
Tersusun atas tajuk-tajuk palatum dari arah depan tulang maxilaris dan dua tulang palatum.
2. Palatum lunak
Lipatan lengantung yang dapat bergerak dan tediri atas otot jaringan fibrus dan selaput lendir.

D. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dilakukan bila anak mau dilakukan tindakan medis operasi dan untuk mengetahui kelainan bila ada faktor yang mencolok.
2. Pemeriksaan radiologis

E. Manajemen terapi
Terdapat tiga tahap penanganan labiopalato schisis yaitu tahap sebelum operasi, tahap sewaktu operasi dan tahap setelah operasi. Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi menerima tindakan operasi, asupan gizi yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang dicapai dan usia yang memadai. Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat badan lebih dari 10 pounds atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr % dan usia lebih dari 10 minggu.
Ketika bayi belum mencapai rule of ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan pada orang tua agar kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah. Misalnya memberi minum harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik susu dapat memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat bayi tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup, jika dot dengan besar lubang khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi minum dengan bantuan sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak untuk menghindari masuknya susu melewati langit-langit yang terbelah. Selain itu celah pada bibir harus direkatkan dengan menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga agar celah pada bibir menjadi tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh kembang yang menyebabkan menonjolnya gusi kearah depan (protrusio pre maksila) akibat dorongan lidah pada prolabium , karena jika hal ini terjadi tindakan koreksi pada saat operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika hasil akhir yang didapat tidak sempurna. Plester non alergenik tadi harus tetap direkatkan sampai waktu operasi tiba.
Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi, pada saat ini yang diperhatikan adalah soal kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi, hal ini hanya bisa diputuskan oleh seorang ahli bedah Usia optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3 bulan Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir sudah terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi kurang sempurna. Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada usia 18 – 20 bulan mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah.
Operasi yang dilakukan sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech teraphy karena jika tidak, setelah operasi suara sengau pada saat bicara tetap terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah, sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah.. Bila gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi labiognatopalatoschizis, koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia 8 – 9 tahun bekerja sama dengan dokter gigi ahli ortodonsi
Tahap selanjutnya adalah tahap setelah operasi, penatalaksanaanya tergantung dari tiap-tiap jenis operasi yang dilakukan, biasanya dokter bedah yang menangani akan memberikan instruksi pada orang tua pasien misalnya setelah operasi bibir sumbing luka bekas operasi dibiarkan terbuka dan tetap menggunakan sendok atau dot khusus untuk memberikan minum bayi. Banyaknya penderita bibir sumbing yang datang ketika usia sudah melebihi batas usia optimal untuk operasi membuat operasi hanya untuk keperluan kosmetika saja sedangkan secara fisiologis tidak tercapai, fungsi bicara tetap terganggu seperti sengau dan lafalisasi beberapa huruf tetap tidak sempurna, tindakan speech teraphy pun tidak banyak bermanfaat

1. Prinisip-prinsip umum perbaikan
a. Labioschizis
Labioschizis sebenarnya tidak ada jaringan yang hilang, masalahnya adalah bagaimana membentuk kembali jaringan bibir yang tersedia yang ada tetapi terpisah. Insisi direncanakan untuk membentuk bibir utuh yang terlihat nomal, dan pada saat bersaman memperbaiki deformitas cuping hidung.

b. Palatoschizis
Dalam memperbaiki paltoschizis tidak perlu mendapatkan perstuan tulang, tetapi hanya memindahkan kedua dan mucoperisteum paatum ke garis tengah dan menyatukan. Tujuannya untuk meno belahan tersebut dan untuk memastikan panjang dari patahan mole untuk penutupan velofaringeal yang baik. Jika palatumnakan mencukupi tetapi pada kebanyakan kasus dipelukan suatu operasi pemanjangan palatumnya cukup panjang. Pendekatan kedua belah digaris tengah

2. Prosedur perbaikan tambahan
a. Hidung dan bibir
Mungkin diperukan perbaikan deformitas cupung hidung biasanya cacat pada pendataran cuping hidung pada sisi sumbing, mungkin diinginkan perbaikan kecil pada bagian merah bibir. Pada kasus labiochizis bilateral serta pebaikan hidung karena kulumeta hidung memendek dan ujung hidung tertarik kebawah. Dismping itu bibir atas dan maksia kurang lubang mka rotasi bagian sentral bagian bibir atas menghasilkan kemajuan nyata.
b. Palatum dan faring
Pemendekan palatum karena tidak memadainya penutup angelo faringeal yang merupakan sebab utama dari suara sengau. Pada kasus -kasus ringan cukup dengan prosedur”V-Y”. tetapi pada kebanyakan kasus pelru dilakukan opeasi “Flap aringeal” yaitu peningkatan flap mucos dan oto pada dinding faring posterior dan melekatkanya pada permukaan atas palatum mole yang telah dibedah untuk mempersiapkannya.
Komplikasi yang bisa terjadi :
1. Otitis media berulang
2. Pegeseran lengkung maksila seta mal posisi geligi
3. Kelainan bicara
4. Aspirasi
5. Respiratory distress

BAB II. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN LABIOPALATOSCHISIS
A. PENGKAJIAN
1. Pra Bedah
Pengkajian keperawatan pada pasien pra bedah, pada klie adalah adanya bibir atas dan palatum terbelah universal atau bilateral, kemudian anak tidak dapat menghisap makanan/putting susu ibu. Orang tua merasa sedih karena kelahiran anaknya yang cacat, orang tua tidak bias merawat anaknya, terjadi kesulitan bicara, deformitas gigi yang mencolok.
2. Intra bedah
Pada pengkajian data intra bedah pada klien adalah klien mengalami resiko gangguan homeostasis karena adanya tindakan anestesi, kesadaran akan menurun dan pada proses pembedahan akan terdapat resiko perdarahan.
3. Pasca Bedah
Pengkajian pada pasien pasca operasi adalah data terdapatnya luka operasi pada bgian bibir bagian atas, tangan selalu bergerak kemulut, anak tidak dapat menghisap, anak mengalami keterbatasan gerak, orang tua menyatakan tidak dapat merawatnya.

Read more...

STRUMA

A. Definisi
Struma merupakan suatu pembesaran kelenjar thyroid.

B. Klasifikasi
Secara umum stroma dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1. Struma non-toksik : struma tanpa disertai hipertiroidisme.
a. Difusa : endemic goiter, gravida
b. Nodusa : neoplasma
2. Struma toksik : struma yang disertai hipertiroidisme
a. Difusa : Grave, Tirotoksikosis primer.
b. Nodusa : Tirotoksikosis sekunder.
Dapat juga dibagi berdasarkan klasifikasi yang lain yaitu:
3. Berdasarkan banyaknya nodul
Bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter atau uninodosa. Bila lebih dari satu disebut struma multinodosa.
4. Bertdasarkan kemampuan menangkap yodium radioaktif.
Disebbut cold nodule bila tidak ada penangkapan yodium atau kurang daro sekitarnya.
Warm nodule bila penangkapan yodium sama seperti jaringan sekitarnya.
Hot nodule bila penangkapan yodium melebihi jaringan sekitarnya.
5. Berdasarkan konsistensinya
Kurang keras sampai sangat keras.
6. Berdasarkan keganasan ( Benigna/non maligna dan maligna )
Adanya keganasan pada struma nodosa nontoksik nodosa dicurigai ialah srtuma endemik atau sporadik, kita tiroid, tiroiditis, tumor tiroid ( endnoma dan karsinoma tiroid ).

C. Etiologi
1. Defisiensi Iodium, seperti pada endemic goiter, gravida.
2. Autoimun : Tiroiditas, Hashimoto.
3. Defisiensi enzyme kongenital : Dyshormonogenetis Goiter.
4. Idiopatik : Struma riedel de Quervein’s, Grave, Neoplasma.
a. Penyebab struma nodusa non toksik bermacam-macam. Pada setiap orang dapat dijumpai massa dimana pertumbuhan kebutuhan terhadap tiroksin bertambah, terutama pada masa pertumbuhan, pubertas, menstruasi, kehamilan, laktasi, menopause, infeksi dan stress lain. Pada masa-masa tersebut dapat ditemui hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid. Perubahan ini dapat menimbulkan nodularitas kelenjar tiroid serta kelainan arsitektur yang dapat berlanjut dengan berkurangnya aliran darah di daerah tersebut sehingga terjadi iskemia.
b. Adapun penyebab struma difusa toksik, walaupun etiologinya tidak diketahui tampaknya terdapat peran antibody terhadap reseptor TSH yang menyebabkan peningkatan produksi tiroid. Penyakit ini ditandai dengan peninggian penyerapan yodium radioaktif oleh kelenjar tiroid.

D. Manifestasi klinik
Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan, maka tanda dan gejala pasien struma adalah :

a. Status Generalis (umum)
1) Tekanan darah meningkat (systole)
2) Nadi meningkat
3) Mata :
- Exophtalamus
- Stellwag sign : jarang berkedip
- Von Graefe sign : palpebra mengikuti bulbus okuli waktu melihat ke bawah.
- Morbius sign : sukar konvergensi
- Jeffroy sign : tak dapat mengerutkan dahi.
- Rossenbach sign : tremor palpebra jika mata ditutup.
4) Hipertoni simpatis : kulit basah dan dingin, tremor
5) Jantung : takikardi.

b. Status Lokalis : Regio Colli Anterior.
1) Inspeksi : benjolan, warna, permukaan, bergerak waktu menelan.
2) Palpasi :
- permukaan, suhu
- Batas atas----- kartilago tiroid
- Batas bawah --- incisura jugularis
- Batas medial --- garis tengah leher
- Batas lateral --- m.sternokleidomastoid.
3) Struma kistik
- Mengenai 1 lobus
- Bulat, batas tegas, permukaan licin, sebesar kepalan.
- Kadang multilobularis.
- Fluktuasi (+)
4) Struma Nodusa
- Batas jelas
- Konsistensi : Kenyal sampai keras
- Bila keras curiga neoplasma, umumnya berupa adenocarsinoma tiroidea
5) Struma Difusa
- Batas tidak jelas
- Konsistensi biasanya kenyal, lebih kearah lembek.
6) Struma vaskulosa
- Tampak pembuluh darah (biasanya arteri), berdenyut
- Auskultasi : Bruit pada neoplasma dan struma vaskulosa
- Kelenjar getah bening : Paratracheal Jugular Vein

E. Diagnosa
1. Anamnesa
- Usia dan jenis kelamin
- Benjolan pada leher, lama dan pembesarannya.
- Gangguan menelan, suara serak (gejala penekanan), nyeri.
- Riwayat radiasi di daerah leher dan kepala.
- Asal/tempat tinggal.
- Riwayat keluarga
- Struma toksik : kurus meski banyak makan, irritable, keringat banyak, nervous, palpitasi, tidak tahan udara panas, hipertoni simpatikus (kulit basah, dingin dan tremor halus).
- Struma non toksik : gemuk, malas dan banyak tidur, ganggun pertumbuhan.
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan penunjang
a. Scanning tiroid
- Presentasi uptake dan I131 yang didistribusikan tiroid.
- Dari uptake dapat ditentukan fungsi tiroid
- Uptake normal, 15-40% dalam 24 jam.
- Hot area : uptake > normal, jarang pada neoplasma
Misal pada : struma adenomatosa, adenoma toksik, radang neoplasma.
- Cold area : uptake < normal, sering pada neoplasma. Cold area curiga ganas jika :moth eaten appearance, pada pria usia tua/anak-anak. Contoh : kista, hematoma/perdarahan, radang neoplasma. b. Ultrasonografi : untuk membedakan kelainan kistik/solid (neoplasma biasanya solid). c. Radiologik Foto leher, foto soft-tissue, foto thorak, bone scanning. d. Fungsi tiroid - BMR : (0,75 x N) + (0,74 + IN) – 72% - PB I mendekati kadar hormone tiroid, normal 4-8 mg% - Serum kolesterol meningkat pada hipertiroid (N: 150-300 mg%). - Free tiroksin index : T3/T4 - Hitung kadar FT4¬, TSH, Tiroglobulin, dan Calsitonin bila perlu. e. Potong beku f. Needle biopsy - Large Needle Cutting Biopsy : jarum besar, sering perdarahan. - Fine Needle Aspiration Biopsy : jarum no 22. g. Termografi Yaitu suatu metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu tempat dengan memakai dynamic telethermografi. Pemeriksaan khusus pada curiga keganasan. Hasilnya disebut panas apabila perbedaan panas dengan sekitarnya > 0,9°C dan dingin apabila < 0,9°C. Pada penelitian Alves dkk didapatkan bahwa pada yang ganas semua hasilnya panas. h. Petanda tumor Yang diukur adalah peninggian tiroglobulin (Tg) serum. Kadar Tg serum normal antara 1,5-3,0 mg/ml. Pada kelainan jinak rata-rata 323 ng/ml dan pada keganasan rata-rata 424 ng/ml. F. Penatalaksanaan Medis Modalitas terapi : 1. Radiasi. 2. Kemoterapi. a) Konservatif dengan Indikasi: - Toleransi operasi tidak baik - Struma yang residif - Pasien usia lanjut. b) Struma non-toksik : Iodium, ekstrak tiroid 30-20 mg/dl c) Struma toksik : Bed rest, lugol 5-10 mg 3xsehari selama 14 hari, PTU 100-200 mg 3xsehari, periksa leukosit. 3. Operatif a) Indikasi : - Curiga/pasti ganas - Timbul tanda-tanda desakan trachea/esophagus. - Struma toksik - Struma besar (kosmetik) - Struma retrosternal - Preventif b) Strumektomi Dilakukan pada stroma yang besar dan menyebabkan keluhan mekanis. Strumektomi juga diindikasikan terhadap kista tiroid yang tidak mengecil setelah dilakukan biopsy aspirasi jarum halus. Juga pada nodul panas dengan diameter > 2,5 mm karena dikhawatirkan mudah timbul hiperoidisme.
c) Terapi lain :
- L- tiroksin selama 4-5 bulan
Diberikan apabila nodul hangat lalu dilakukan pemeriksaan sidik tiroid ulang. Bila nodul mengecil maka terapi diteruskan namun apabila tidak mengecil dilakukan biopsy aspirasi/operasi.
- Biopsi aspirasi jarum halus
Dilakukan pada kista tiroid hingga nodul <10 cm

G. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
1. Cemas b.d prosedur pengobatan.
2. Nyeri (akut) b.d kerusakan jaringan (prosedur operatif)
3. Resiko infeksi
4. Gangguan menelan b.d obstruksi partial mekanik
5. Kurang pengetahuan b.d tidak mengenal sumber-sumber informasi.

Read more...

WSD ( Water Seal Drainage )

Pengertian :
Merupakan tindakan invasif yang dialakukan untuk mengeluarkan udara, cairan ( darah, pus ) dari rongga pleura, rongga thoraks, dan mediastinum dengan menggunakan pipa penghubung.

Indikasi dan tujuan pemasangan WSD
1. Indikasi :
* Pneumotoraks, hemotoraks, empyema
* Bedah paru :
- karena ruptur pleura udara dapat masuk ke dalam rongga pleura
- reseksi segmental msalnya pada tumor, TBC
- lobectomy, misal pada tumor, abses, TBC
2. Tujuan pemasangan WSD
* Memungkinkan cairan ( darah, pus, efusi pleura ) keluar dari rongga pleura
* Memungkinkan udara keluar dari rongga pleura
* Mencegah udara masuk kembali ke rongga pleura yang dapat menyebabkan pneumotoraks
* Mempertahankan agar paru tetap mengembang dengan jalan mempertahankan tekanan negatif pada intra pleura.

Prinsip kerja WSD
1. Gravitasi : Udara dan cairan mengalir dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah.
2. Tekanan positif : Udara dan cairan dalam kavum pleura ( + 763 mmHg atau lebih ). Akhir pipa WSD menghasilkan tekanan WSD sedikit ( + 761 mmHg )
3. Suction

Jenis WSD
1. Satu botol
Sistem ini terdiri dari satu botol dengan penutup segel. Penutup mempunyai dua lobang, satu untuk ventilasi udara dan lainnya memungkinkan selang masuk hampir ke dasar botol. Keuntungannya adalah :
- Penyusunannya sederhana
- Mudah untuk pasien yang berjalan
Kerugiannya adalah :
- Saat drainase dada mengisi botol lebih banyak kekuatan yang diperlukan
- Untuk terjadinya aliran tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol
- Campuran darah dan drainase menimbulkan busa dalam botol yang membatasi garis pengukuran drainase
2. Dua botol
Pada sistem dua botol, botol pertama adalah sebagai botol penampung dan yang kedua bekerja sebagai water seal. Pada sistem dua botol, penghisapan dapat dilakukan pada segel botol dalam air dengan menghubungkannya ke ventilasi udara.
Keuntungan :
- Mempertahankan water seal pada tingkat konstan
- Memungkinkan observasi dan pengukuran drainage yang lebih baik

Kerugian :
- Menambah areal mati pada sistem drainage yang potensial untuk masuk ke dalam area pleura.
- Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.
- Mempunyai batas kelebihan kapasitas aliran udara pada kebocoran udara.

3. Tiga botol
Pada sistem tiga botol, botol kontrol penghisap ditambahkan ke sistem dua botol. Botol ketiga disusun mirip dengan botol segel dalam air. Pada sistem ini yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ketiga dan bukan jumlah penghisap di dinding yang menentukan jumlah penghisapan yang diberikan pada selang dada. Jumlah penghisap di dinding yang diberikan pada botol ketiga harus cukup unutk menciptakan putaran-putaran lembut gelembung dalam botol. Gelembung kasar menyebabkan kehilangan air, mengubah tekanan penghisap dan meningkatkan tingkat kebisingan dalam unit pasien. Untuk memeriksa patensi selang dada dan fluktuasi siklus pernafasan, penghisap harus dilepaskan saat itu juga.
Keuntungan :
- sistem paling aman untuk mengatur pengisapan.
Kerugian :
- Lebih kompleks, lebih banyak kesempatan untuk terjadinya kesalahan dalam perakitan dan pemeliharaan.
- Sulit dan kaku untuk bergerak / ambulansi

4. Unit drainage sekali pakai
* Pompa penghisap Pleural Emerson
Merupakan pompa penghisap yang umum digunakan sebagai pengganti penghisap di dinding. Pompa Penghisap Emerson ini dapat dirangkai menggunakan sistem dua atau tiga botol.
Keuntungan :
- Plastik dan tidak mudah pecah
Kerugian :
- Mahal
- Kehilangan water seal dan keakuratan pengukuran drainage bila unit terbalik.
* Fluther valve
Keuntungan :
- Ideal untuk transport karena segel air dipertahankan bila unit terbalik
- Kurang satu ruang untuk mengisi
- Tidak ada masalah dengan penguapan air
- Penurunan kadar kebisingan
Kerugian :
- Mahal
- Katup berkipas tidak memberikan informasi visual pada tekanan intra pleural karena tidak adanya fluktuasi air pada ruang water seal.
* Calibrated spring mechanism
Keuntungan :
- Idem
- Mampu mengatasi volume yang besar
Kerugian
- Mahal

Tempat pemasangan WSD
1. Bagian apeks paru ( apikal )
2. Anterolateral interkosta ke 1- 2 untuk mengeluarkan udara bagian basal
3. Posterolateral interkosta ke 8 – 9 untuk mengeluarkan cairan ( darah, pus ).


Persiapan pemasangan WSD
* Perawatan pra bedah
1. Menentukan pengetahuan pasien mengenai prosedur.
2. Menerangkan tindakan-tindakan pasca bedah termasuk letak incisi, oksigen dan pipa dada, posisi tubuh pada saat tindakan dan selama terpasangnya WSD, posisi jangan sampai selang tertarik oleh pasien dengan catatan jangan sampai rata/ miring yang akan mempengaruhi tekanan.
3. Memberikan kesempatan bagi pasien untuk bertanya atau mengemukakan keprihatinannya mengenai diagnosa dan hasil pembedahan.
4. Mengajari pasien bagaimana cara batuk dan menerangkan batuk serta pernafasan dalam yang rutin pasca bedah.
5. Mengajari pasien latihan lengan dan menerangkan hasil yang diharapkan pada pasca bedah setelah melakukan latihan lengan.

* Persiapan alat
1. Sistem drainase tertutup
2. Motor suction
3. Selang penghubung steril
4. Cairan steril : NaCl, Aquades
5. Botol berwarna bening dengan kapasitas 2 liter
6. Kassa steril
7. Pisau jaringan
8. Trocart
9. Benang catgut dan jarumnya
10. Sarung tangan
11. Duk bolong
12. Spuit 10 cc dan 50 cc
13. Obat anestesi : lidocain, xylocain
14. Masker

* Perawatan pasca bedah
Perawatan setelah prosedur pemasangan WSD antara lain :
1. Perhatikan undulasi pada selang WSD
2. Observasi tanda-tanda vital : pernafasan, nadi, setiap 15 menit pada 1 jam pertama
3. Monitor pendarahan atau empisema subkutan pada luka operasi
4. Anjurkan pasien untuk memilih posisi yang nyaman dengan memperhatikan jangan sampai selang terlipat
5. Anjurkan pasien untuk memegang selang apabila akan mengubah posisi
6. Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu
7. Ganti botol WSD setiap tiga hari dan bila sudah penuh, catat jumlah cairan yang dibuang
8. Lakukan pemijatan pada selang untuk melancarkan aliran
9. Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas, cynosis, empisema.
10. Anjurkan pasiuen untuk menarik nafas dalam dan bimbing cara batuk yang efektif
11. Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh

Bila undulasi tidak ada, ini mempunyai makna yang sangat penting karena beberapa kondisi dapat terjadi antara lain :
1. Motor suction tidak jalan
2. Selang tersumbat atau terlipat
3. Paru-paru telah mengembang
Oleh karena itu harus yakin apa yang menjadi penyebab, segera periksa kondisi sistem drainase, amati tanda-tanda kesulitan bernafas.


Cara mengganti botol WSD
1. Siapkan set yang baru. Botol yang berisi aguades ditambah desinfektan.
2. Selang WSD diklem dulu
3. Ganti botol WSD dan lepas kembali klem
4. Amati undulasi dalam selang WSD.

Indikasi pengangkatan WSD
1. Paru-paru sudah reekspansi yang ditandai dengan :
- Tidak ada undulasi
- Tidak ada cairan yang keluar
- Tidak ada gelembung udara yang keluar
- Tidak ada kesulitan bernafas
- Dari rontgen foto tidak ada cairan atau udara
2. Selang WSD tersumbat dan tidak dapat diatasi dengan spooling atau pengurutan pada selang.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN WSD

1. Pengkajian
a. Sirkulasi
- Taki kardi, irama jantung tidak teratur ( disaritmia )
- Suara jantung III, IV, galop / gagal jantung sekunder
- Hipertensi / hipotensi
b. Nyeri
Subyektif :
- Nyeri dada sebelah
- Serangan sering tiba-tiba
- Nyeri bertambah saat bernafas dalam
- Nyeri menyebar ke dada, badan dan perut
Obyektif
- Wajah meringis
- Perubahan tingkah laku
c. Respirasi
Subyektif :
- Riwayat sehabis pembedahan dada, trauma
- Riwayat penyakit paru kronik, peradangan, infeksi paru, tumor, biopsi paru.
- Kesulitan bernafas
- Batuk
Obyektif :
- Takipnoe
- Peningkatan kerja nafas, penggunaan otot bantu dada, retraksi interkostal.
- Fremitus fokal
- Perkusi dada : hipersonor
- Pada inspeksi dan palpasi dada tidak simetris
- Pada kulit terdapat sianosis, pucat, krepitasi subkutan
d. Rasa aman
- Riwayat fraktur / trauma dada
- Kanker paru, riwayat radiasi / khemotherapi
e. Pengetahuan
- Riwayat keluarga yang mempunyai resiko tinggi seperti TB, Ca.
- Pengetahuan tentang penyakit, pengobatan, perawatan.

2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan
Dx.1. Tidak efektifnya pola nafas sehubungan dengan :
- Penurunan ekspansi paru
- Penumpukan sekret / mukus
- Kecemasan
- Proses peradangan
Ditandai dengan :
- Dyspnoe, takipnoe
- Nafas dalam
- Menggunakan otot tambahan
- Sianosis, arteri blood gas abnormal ( ABGs )
Kriteria evaluasi
- Pernafasan normal / pola nafas efektif dengan tidak adanya sianosis, gejala hipoksia dan pemeriksaan ABGs normal.

Intervensi keperawatan dan rasionalisasi
Independen
a. Identifikasi faktor presipitasi, misal :
- Kolaps spontan, trauma keganasan, infeksi komplikasi dari mekanik pernafasan
Memahami penyebab dari kolaps paru sangat penting untuk mempersiapkan WSD pada ( hemo/pneumotoraks ) dan menentukan untk terapi lainnya.
b. Evaluasi fungsi respirasi, catat naik turunnya/pergerakan dada, dispnoe, kaji kebutuhan O2, terjadinya sianosis dan perubahan vital signs.
Tanda-tanda kegagalan nafas dan perubahan vital signs merupakan indikasi terjadinya syok karena hipoksia, stress dan nyeri.
c. Auskultasi bunyi pernafasan
- Kemungkinan akibat dari berkurangnya atau tidak berfungsinya lobus, segmen, dan salah satu dari paru-paru
- Pada daerah atelektasis suara pernafasan tidak terdengar tetapi bila hanya sebagian yang kolaps suara pernafasan tidak terdengar dengan jelas.
- Hal tersebut dapat menentukan fungsi paru yang baik dan ada tidaknya atelektasis paru.
d. Catat pergerakan dada dan posisi trakea
Pergerakan dada yang terjadi pada saat inspirasi maupun ekspirasi tidak sama dan posisi trakea akan bergeser akibat adanya tekanan peumotoraks.
e. Kaji fremitus
Suara dan fibrasi fremitus dapat membedakan antara daerah yang terisi cairan dan adanya pemadatan jaringan
f. Bantu pasien dengan menekan pada daerah yang nyeri sewaktu batuk dan nafas dalam
Dengan penekanan akan membantu otot dada dan perut sehingga dapat batuk efektif dan mengurangi trauma
g. Pertahankan posisi yang nyaman dengan kepala lebih tinggi dari kaki
- Miringkan dengan arah yang sesuai dengan posisi cairan / udara yang ada di dalam rongga pleura
- Bantu untuk mobilisasi sesuai dengan kemampuannya secara bertahap dan beri penguatan setiap kali pasien mampu melaksanakannya.
Mendukung untuk inspirasi maksimal, memperluas ekspirasi paru-paru dan ventilasi.
h. Bantu pasien untuk mengatasi kecemasan /ketakutan dengan mempertahankan sikap tenang, membantu pasien untk mengontrol dengan nafas dalam.
Kecemasan disebabkan karena adanya kesulitan dalam pernafasan dan efek psikologi dari hipoksia.

Bila WSD terpasang
* Cek ruang kontrol suction untuk jumlah cairan yang keluar dengan tepat ( untuk batas air dinding regulator terpasang dengan benar ).
Mempertahankan tekanan negatif intra pleural dengan mempertahankan ekspansi paru secara optimal atau dari drainage cairan.
* Cek batas cairan dari botol WSD, pertahankan dan tentukan pada batas yang telah ditetapkan.
Cairan dalam botol WSD untuk mencegah terjadi tekanan udara dalam rongga pleura pada waktu suction tidak digunakan dan sebagai alat untuk evaluasi apakah sistem drainage berfungsi atau tidak.
* Observasi gelembung udara pada botol WSD
- Gelembung udara merupakan udara yang keluar akibat adanya reflek ekspansi pada pneumotoraks. Gelmbung udara biasanya terjadi sebagai akibat dari penurunan pengembangan paru atau terjadi selama ekspansi atau batuk pada fungsi rongga pleura menurun.
- Tidak ditemukannya gelembung udara berarti ekspansi paru normal atau terjadi hambatan seperti obstruksi pada selang.
* Evaluasi gelembung udara yang terjadi.
Dengan suction yang terpasang dapat mengidikasikan adanya kebocoran udarayang menetap mungkin dari pneumotoraks yang luas, luka insersi dari selang atau dari sistem WSD.
* Tentukan lokasi kebocoran pada pasien atau WSD ( dengan memasang klem pada selang kateter toraks distal ) dengan sedikit ditarik keluar.
Apakah bubbling terhenti ketika kateter di klem, maka kebocoran terjadi pada klien.
* Catat jumlah cairan yang keluar dari botol WSD
Rongga WSD menunjukkan adanya tekanan intra pleura dimana terjadi perbedaan tekanan pada waktu inspirasi dan ekspirasi. Perbedaan tersebut normal 2 – 6 cm.
* Monitor untuk undulasi abnormal dan catat apabila ada perubahan yang menetap atau sementara.
Peningkatan fluktuasi tidak terjadi pada saat batuk. Bila terjadi obstruksi menunjukkan adanya pneumotoraks yang luas sehingga peningkatan tersebut akan berlangsung secara terus menerus.
* Atur posisi sistem drainage agar berfungsi seoptimal mungkin, misalnya sisakan panjang selang pada tempat tidur, yakinkan bahwa selang itu tidak kaku dan menggantung di atas WSD, keluarkan akumulasi cairan bila perlu.
Bila posisi tidak baik, menekuk atau adanya akumulasi cairan akan mengakibatkan tekanan berkurang pada wSD dan mengurangi pengeluaran udara dan cairan berkurang.
* Evaluasi apakah perlu tube tersebut dilakukan pengurutan
Menarik / menekan diperlukan untuk mengeluarkan gumpalan darah / eksudat drainage.
* Tekan selang dengan hati-hati pada setiap kali melakukannya, jangan sampai mempengaruhi tekanan yang ada.
Penarikan biasanya dirasakan kurang nyaman oleh pasien sebab akan mempengaruhi tekanan intra toraks yang menyebabkan batuk dan nyeri dada. Penarikan yang salah dapat menimbulkan trauma /injury misalnya; invaginasi jaringan, kolaps jaringan di sekitar kateter atau perdarahan dari dinding kapiler.


Bila WSD tidak terpasang
* Perhatikan adanya tanda-tanda respirasi distress kemudian hubungkan toraks kateter dengan selang suction. Perhatikan tehnik aseptik. Apabila kateter tercabut, tutup luka insersi dengan dressing dengan sedikit tekanan dan segera lapor ke dokter.
Dapat terjadi pneumotoraks

Setelah selang dilepas
* Observasi tanda dan gejala bila kemungkinan terjadi kembali pneumotoraks seperti nafas pendek, mengeluh nyeri. Tutup luka dengan dressing steril, observasi keadaan luka.
Deteksi dini dari adanya komplikasi sangat penting, misalnya pneumotoraks kembali / infeksi.

Kolaborasi
* Lakukan fototoraks ulang
Untuk memonitor terjadinya hemo/pneumotoraks dan pengembangan paru.
* Periksa ulang analisa gas darah, tekana O2 dan tidal volume.
Mengetahui pertukaran gas dan ventilasi untuk menentukan therapi selanjutnya.
* Perhatikan apabila membutuhkan penambahan O2
Merupakan alat bantu pernafasan, mencegah terjadinya respiratory distress syndrom dan sianosis akibat hipoksemia.

Dx 2. Injuri, potensial terjadi trauma / hypoksia sehubungan dengan ; pemasangan alat WSD, kurangnya pengetahuan tentang WSD ( prosedur dan perawatan )
Kriteria evaluasi :
- mengenal tanda-tanda komplikasi
- pencegahan lingkungan / bahaya fisik lingkungan

Intervensi perawatan dan rasionalisasi
Independen
a. Review dengan pasien akan tujuan / fungsi drainege, catat/ perhatikan tujuan yang penting dalam penyelamatan jiwa
Informasi tentang kerja WSD akan mengurangi kecemasan
b. Fiksasi kateter thoraks pada didnding dada dan sisakan panjang kateter agar pasien dapat bergerak atau tidak terganggu pergerakannya.
Mencegah lepasnya kateter dan mengurangi nyeri akibat terpasangnya kateter dada
Perhatikan bahwa sambungan selang kateter dengan WSD aman
Mencegah lepasnya sambungan selang
Lapisi dengan kasa pada insersis kateter
Mencegah iritasi kulit
c. Usahakan WSD berfungsi dengan baik dan aman dengan meletakkannya ebih rendah dari bed pasien di lantai atau troli.
Mempertahankan posisi gaya gravitasi dan mengurangi resko kerusakan ataupun pecahnya unit WSD
d. Lengkapi dengan alat transportasi yang aman bila dibawa ke lain unit untuk pemeriksaan diagnostik
- Sebelum berangkat cek WSD, batas cairan, ada tidaknya gelembung, undulasi ( derajat dan waktunya )
- Yakinkan chest tube dapat di klem atau dilipat dari suction / WSD
Mempertahankan berlangsungnya pengeluaran cairan / udara secara optimal selama transportasi bila pengeluaran cairan dari rongga dada banyak kateter jangan di klem, suction jangan dicabut sebab dapat mengakibatkan adanya akumulasi cairan / udara sehingga timbul gangguan respirasi.
e. Monitor insersi kateter pada dinding dada, perhatikan keadaan kulit di sekitar kateter drainage. Ganti dressing dengan kassa steril setiap kali diperlukan.
Untuk mengetahui keadaan kulit seperti infeksi, erosi jaringan sedini mungkin
f. Anjurkan pasien untuk tidak menekan atau membebaskan selang dari tekanan, misalnya tertindih tubuh.
Mengurangi resiko obstruksi drain atau lepasnya sambungan selang.
g. Kaji perubahan yang terjadi, catat ; beri tindakan perawatan jika :
- perubahan suara bubling
- kebutuhan O2 yang tiba-tiba
- nyeri dada
- lepasnya selang
Intervensi yang tepat dapat mencegah terjadinya komplikasi
h. Observasi adanya tanda-tanda respirasi distress bila kateter thoraks tercabut.
Pneumothoraks dapat terjadi sehingga timbul gangguan fungsi pernafasan yang memerlukan tindakan emergency

Dx 3. Kurangnya pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi
Kriteria evaluasi :
- Menyebutkan penyebab penyakit
- Dapat mengidentifikasi tanda / gejala untuk perawatan / pengobatan lebih lanjut
- Mengikuti program therapi dan menunjukkan adanya perubahan pola hidup untuk mencegah timbulnya / kambuhnya penyakit.

Intervensi keperawatan dan rasionalisasi
Independen
a. Review patologi penyakit dengan klien
Informasi dapat menurunkan kecemasan / ketakutan akibat ketidak tahuan. Pengetahuan mendasari pemahaman akan keadaan adan pentingnya intervensi therapiutik.
b. Identifikasi adanya kekambuhan penyakit / komplikasi
Penyakit paru COPD + malignant merupakan penyebab terjadinya kekambuhan penyakit. Pada klien sehat tapi menderita spontaneus pneumotoraks kekambuhan berkisar 10 – 15%, yang sudah kambuh dua kali resiko untuk menderita kembali sekitar 60%.
c. Review tanda dan gejala yang perlu tindakan medis segera; nyeri dada tiba-tiba, dispnoe, distress respiratory.
Kambuhnya pneumo/hemothoraks memerlukan tindakan medis untuk mencegah/mengurangi terjadinya komplikasi
d. Review pentingnya pola hidup sehat ; nutrisi adekuat, istirahat, latihan.
Mempertahankan kesehatan secara umum dan mencegah terjadinya kekambuhan.

Read more...

TRAUMA MATA

A. Menurut sebabnya, trauma mata terbagi atas:
1. Trauma tumpul atau kontusio yang dapat di sebabkan oleh benda tumpul, benturan atau ledakan di mana terjadi pemadatan udara.
2. Trauma tajam, yang mungkin perforatif mungkin juga non perforatif, dapat juga di sertai dengan adanya korpus alienum atau tidak. Korpus alienum dapat terjadi di intraokuler maupun ekstraokuler.
3. Trauma termis oleh jilatan api atau kontak dengan benda membara.
4. Trauma khemis karena kontak dengan benda yang bersifat asam atau basa.
5. Trauma listrik oleh karena listrik yang bertegangan rendah maupun yang bertegangan tinggi.
6. Trauma barometrik, misalnya pada pesawat terbang atau menyelam.
7. Trauma radiasi oleh gelombang pendek atau partikel-partikel atom (proton dan neutron).

B. Tauma tumpul yang terjadi dapat mengakibatkan beberapa hal, yaitu:
1. Hematoma palpebra
Adanya hematoma pada satu mata merupakan keadaan yang ringan, tetapi bila terjadi pada kedua mata , hati-hati kemungkinan adanya fraktur basis kranii.
Penanganan:
Kompres dingin 3 kali sehari.
2. Ruptura kornea
Kornea pecah, bila daerah yang pecah besar dapat terjadi prolapsus iris, merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan operasi segera.
3. Ruptura membran descement
Di tandai dengan adanya garis kekeruhan yang berkelok-kelok pada kornea, yang sebenarnya adalah lipatan membran descement, visus sangat menurun dan kornea sulit menjadi jernih kembali.
Penanganan:
Pemberian obat-obatan yang membantu menghentikan perdarahan dan tetes mata kortisol
4. Hifema
Perdarahan dalam kamera okuli anterior, yang berasal dari pembuluh darah iris atau korpus siliaris, biasanya di sertai odema kornea dan endapan di bawah kornea, hal ini merupakan suatu keadaan yang serius.
Pembagian hifema:
a. Hifema primer, timbul segera oleh karena adanya trauma.
b. Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma.
Hifema ringan tidak mengganggu visus, tetapi apabila sangat hebat akan mempengaruhi visus karena adanya peningkatan tekanan intra okuler.
Penanganan:
Istirahat, dan apabila karena peningkatan tekanan intra okuli yang di sertai dengan glaukoma maka perlu adanya operasi segera dengan di lakukannya parasintesis yaitu membuat insisi pada kornea dekat limbus, kemudian di beri salep mata antibiotik dan di tutup dengan verband.

Komplikasi hifema:
a. Galukoma sekunder, di sebabkan oleh adanya penyumbatan oleh darah pada sudut kamera okuli anterior.

b. Imhibisi kornea, yaitu masuknya darah yang terurai ke dalam lamel-lamel kornea, sehingga kornea menjadi berwarna kuning tengguli dan visus sangat menurun.
Penanganan terhadap imhibisi kornea:
Tindakan pembedahan yaitu keratoplastik.

5. Iridoparese-iridoplegia
Adalah adanya kelumpuhan pada otot pupil sehingga terjadi midriasis.
Penanganan:
Berikan pilokarpin, apabila dengan pemberian yang sampai berbulan-bulan tetap midriasis maka telah terjadi iridoplegia yang iriversibel.

6. Iridodialisis
Ialah iris yang pada suatu tempat lepas dari pangkalnya, pupil menjadi tdak bula dan di sebut dengan pseudopupil.
Penanganan:
Bila tidak ada keluhan tidak perlu di lakukan apa-apa, tetapi jika ada maka perlu adanya operasi untuk memfixasi iris yang lepas.

7. Irideremia
Ialah keadaan di mana iris lepas secara keseluruhan.
Penanganan secara konservatif adalah dengan memberikan kacamata untuk mengurangi silau.

8. Subluksasio lentis- luksasio lentis
Luksasio lentis yang terjadi bisa ke depan atau ke belakang. Jika ke depan akan menimbulkan glaukoma dan jika ke belakang akan menimbulkan afakia. Bila terjadi gaukoma maka perlu operasi untuk ekstraksi lensa dan jika terjadi afakia pengobatan di lakukan secara konservatif.

9. Hemoragia pada korpus vitreum
Perdarahan yang terjadi berasal dari korpus siliare, kare na bnayak terdapat eritrosit pada korpus siliare, visus akan sangat menurun.

10. Glaukoma
Di sebabkan oleh kare na robekan trabekulum pada sudut kamera okuli anterior, yang di sebut “traumatic angle” yang menyebabkan gangguan aliran akquos humour.
Penanganan di lakukan secara operatif.

11. Ruptura sklera
Menimbulkan penurunan teknan intra okuler. Perlu adanya tindakan operatif segera.

12. Ruptura retina
Menyebabkan timbulnya ablasio retina sehingga menyebabkan kebutaan, harus di lakukan operasi.

Pengkajian dasar
1. Aktivitas dan istirahat
Perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari/ hobi di karenakan adanya penurunan daya/ kemampuan penglihatan.
2. Makan dan minum
Mungkin juga terjadi mual dan muntah kibat dari peningkatan tekanan intraokuler.
3. Neurosensori
Adanya distorsi penglihatan, silau bila terkena cahaya, kesulitan dalam melakukan adaptasi (dari terang ke gelap/ memfokuskan penglihatan).
Pandangan kabur, halo, penggunaan kacamata tidak membantu penglihatan.
Peningkatan pengeluaran air mata.
4. Nyeri dan kenyamanan
Rasa tidak nyaman pada mata, kelelahan mata.
Tiba-toba dan nyeri yang menetap di sekitar mata, nyeri kepala.
5. Keamanan
Penyakit mata, trauma, diabetes, tumor, kesulitan/ penglihatan menurun.
6. Pemeriksaan penunjang
Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada sistem suplai untuk retina.
Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa, trauma, arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan jaringan pembuluh darah akibat trauma.
Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg).
Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal dari okuler, papiledema, retina hemoragi.

Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul:
1. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (tindakan pembedahan)
Tujuan:
Tidak terjadi infeksi dengan kriteria: luka sembuh dengan cepat dan baik, tidak ada nanah, tidak ada eritema, tidak panas.
Rencana:
a. Diskusikan dan ajarkan pada pasien pentingnya cuci tangan ysng bersih sebelum menyentuh mata.
b. Gunakan dan demonstrasikan tehnik yang benar tentang cara perawatan dengan kapas yang steril serta dari arah yang dalam memutar kemudian keluar.
c. Jelaskan pentingnya untuk tidak menyentuh mata/ menggosok mata.
d. Diskusikan dan observasi tanda-tanda dari infeksi (merah, darinase yang purulen).
e. Kolaborasi dalam pemberian obat-obat antibiotik sesuai indikasi.

2. Penurunan sensori perceptual (penglihatan) berhubungan dengan adanya trauma, penggunaan alat bantu terapi.
Tujuan:
Dengan penurunan penglihatan tidak mengalami perubahan/ injuri.
Rencana:
a. Kaji keadaan penglihatan dari kedua mata.
b. Observasi tanda-tanda dari adanya disorientasi.
c. Gunakan alat yang menggunkan sedikit cahaya (mencegah terjadinya pandangan yang kabur, iritasi mata).
d. Anjurkan pada pasien untuk melakukan aktivitas yang bervariasi (mendengarkan radio, berbincang-bincang).
e. Bantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
f. Anjurkan pasien untuk mencoba melakukan kegiatan secara mandiri.

3. Kurangnya pengetahuan (perawatan) berhubungan dengan keterbatasab informasi.
Tujuan:
Pasien dan keluarga memiliki pengetahuan yang memadai tentang perawatan.
Rencana:
a. Jelaskan kembali tentang keadaan pasien, rencana perawatan dan prosedur tindakan yang akan di lakukan.
b. Jelaskan pada pasien agar tidak menggunakan obat tets mata secara senbarangan.
c. Anjurkan pada pasien gara tidak membaca terlebih dahulu, “mengedan”, “buang ingus”, bersin atau merokok.
d. Anjurkan pada pasien untuk tidur dengan meunggunakan punggung, mengtur cahaya lampu tidur.
e. Observasi kemampuan pasien dalam melakukan tindakan sesuai dengan anjuran petugas.

Read more...

Rumah Sakit di Jawa Barat

Jumat, Mei 14, 2010

Rumah Sakit di Jawa Barat

* Rumah Bersalin Ibu Mairah
Jl. Babakan Tarogong 12 Bandung
Telp. 601 1700
* Rumah Bersalin Noeranny Dr Fenny
Jl. Jend. A. Yani 724
Bandung Telp. 774 755
* Rumah Bersalin Suci
Jl. Golf Barat 21
Bandung Telp. 773786
* Rumah Sakit Alun-alun
Jl. Alun-alun Cimahi
Telp. 665 4019
* Rumah Sakit Advent
Jl. Cihampelas 161
Bandung
Telp. 234386, 2038941, 231533, 231727
Emergency : 2038008
* Rumah Sakit Al Ichsan
Jl. Ki Astramanggala Bjn
Telp. 594 0770
* Rumah Sakit Al Islam
Jl. Sukarno Hatta 644
Bandung Telp. 7562046
* Rumah Sakit Asadyra
Jl. Raya Cibabat 341 Cimahi
Telp. 6654852
* RSU Ciawi
Jenis : RS Umum
Jalan Raya Puncak 476
Bogor
Jawa Barat 16720
Telepon : 0251240797
* Rumah Sakit Cikalongwetan
Jl. Cikalong Wetan Ckw
Telp. 6970893
* Rumah Sakit Curtiswan
Jl. Bukit Indah 22 Bandung
Telp. 235193
* Rumah Sakit Dr. Salamun
Jl. Ciumbuleuit 203 Bandung
Telp. 2040161
* Rumah Sakit Ginjal Ny RA Habiebie
Jl. Tubagus Ismail 46 Bandung
Telp. 2501984
* RS Ibu dan Anak (RSIA) Hermina
Jl Kemakmuran no. 39 Margajaya
Bekasi-Jawa Barat
Telp. 8842121 Fax. 88952275
Email : erik@indo.net.id
Fasilitas : Keterangan lengkap
* Rumah Sakit Ibu dan Anak Sukajadi
Jl. Sukajadi 149 Bandung
Telp. 232941
* Rumah Sakit Immanuel
Jl. Kopo 161 Bandung
Telp. 5201656
* Rumah Sakit Jiwa Pusat Bandung
Jl. Laks. L. RE Martadinata 11 Bandung
Telp. 4218863
Depression Hotline Sercive : 4203651
* Rumah Sakit Jiwa Pusat Cimahi
Jl. Kol Masturi Cimahi
Telp. 638660
* Rumah Sakit Kartiwa
Jl. Baros Hasanudin 40 F Cimahi
Telp. 6658238
* Rumah Sakit Kebonjati
Jl. Kebonjati 152 Bandung
Telp. 6014058
* Rumah Sakit Khusus Bedah
Jl. Laks. L. RE Martadinata 28 Bandung
Telp. 4206717
* RS Mayapada
Jl. Cideng Timur 46
Bandung 42335
Telepon : 022-2525611
* Rumah Sakit Mata Cicendo
Jl. Cicendo 4 Bandung
Telp. 431280
* Rumah Sakit Muhammadiyah
Jl. Banteng 53 Bandung
Telp. 301062
* Rumah Sakit Rajawali
Jl. Rajawali 38 Bandung
Telp. 679137
* Rumah Sakit Santo Yusuf
Jl. Cikutra 7 Bandung 40124
Telp. 7208172
Email : stoyusup@bdg.centrin.net.id
URL : http://pdpersi.co.id/pdpersi/infors/jabar/stbandung.html
* Rumah Sakit Sariningsih
Jl. Laks. L RE Martadinata 9 Bandung
Telp. 4211650
* Rumah Sakit Tedja
Jl. Laks. L RE Martadinata 97 Bandung
Telp. 434130
* Rumah Sakit Tuberculosa Paru Paru Cipaganti
Jl. Bukit Jarian 40
Telp. 234446
* Rumah Sakit Borromeus
Jl. Ir. H. Juanda 100 Bandung
Telp. 2508946
* Rumah Sakit Umum Bungsu
Jl. Veteran 6 Bandung
Telp. 431550
* Rumah Sakit Umum Cibabat
Jl. Raya Cibabat 140 Cimahi
Telp. 6642696
* Rumah Sakit Hasan Sadikin
Jl. Pasteur 38
Bandung
* RS Puri Cinere
Jl. Maribaya Blok F 1-10
Bogor 16514
Jawa Barat- Indonesia
Telepon kantor: 7545488
* RS.Wira Bhakti Husada Secapa Polri
Rumah Sakit Umum
Jl. Aminta Azmali/Jl Bhayangkara 166
Sukabumi Jawa Barat
Telepon : (0266)229207
Email : zamil@sukabumi.wasantara.net.id

Read more...

Rumah Sakit di Jawa Timur

Rumah Sakit di Jawa Timur
1. 3501000001 RSU Pacitan RSU C Jl Jen A Yani No.51 Pacitan
2. 3502000001 RSU Ponorogo RSU C Jl Ciptomangunkusumo Ponorogo
3. 3502000002 RS Aisyiah RS Jl Dr Sutomo 18 Ponorogo
4. 3502000003 RSIA Darmayu RSIA Jl Dr. Soetomo 44 Ponorogo
5. 3503000001 RSU Dr Soetomo Trenggalek RSU C Jl Dr Sutomo No.2 Trenggalek
6. 3504000001 RSU Tulungagung RSU C Jl Dr WS Husodo Tulungagung
7. 3504000002 RS Islam Orpeha RS Jl KHR Abdul Fatah Tulungagung
8. 3505000001 RSU Wlingi RSU C Jl Dr Sucipto No.5 Wlingi
9. 3506000001 RSU Pare RSU B Jl Pahlawan (DS Palem) Pare
10. 3506000002 RS PTP XXI Toeloengredjo RS Jl A Yani 25 Pare Kediri
11. 3507000001 RSU Bala Keselamatan RSU Jl A Yani 91 Turen Kab Malang
12. 3507000002 RS Jiwa Lawang RS A Jl Jend A Yani Lawang
13. 3507000003 RS TP Batu RS Jl A Yani No.10-13 Batu Malang
14. 3507000004 RSU Kepanjen RSU C Jl Panggungrejo 1 Kepanjen
15. 3508000001 RSU Nararyya Kirana RSU C Jl A Yani 281 Lumajang
16. 3508000002 RS PTP XXIV Jatiroto RS Jl Dr Sudirman Jatiroto Lumajang
17. 3508000003 RS Wijaya Kusuma RS Jl A Yani No.149 Lumajang
18. 3509000001 RSU Dr Soebandi RSU B Jl Dr Soebandi No.1 Jember
19. 3509000002 RS PTPN X Jember RS Jl Bedadung No.2 Jember
20. 3509000003 RS Rem 083 Jember RS 3 Jl PB Sudirman No.49 Jember
21. 3509000004 RS TP Jember RS Jl Nusa Indah No.28 Jember
22. 3509000005 RS Utama Husada RS Jl Nanggar 134 Ambulu Jember
23. 3510000001 RSU Blambangan RSU C Jl Istiqlah No.49 Banyuwangi
24. 3510000002 RS PTP XXVI Bakti Husada RS Krikilan Glenmore Banyuwangi
25. 3510000003 RSU Genteng RSU C Jl Raya Timur 5 Genteng
26. 3510000004 RS Islam Fatimah RS Jl Jember 25 Banyuwangi
27. 3511000001 RSU Bondowoso RSU C Jl Piere Tendean Bondowoso
28. 3512000001 RSU Situbondo RSU C Jl Anggrek No.68 Situbondo
29. 3512000002 RS PTPN XI Situbondo RS Jl WR Supratman 2A Situbondo
30. 3513000001 RSU Waluyo Jati Kraksaan RSU C Jl Dr Sutomo No.1 Kraksaan
31. 3514000001 RSAB Masyitoh RSAB Jl A Yani No.6 Bangil Jatim
32. 3514000002 RSU Bangil RSU C Jl Dr Sutomo 101 Bangil
33. 3514000003 RSIA Panca Dharma RSIA Jl Raya 14A Pandaan Sukorejo
34. 3515000001 RSU Sidoarjo RSU B Jl Mojopahit No.667 Sidoarjo
35. 3515000002 RSU Siti Khodijah RSU Jl Pahlawan Sepanjang Sidoarjo
36. 3515000003 RS Pusdik Polri Porong RS 4 Pusdik Sabhara Porong
37. 3515000004 RS Delta Surya RS Jl Pahlawan Sidoarjo
38. 3515000005 RS Siti Hajar RS Jl Raden Patah No.70 Sidoarjo
39. 3516000001 RS Kusta Sumberglagah RS Sumberglagah Pacet Mojokerto
40. 3517000001 RSU Jombang RSU C Jl KHW Hasyim 57 Jombang
41. 3517000002 RS Kristen Mojowarno RS Jl Merdeka Mojowarno Jombang
42. 3518000001 RSU Nganjuk RSU C Jl Dr Sutomo 62 Nganjuk
43. 3518000002 RSU Kertosono RSU C Jl Supriadi No.29 Kertosono
44. 3518000003 RS Satiti RS Jl Lonsep No.3 Kertosono
45. 3519000001 RS TP Dungus RS Dungus Kec Wungu Kab Madiun
46. 3519000002 RSU Panti Waluyo RSU D Jl A Yani Km 2 Curuban Madiun
47. 3520000001 RSU Magetan RSU C Jl Pahlawan No.2 Magetan
48. 3521000001 RSU Dr Soeroto Ngawi RSU C Jl Dr Wahidin 27 Ngawi
49. 3522000001 RSU Dr Djatikoesoemo RSU C Jl Dr Wahidin 36 Bojonegoro
50. 3522000002 RSAB Aisyiyah B’negoro RSAB Jl Masjid No.11 Bojonegoro
51. 3522200003 RS Muhamadiyah Sumberejo RS Jl Raya Sumberejo Bojonegoro
52. 3523000001 RSU Dr R Koesma Tuban RSU Jl Dr WS Husodo Tuban
53. 3523000002 RS Kusta Nganget RS Pos Jojogan Bojonegoro Tuban
54. 3524000001 RSU Dr Soegiri Lamongan RSU Jl Kusuma Bangsa 7 Lamongan
55. 3524000002 RS Islam Nashrul Ummah RS Jl Merpati No.62 Lamongan
56. 3524000003 RS Muhammadiyah Lamongan RS Jl Jks Agung Suprapto Lamongan
57. 3525000001 RSU Gresik RSU C Jl Dr W Sudiro Husodo Gresik
58. 3525000002 RS PT Semen Gresik RS Jl RA Kartini No.280 Gresik
59. 3525000003 RSIA Nyai Ageng Pinatih RSIA Jl KH Abd Karim 76-78 Gresik
60. 3525000004 RS Jiwa Aditama RS Jl Raya Bunder Gresik
61. 3525000005 RS Petrokimia Gresik RS Jl Jend Ahmad Yani 69 Gresik
62. 3526000001 RSU Bangkalan RSU C Jl Pemuda Kaffa No.9 Bangkalan
63. 3526000002 RS AL Batuporon RS 4 Jl Mawar Madura Kab Bangkalan
64. 3527000001 RSU Sampang RSU C Jl Rajawali No.10 Sampang
65. 3528000001 RSU Pamekasan RSU C Jl Kesehatan No.3-5 Pamekasan
66. 3528000002 RSU Sumenep RSU C Jl Dr Cipto No.42 Sumenep
67. 3528000003 RS Mardi Waluyo RS Jl Raya Kalianget Kab Sumenep
68. 3571000001 RSU Gambiran RSU C Jl KH Wahid Hasyim 64 Kediri
69. 3571000002 RS Rem 081 Kediri RS 4 Jl Mayjen Sungkono 44 Kediri
70. 3571000003 RS Bhayangkara Kediri RS 3 Jl Kombes Pol Daryat 17 Kediri
71. 3571000004 RS Baptis Kediri RS Jl Mauni 1-7 Kediri
72. 3571000005 RS Kusta Kediri RS Jl Veteran No.48 Kediri
73. 3571000006 RSB Nirmala Kediri RSB Jl Jagung Suprapto No.5 Kediri
74. 3572000001 RSU Mardi Waluyo RSU C Jl Dr Sutomo No.29 Blitar
75. 3572000002 RS Budi Rahayu RS Jl Jend A Yani 18 Blitar
76. 3572000003 RS Syuhada Haji RS Jl Mojo No.12 Blitar Jatim
77. 3573000001 RSU Dr Saiful Anwar RSU B Jl Jagung Suprapto No.2 Malang
78. 3573000002 RS Soepraoen RS 2 Jl Sodanco Supriyadi Malang
79. 3573000003 RS Panti Nirmala RS Jl Kebalen Wetan 8 Malang
80. 3573000004 RS Panti Waluya Sawahan RS Jl Nusakambangan 56 Malang
81. 3573000005 RS PTPN XI Lavalete RS Jl WR Supratman 10 Malang
82. 3573000006 RSU Marsudi Waluyo RSU Jl Mondoroko Singosari Malang
83. 3573000007 RS LPK Malang RS Jl Asahan No.7 Malang
84. 3573000008 RS Lanuma Abdul Saleh RS 4 Lanud ABD Saleh Malang
85. 3573000009 RS Islam Gondang Legi RS Jl Hayam Wuruk 66 Malang
86. 3573000010 RS Islam Aisyiyah Malang RS Jl Sulawesi No.6 Malang
87. 3573000011 RS Islam Malang RS Jl Mayjen Haryono 139 Malang
88. 3573000012 RS Sumber Sentosa RS Jl Kebonsari No.47 Malang
89. 3574000001 RSU Probolinggo RSU C Jl Panjaitan No.65 Probolinggo
90. 3574000002 RS Dharma Husada RS Jl Sukarno Hatta Probolinggo
91. 3574000003 RSU Pasuruan RSU C Jl Dr Wahidin Selatan Pasuruan
92. 3576000001 RSU Dr Wahidin S Husodo RSU C Jl Gajah Mada 100 Mojokerto
93. 3576000002 RS Hadiono Singgih RS 4 Jl R Wijaya 58 Mojokerto
94. 3576000003 RS PTP XXI\_XXII Gatoel RS Jl R Wijaya 56 Mojokerto
95. 3576000004 RS Reksa Waluya RS Jl Mojopahit 422 Mojokerto
96. 3576000005 RS Hasanah RS Jl HOS Cokroaminoto Mojokerto
97. 3576000006 RS Islam Sakinah RS Jl RA Basuni No.12 Mojokerto
98. 3577000001 RSU Dr Soedono Madiun RSU B Jl Sumbawa No.6 Madiun
99. 3577000002 RS Santa Clara RS Jl Biliton No.15 Madiun
100. 3577000003 RS Rem 081 Madiun RS 4 Jl Pahlawan No.79 Madiun
101. 3577000004 RS Lanuma Iswahyudi RS 3 Lanud Iswahyudi Magetan
102. 3577000005 RS Islam Siti Aisyah RS Jl Mayjen Sungkono 38 Madiun
103. 3578000001 RSU Dr Soetomo RSU A Jl Prof Dr Moestopo Surabaya
104. 3578000002 RS Al Dr Ramelan RS 1 Jl Gadung No.1 Surabaya
105. 3578000003 RS William Booth RS Jl Diponegoro 34 Surabaya
106. 3578000004 RS Katholik Surabaya RS Jl Diponegoro 51 Surabaya
107. 3578000005 RS Darmo RS Jl Raya Darmo 90 Surabaya
108. 3578000006 RS Adi Husada Pusat RS Jl Undaan Wetan 40-44 Surabaya
109. 3578000007 RS Griya Husada Surabaya RS Jl Bubutan 93 Surabaya
110. 3578000008 RS Pelabuhan Tg Perak RS Jl Kalianget No.1-2 Surabaya
111. 3578000009 RS Al Tanjung Perak RS 3 Jl Tg Perak No.56 Surabaya
112. 3578000010 RS Adi Husada Kapasari RS Jl Kapasari No.90-101 Surabaya
113. 3578000011 RS Islam Surabaya RS Jl Jend A Yani 2-4 Surabaya
114. 3578000012 RS Denkesyah TNI AD Sby RS 3 Jl Kesatriyan No.17 Surabaya
115. 3578000013 RS AL Pal Surabaya RS 4 Jl Taruna 66-68 Ujung Surabaya
116. 3578000014 RS AL Gunungsari RS 3 Jl Golf No.1 Surabaya
117. 3578000015 RS AL Juanda RS 4 Jl Bachtiar Yahya Surabaya
118. 3578000016 RS Lanu Surabaya RS 4 Jl Serayu 17 Surabaya
119. 3578000017 RS AL Kodikal RS 4 Jl Morokrembangan Surabaya
120. 3578000018 RS Akabri Al Surabaya RS 4 Jl Morokrembangan Surabaya
121. 3578000019 RS Jiwa Menur RS A Jl Menur 120 Surabaya
122. 3578000020 RS Mata Undaan RS Jl Undaan Kulon 19 Surabaya
123. 3578000021 RSIA Siti Aisyiyah RSIA Jl Pacar Keling 15A Surabaya
124. 3578000022 RS Budi Mulia RS Jl Gubeng Raya 70 Surabaya
125. 3578000023 RS Al-Irsyad RS Jl KH Mansyur 210 Surabaya
126. 3578000024 RSK P Dalam Mukti Mulia RSK Jl Kayun No.3 Surabaya
127. 3578000025 RSU Haji Surabaya RSU D Jl Manyar Kertoadi Surabaya
128. 3578000026 RS Sumber Kasih RS Jl Menganti No.38-40 Surabaya
129. 3578000027 RSB Adi Guna RSB Jl Alun Alun Rangkah 1-3 Surabaya
130. 3578000028 RS Taman Intan RS Jl Minden Intan Barat Surabaya
131. 3578000029 RS Husada Utama RS Jl Prof Dr Moestopo 31,33 Surabaya
132. 3578000030 RSU Tambakrejo RSU C Tambakrejo Komda TK.II Surabaya
133. 3578000031 RS Mitra Keluarga Sby RS Jl Satelit Indah II Surabaya

Read more...

rumah sakit di jawa tengah

rumah sakit di jawa tengah
1. Rumah Sakit di Jawa Tengah (Jateng)
2. 3301000001 RSU Cilacap RSU C Jl Gatot Subroto 28 Cilacap
3. 3301000002 RS Pertamina Cilacap RS Tegalkatilayu Cilacap
4. 3301000003 RS Islam Fatimah RS Jl Ir H Juanda No.20 Cilacap
5. 3301000004 RSU Majenang RSU C Ds Majenang Kab Majenang
6. 3301000005 RSB Annisa RSB Jl Gatot Subroto 31A Cilacap
7. 3302000001 RSU Banyumas RSU C Jl Rumah Sakit No.1 Banyumas
8. 3302000002 RSU Prof Dr M Soekarjo RSU B Jl Dr Gumbreg No.1 Purwokerto
9. 3302000003 RS Rem 711 Wijayakusuma RS 3 Jl Dr HR Bunyamin Purwokerto
10. 3302000004 RSIA Santa Elisabeth RSIA Jl Gatot Subroto 44 Purwokerto
11. 3302000005 RS Islam Purwokerto RS Jl H Masyuri Purokerto
12. 3302000006 RSIA Hidayah Purwokerto RSIA Jl Supriyadi No.22 Purwokerto
13. 3302000007 RSIA Bunda RSIA Jl Pramuka No.249 Purwokerto
14. 3302000008 RSIA Ananda RSIA Jl Pemuda No.30 Purwokerto
15. 3303000001 RSU Purbalingga RSU Jl Tentara Pelajar Purbalingga
16. 3303000002 RS Nirmala RS Babakan, Kalimanah Purbalingga
17. 3304000001 RSU Banjarnegara RSU C Jl Jend Sudirman Banjarnegara
18. 3304000002 RSU Emanuel RSU Jl Raya Klampok Banjarnegara
19. 3305000003 RSU Kebumen RSU C Jl RSU No.13 Kebumen
20. 3305000004 RS Palang Biru Gombong RS Jl Kartini 37 Gombong Kebumen
21. 3305000005 RS PKU Muhamadiyah RS Jl Yos Sudarso Gombong Kebumen
22. 3305000006 RSIA Dewi Queen RSIA Jl Kutoarjo No.60 Kebumen
23. 3306000007 RSU Purworejo RSU B Jl Jend Sudirman 60 Purworejo
24. 3306000008 RS Panti Waluyo RS Jl Cangkrep Kidul 5 Purworejo
25. 3307000001 RSU Wonosobo RSU C Jl Rumah Sakit No.1 Wonosobo
26. 3307000002 RSIA Adina RSIA Jl P Ronggolawe 24 Wonosobo
27. 3308000001 RSU Muntilan RSU Jl Kartini No.13 Muntilan
28. 3309000001 RSU Boyolali RSU C Jl Kantil No.14 Boyolali
29. 3309000002 RSIA Umi Barokah RSIA Jl Prof Soeharso 6 Boyolali
30. 3309000003 RS Al-Amin RS Mojosongo Kabupaten Boyolali
31. 3310000001 RSU Dr Suraji Tirtonegoro RSU B Jl Dr Soeradji Klaten
32. 3310000002 RS Jiwa Klaten RS B Jl Raya Wedi Klaten
33. 3310000003 RS Islam Klaten RS Jl Raya Yogya Solo Km 2 Klaten
34. 3310000004 RS Cakra Husada RS Jl Merbabu No.7 Klaten
35. 3310000005 RSK Bedah Diponegoro 21 RSK Jl Diponegoro No.21 Klaten
36. 3311000001 RSU Sukoharjo RSU C Jl Dr Muwardi 71 Sukoharjo
37. 3311000002 RSU Nirmala Suri RSU Jl Raya Solo Sukoharjo Km 9
38. 3311000003 RS Dr Oen Solo Baru RS Solo Baru Kec Grogol Sukoharjo
39. 3312000001 RSU Wonogiri RSU B Jl Jend A Yani No.40 Wonogiri
40. 3312000002 RSU Marga Husada RSU Jl S Parman Selogiri Wonogiri
41. 3313000001 RSU Karanganyar RSU C Jl Yos Sudarso Karanganyar
42. 3313000002 RS Lanuma Adisumarmo RS 4 Lanuma Adisumarmo Surakarta
43. 3314000001 RSU Sragen RSU C Jl Raya Sukowati Sragen
44. 3314000002 RS Mardi Lestari RS Jl Jati No.8 Sragen
45. 3314000003 RSIA Sarila Husada RSIA Jl Veteran No.41-43 Sragen
46. 3315000001 RSU Purwodadi RSU C Jl DI Panjaitan 36 Purwodadi
47. 3315000002 RS Panti Rahayu RS Jl R Suprapto 40 Purwodadi
48. 3315000003 RSB Permata Bunda RSB Jl Hayam Wuruk No.24 Purwodadi
49. 3316000004 RSU Blora RSU C Jl Dr Sutomo No.42 Blora
50. 3316000005 RSU Cepu RSU C Jl RSU No.50 Cepu
51. 3316000006 RS PPT Migas Cepu RS Jl Diponegoro No.9 Cepu
52. 3316000007 RSB Reksodi RSB Jl Reksodiputro No.57 Blora
53. 3317000008 RSU Rembang RSU C Jl Taman Bahagia No.16 Rembang
54. 3318000009 RSU RAA Soewondo RSU B Jl Dr Soesanto 114 Pati
55. 3318000010 RS Kristen Tayu RS Jl Diponegoro 56 Tayu Pati
56. 3318000011 RSK THT Bina Waluya RSK Jl Dr Susanto No.113 Pati
57. 3318000012 RS Islam Pati RS Ds. Waturojo, Margoyoso Pati
58. 3319000013 RSU Kudus RSU B Jl Dr Lukmonohadi No.19 Kudus
59. 3319000014 RS Mardi Rahayu RS Jl AKBP R Agil 110 Kudus
60. 3319000015 RSU Islam Sunan Kudus RSU Jl Kudus Permai No.1 Kudus
61. 3320000001 RSU RA Kartini RSU C Jl KH Wahid Hasyim Jepara
62. 3320000002 RS Kusta Kelet Donorojo RS Kelet Keling Kab Jepara
63. 3320000003 RS Islam Ibu MA Ngasirah RS Jl Jepara-Bangsri Km 3 Jepara
64. 3321000001 RSU Bhakti Karya Husada RSU C Jl Sultan Fatah 669 Demak
65. 3321000002 RSB Dewi Sekartaji RSB Jl Raya Mranggen No.78 Demak
66. 3322000001 RSU Ambarawa RSU C Jl Kartini No.101 Ambarawa
67. 3322000002 RSU Ungaran RSU C Jl Diponegoro 125 Ungaran
68. 3322000003 RSU Bina Kasih RSU Jl Haryo Atmajan 24 Ambarawa
69. 3323000001 RSU Temanggung RSU C Jl Dr Sutomo No.67 Temanggung
70. 3323000002 RS Ngesti Waluyo RS Parakan Kab Temanggung
71. 3323000003 RSB Gunung Sawo II RSB Jl Gatot Subroto Temanggung
72. 3323000004 RS PKU Muhammadiyah RS Jl Raya Kedu Km 2 Temanggung
73. 3324000001 RSU Dr H Soewondo Kendal RSU C Jl Laut No.21 Kendal
74. 3325000001 RSU Batang RSU C Jl Dr Sutomo No.42 Batang
75. 3325000002 RSU Bhakti Waluyo RSU Ds Sukorejo,Warungasem,Batang
76. 3326000001 RS Islam Pekajangan RS Jl Raya Ambukembang Pekalongan
77. 3327000001 RSU Dr M Ashari Pemalang RSU C Jl Gatot Subroto Pemalang
78. 3327000002 RS Santa Maria Pemalang RS Jl Pemuda No.24 Pemalang
79. 3327000003 RS Islam Moga RS Jl Raya Moga Pulosari Pemalang
80. 3328000001 RSU Dr H RM Soeselo W RSU C Jl Dr Sutomo No.63 Slawi
81. 3328000002 RS TP Kalibakung RS Jl Dr Sutomo 63 Slawi
82. 3328000003 RSB Harapan Ibu RSB Jl Raya Procot Slawi
83. 3328000004 RS Islam PKU Muhamadiyah RS Jl Singkil Km 5 Kab Tegal
84. 3329000001 RSU Brebes RSU C Jl Jend Sudirman 80 Brebes
85. 3329000002 RSIA Amal Bakti RSIA Ds Teriangun Brebes
86. 3371000001 RSU Tidar RSU B Jl Tidar No.30A Magelang
87. 3371000002 RS Dr Soedjono RS 2 Jl Rumah Sakit Magelang
88. 3371000003 RS Jiwa Magelang RS A Jl A Yani 169 Magelang
89. 3371000004 RSU Lestari Raharja RSU Jl Sutopo No.5 Magelang
90. 3371000005 RSB Gladiool RSB Jl Kenanga No.6 Magelang
91. 3371000006 RS Jiwa Budi Asih RS Jl Urip Sumoharjo 91 Magelang
92. 3371000007 RS Jiwa Dharma Kusuma RS Jl A Yani 417 Magelang
93. 3371000008 RS Harapan RS Jl Senopati No.11 Magelang
94. 3372000001 RSU Dr Moewardi Surakarta RSU B Jl Kol Sutarto 132 Surakarta
95. 3372000002 RS Dr Oen RS Jl Brigjen Katamso 55 Surakarta
96. 3372000003 RS Rem 741 Surakarta RS 4 Jl Slamet Riyadi 321 Surakarta
97. 3372000004 RS Brayat Minulya RS Jl Dr Setiabudi 106 Surakarta
98. 3372000005 RS Jiwa Surakarta RS A Jebres Surakarta
99. 3372000006 RSO Prof Dr R Soeharso RSO Jl A Yani Pabelan Surakarta
100. 3372000007 RSU Panti Waluyo RSU Jl Jend A Yani No.1 Surakarta
101. 3372000008 RS PKU Muhammadiyah RS Jl Ronggowarsito130 Surakarta
102. 3372000009 RS Islam Kustati RS Jl Kapt Mulyadi 249 Surakarta
103. 3372000010 RS Islam Kustati RSU Jl Kapt. Mulyadi 249 Surakarta
104. 3372000011 RS Islam Surakarta RS Jl Slamet Riyadi 404 Surakarta
105. 3372000012 RSAB Triharsi RSAB Jl A Yani Pabulan Surakarta
106. 3372000013 RS Jiwa Tathya Puri RS Jl Monginsidi No.82 Surakarta
107. 3372000014 RSK THT DR Suharso JD RSK Jl Kapt Mulayadi 174 Surakarta
108. 3372000015 RS Jiwa Puri Waluyo RS Jl Kepatihan Wetan Surakarta
109. 3373000016 RSU Salatiga RSU C Jl Skamet Riyadi Surakarta
110. 3373000017 RS Rem 731 Salatiga RS 4 Jl Osamaliki NO.19 Salatiga
111. 3373000018 RS TP Ngawen RS Jl Dr Muwardi Salatiga
112. 3373000019 RSIA Ananda RSIA Jl Ki Penjawi No.5 Salatiga
113. 3373000020 RSK THT Syifaa Rohmani RSK Jl Osa Maliki No.26A Salatiga
114. 3373000021 RSB Puri Asih RSB Jl Sudirman 169 Salatiga
115. 3374000001 RSU Dr Kariadi RSU B Jl Dr Soetomo No.16 Semarang
116. 3374000002 RS Sultan Agung Semarang RS Jl Kaligawe Semarang
117. 3374000003 RS St Elisabeth Semarang RS Jl Kawi No.1 Semarang
118. 3374000004 RSU Roemani RSU Jl Wonodri Dalam 2 No.22 Semarang
119. 3374000005 RS William Booth RS Jl Letjen S Parman 5 Semarang
120. 3374000006 RSU Panti Wilasa I RSU Jl Citarum 98 Semarang
121. 3374000007 RS Telogorejo RS Jl KH Achmad Dahlan Semarang
122. 3374000008 RS Jiwa Semarang RS A Jl Brigjen Sudiarto Semarang
123. 3374000009 RS Dam VII Semarang RS 2 Jl HOS Cokroaminoto Semarang
124. 3374000010 RS Kusta Semarang RS Jl Raya Tugurejo Semarang
125. 3374000011 RSIA Mardi Waluyo RSIA Jl Pandanaran No.24 Semarang
126. 3374000012 RS Akabri Pol Semarang RS 4 Komp Akpol Candi baru Semarang
127. 3374000013 RSIA Bahagia Semarang RSIA Jl Abd Rachman Saleh 71 Semarang
128. 3374000014 RS Panti Wilasa II RS Jl Dr Cipto 50 Semarang
129. 3374000015 RSB Anugerah RSB Jl Kalisari Baru No.5 Semarang
130. 3374000016 RSB Bunda Semarang RSB Jl Mojopahit No.8 Semarang
131. 3374000017 RSK THT Wira Husada RSK Jl Tentara Pelajar Semarang
132. 3374000018 RSK THT Dharma Usadha RSK Jl Kalimas Raya Semarang
133. 3374000019 RSB Gunung Sawo I RSB Jl Gunung Sawo 21 Semarang
134. 3374000020 RS Jiwa Puri Asih RS Jl Sompok No.18 Semarang
135. 3374000021 RS Dr Harsdhanudibroto RS Jl Bina Remaja 61 Srondol Semarang
136. 3374000022 RSU Kodya Semarang RSU D Jl Ketileng Raya semarang
137. 3374000023 RSB Kusuma RSB Jl Bugangan Raya 5 Semarang
138. 3375000001 RSU Pekalongan RSU B Jl Veteran 31 Pekalongan
139. 3375000002 RS Budi Rahayu RS Jl barito NO.5 Pekalongan
140. 3375000003 RS Siti Khodijah RS Jl Bandung No.47 Pekalongan
141. 3375000004 RSK THT Puri Usada RSK Jl Bengawan 34 Pekalongan
142. 3376000001 RSU Kardinah RSU B Jl AIP KS Tubun No.2 Tegal
143. 3376000002 RS Texin Tegal RS Jl Pala No.54 Tegal
144. 3376000003 RS Rem 712 Tegal RS 4 Jl Raya Pagongan Tegal
145. 3376000004 RSK THT Trunorejo RSK Jl Dukuh I No.25 Tegal
146. 3376000005 RS Islam Harapan Anda RS Jl Ababil No.42 Tegal

Read more...

TALASEMIA

Senin, Mei 10, 2010

I. DEFINISI
Talasemia adalah penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan secara resesif. Ditandai oleh defisiensi produksi globin pada hemoglobin.

II. KLASIFIKASI
Secara molekuler talasemia dibedakan atas :
1. Talasemia (gangguan pembentukan rantai )
2. Talasemia (gangguan p[embentukan rantai )
3. Talasemia (gangguan pembentukan rantai dan yang letak gen nya diduga berdekatan).
4. Talasemia (gangguan pembentukan rantai )
Secara klinis talasemia dibagi dalam 2 golongan yaitu :
1. Talasemia Mayor (bentuk homozigot)
Memberikan gejala klinis yang jelas
2. Talasemia Minor biasanya tidak memberikan gejala klinis.

III. PATOFISIOLOGI
Penyebab anemia pada talasemia bersifat primer dan sekunder. Penyebab primer adalah berkurangnya sintesis Hb A dan eritropoesis yang tidak efektif disertai penghancuran sel-sel eritrosit intrameduler. Penyebab sekunder adalah karena defisiensi asam folat,bertambahnya volume plasma intravaskuler yang mengakibatkan hemodilusi, dan destruksi eritrosit oleh system retikuloendotelial dalam limfa dan hati.
Penelitian biomolekular menunjukkan adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksi rantai alfa atau beta dari hemoglobin berkurang.
Tejadinya hemosiderosis merupakan hasil kombinasi antara transfusi berulang,peningkatan absorpsi besi dalam usus karena eritropoesis yang tidak efektif, anemia kronis serta proses hemolisis.
IV. ETIOLOGI
Factor genetic

V. MANIFESTASI KLINIS
- Letargi
- Pucat
- Kelemahan
- Anoreksia
- Sesak nafas
- Tebalnya tulang cranial
- Pembesaran limfe
- Menipsnya tulang kartilago
- Disritmia

VII. KOMPLIKASI
- Fraktur patologis
- Hepatosplenomegali
- Gangguan Tumbuh Kembang
- Disfungsi organ

VIII. PENATALAKSANAAN TERAPI
1. Pemberian transfusi hingga Hb mencapai 10 g/dl. Komplikasi dari pemberian transfusi darah yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya penumpukan zat besi yang disebut hemosiderosis. Hemosiderosis dapat dicegah dengan pemberian Deferoxamine(desferal).
2. Splenectomy : dilakukan untuk mengurangi penekanan pada abdomen dan meningkatkan rentang hidup sel darah merah yang berasal dari suplemen(transfusi).

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Pengkajian Fisik
- Riwayat keperawatan
- Kaji adanya tanda-tanda anemia(pucat,lemah,sesak,nafas cepat,hipoksia kronik,nyeri tulang dan dada,menurunnya aktivitas,anoreksia),epistaksis berulang.
Pengkajian Psikososial
- Anak : Usia,tugas perkembangan psikososial,kemampuan beradaptasi dengan penyakit,mekanisme koping yang digunakan.
- Keluarga : respon emosional keluarga,koping yang digunakan keluarga,penyesuaian keluarga terhadap stress.

DIAGNOSE KEPERAWATAN
1. Perubahan perfusi jaringan b.d berkurangnya komponen seluler yang penting untuk menghantarkan Oksigen/zat nutrisi ke sel.
2. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d kurangnya selera makan.
4. Koping keluarga tidak efektif b.d dampak penyakit anak terhadap fungsi keluarga.

Read more...

TUMBUH KEMBANG ANAK

A. PENGERTIAN
Tumbuh adalah proses bertambahnya ukuran/dimensi akibat penambahan jumlah atau ukuran sel dan jaringan interseluler.
Kembang/perkembangan adalah proses pematangan/maturasi fungsi organ tubuh termasuk berkembangnya kemampuan mental intelegensia serta perlakuan anak.

B. JENIS TUMBUH KEMBANG
1. Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam bentuk besar dan fungsi organisme individu.
2. Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat abstrak dan simbolik seperti berbicara,bermain,berhitung dan membaca.
3. Tumbuh kembang social emosional bergantung kemampuan bayi untuk membentuk ikatan batin,berkasih saying,menangani kegelisahan akibat suatu frustasi dan mengelola rangsangan agresif.

C. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANG
1. Faktor Genetik
2. Faktor herediter konstitusional
3. Faktor lingkungan
Lingkungan ini meliputi aspek fisikobiopsikososial yang dapat berupa :
a.Orang tua : hidup rukun dan harmonis,persiaan jasmani,mental,social yang matang pada saat membina keluarga,mempunyai tingkat ekonomo/kesejahteraan yang cukup,cukup waktu untuk memperhatikan,membimbing dan mendidik anak
b.Pelayanan KIA dan KB yang cukup untuk perlindungan kesehatan Ibu dan Anak dengan jaringan dan fasilitas yang memadai dalam tenaga,peralatan,anggaran dan mencakup seluruh populasi.
c.Didaerah perkotaan m,aupun pedesaan diciptakan keadaan yang cukup baik dalam segi-segi : kesehatan,geografis,demografis,social ekonomi.
d.Pendidikan di rumah,sekolah, diluar sekolah dan rumah untuk pembinaan perkembangan emosi, social, moral, etika, tanggung jawab,pengetahuan, ketrampilan dan kepribadian.

D. TAHAP TAHAP TUMBUH KEMBANG
Proses tumbuh kembang dimulai sejak sel telur dibuahi dan akan berlangsung sampai dewasa.
a. Tahap prenatal
- Masa embrio : mulai konsepsi – 8 minggu
- Masa tengah fetus : 9 minggu – 24 minggu
- Masa fetus lanjut : 24 minggu – lahir
b. Tahap postnatal
• Masa neonatal : lahir – 1 bulan
Masa bayi awal : 1 bulan – 1 tahun
• Masa bayi lanjut : 1 tahun – 2 tahun
c. Masa anak (wanita : 2-10 tahun, laki-laki : 2-12 tahun) :
- Masa prasekolah : 2 – 6 tahun
- Masa sekolah : wanita 6 – 10 tahun,laki-laki 6 – 12 tahun
d. Masa remaja (adolesen) : wanita 10-18 tahun, laki-laki 12-20 tahun
- Pra pubertas : wanita 10-12 tahun,laki-laki 10-14 tahun
- Pubertas : wanita 12-14 tahun,laki-laki 14-15 tahun
- Post pubertas :wanita 14-18 tahun,laki-laki 16-20 tahun

E. SKRINING DAN PENGAWASAN TUMBUH KEMBANG
Pengawasan tumbuh kembang anak dilakukan secara kontinue dengan pencatatan yang baik dimulai sejak dalam kandungan (Ante Natal Care) secara teratur dan pengawasan terutama anak balita.
- Untuk pertumbuhan anak dengan pengukuran BB dan TB menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS).
- Untuk perkembangan anak dengan menggunakan DDST (Denver Development Screening Test).

Sedangkan tahap-tahap penilaian perkembangan anak yaitu :
- Anamnesis
- Skrining gangguan perkembangan anak
- Evaluasi penglihatan dan pendengaran anak
- Evaluasi bicara dan bahasa anak
- Pemeriksaan fisik

F. TEORI PERKEMBANGAN MENURUT SIGMUND FREUD
1.Fase Oral : 0 – 1 tahun
Keuntungan : Kepuasaan/kebahagian terletak pada mulut
Mengisap,menelan,memainkan bibir,makan,kenyang dan tidur.
Kerugian : menggigit,mengeluarkan air liur,marah,menangis jika tidak terpenuhi.
2.Fase Anal : 1 – 3 tahun
Keuntungan : belajar mengontrol pengeluran BAB dan BAK,senang melakukan sendiri
Kerugian : jika tidak dapat melakukan dengan baik.
3.Fase Phalic : 3 – 6 tahun
• Dekat dengan orang tua lawan jenis
• Bersaing dengan orang tua sejenis
4.Fase latent : 6 – 12 tahun
• Orientasi social keluar rumah
• Pertumbuhan intelektual dan social
• Banyak teman dan punya group
• Impuls agresivitas lebih terkontrol
5.Fase genital
• Pemustan seksual pada genital
• Penentuan identitas
• Belajar tidak tergantung pada orang tua
• Bertanggung jawab pada diri sendiri
• Intim dengan lawan jenis.
Keuntungan : bergroup
Kerugian : konflik diri,ambivalen.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Review kembali catatan medik masalah kesehatan yang berkaitan dengan gangguan pada perkembangan anak
2. Kaji pengetahuan keluarga akan penyakit/masalah yag berkaitan dengan gangguan tumbang anak
3. Tentukan perkembangan anak sesuai umurnya (dengan DDST)
4. Kaji kemampuan fungsional anak yang meliputi kemampuannya dalam makan,mandi,berpakaian,berjalan,memecahkan masalah dan berkomunikasi.
5. Kaji persepsi orang tua kan tingkat perkembangan anak dan pengharapan mereka terhadap anaknya.
6. Kaji tentang hubungan orang tua denagan anak
7. Kaji sumber-sumber yang mendukung seperti tingkat perekonomian keluarga dll yang dapat mendukung perkembangan anak.

B. DIAGNOSE KEPERAWATAN
1. Ketidakmampuan penyesuaian berhubungan dengan kelahiran/diagnosis gangguan perkembangan anak.
2. Perubahan kemampuan peran orang tua berhubungan dengan kesulitan memenuhi dan mengasuh anak.
3. Ketidakefektifan kemampuan anak dalam pola makan b.d ketidakmampuan lidah,kelumpuhan otot dan kelemahan menelan.
4. Perubahan tumbang b.d ketidakmampuan
5. Isolasi social b.d kelainan perkembangan
6. Resiko cedera b.d perkembangan (sesuai dgn tingkat usia perkembangan anak).

Read more...

RETARDASI MENTAL

1. PENGERTIAN
Retardasi mental adalah suatu keadaan dimanan seseorang memiliki kemampuan mental yang tidak mencukupi(WHO)
Retardasi Mental adalah kelainan fungsi intelektual yang subnormal terjadi pada masa perkembangan dan berhubungan dengan satu atau lebih gangguan dari ;
b. Maturasi
c. Proses belajar
d. Penyesuaian diri secara social

2. ETIOLOGI
Kelainan ini dapat digolongkan menjadi :
a. Penyebab Organik
1). Faktor prenatal :
- Penyakit kromosom ( Trisomi 21 ( Sindrom Down)
- Sindrom Fragile X
- Gangguan Sindrom ( distrofi otot Duchene, neurofibromatosis ( tipe 1)
- Gangguan metabolisme sejak lahir ( Fenilketonuria )
2). Faktor Perinatal :
- Abrupsio plasenta
- Diabetes maternal
- Kelahiran premature
- Kondisi neonatal termasuk meningitis dan perdarahan intracranial
3). Faktor Pasca natal :
- Cedera kepala
- Infeksi
- Gangguan degeneratif
b. Penyebab non organik
Kemiskinan dan keluarga tidak harmonis
Sosial cultural
Interaksi anak kurang
Penelantaran anak
c. Penyebab lain : Keturunan,pengaruh lingkungan dan kelainan mental lain

Retardasi mental dapat juga disebabkan oleh gangguan psikiatris berat dengan deviasi psikososial atau lingkungan ( Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta )

3. MANIFESTASI KLINIS
- Gangguan kognitif ( pola, proses pikir )
- Lambatnya ketrampilan ekspresi dan resepsi bahasa
- Gagal melewati tahap perkembangan yang utama
- Lingkar kepala diatas atau dibawah normal ( kadang-kadang lebih besar atau lebih kecil dari ukuran normal )
- Kemungkinan lambatnya pertumbuhan
- Kemungkinan tonus otot abnormal ( lebih sering tonus otot lemah )
- Kemungkinan ciri-ciri dismorfik
- Terlambatnya perkembangan motoris halus dan kasar


4. PATOFISIOLOGI
Retardasi mental merujuk pada keterbatasan nyata fungsi hidup sehari-hari. Retardasi mental ini termasuk kelemahan atau ketidakmampuan kognitif yang muncul pada masa kanak-kanak ( sebelum usia 18 tahun ) yang ditandai dengan fungsi kecerdasan di bawah normal ( IQ 70 sampai 75 atau kurang ) dan disertai keterbatasan-keterbatasan lain pada sedikitnya dua area fungsi adaftif : berbicara dan berbahasa , kemampuan/ketrampilan merawat diri, kerumahtanggaan, ketrampilan sosial, penggunaan sarana-sarana komunitas, pengarahan diri , kesehatan dan keamanan , akademik fungsional, bersantai dan bekerja.
Penyebab retardasi mental bisa digolongkan kedalam prenatal, perinatal dan pasca natal. Diagnosis retardasi mental ditetapkan secara dini pada masa kanak-kanak.















6. KRITERIA DIAGNOSTIK
- Fungsi intelektual yang secara signifikan berada dibawah rata-rata . IQ kira-kira 70 atau kurang ( untuk bayi penilaian klinis dari fungsi fungsi intelektual dibawah rata2 ).
- Kekurangan atau kerusakan fungsi adaptif yang terjadi bersamaan ( mis. efektifitas seseorang dalam memenuhi harapan kelompok budayanya terhadap orang seusianya) dalam sedikitnya dua area berikut : komunikasi, perawatan diri , kerumahtanggaan, ketrampilan sosial dan interpersonal, penggunaan sarana-sarana masyarakat pengarahan diri, ketrampilan akademik fungsional , bekerja, bersantai , kesehatan dan keamanan.
- Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun.

Kode dibuat berdasarkan tingkat keparahan yang tercermin dari kerusakan inteletual :
317 Retardasi mental ringan ( Tingkat IQ 50-55 sampai kira-kira 70 )
318.0. Retardasi mental Sedang ( Tingkat IQ 35-40 sampai 50-55 )
318 .1. Retardasi mental berat ( Tingkat IQ 20-35 sampai 35-45 )
318.2. Retardasi mental yang amat sangat berat (Tingkat IQ dibawah 20-25)
319 Retardasi mental dengan keperahan yang tidak disebutkan: jika
terdapat dugaan kuat adanya retardasi mental tetapi emintelligence orang tsb tidak dapat diuji dengan test Standar.


7. KOMPLIKASI
-Serebral palcy
-Gangguan kejang
-Gangguan kejiwaan
-Gangguan konsentrasi /hiperaktif
-Defisit komunikasi
-Konstipasi

8. UJI LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK
-Uji intelegensi standar ( stanford binet, weschler, Bayley Scales of infant development )
-Uji perkembangan seperti DDST II
-Pengukuran fungsi adaftif ( Vineland adaftive behaviour scales, Woodcock-Johnson Scales of independent Behaviour, School edition of the adaptive behaviour scales ).

9. PENATALAKSANAAN MEDIS
Berikut ini adalah obat-obat yang dapat digunakan :
-Obat-obat psikotropika ( tioridazin,Mellaril untuk remaja dengan perilaku yang membahayakan diri sendiri
-Psikostimulan untuk remaja yang menunjukkan tanda-tanda gangguan konsentrasi/gangguan hyperaktif.
-Antidepresan ( imipramin (Tofranil)
-Karbamazepin ( tegrevetol) dan propanolol ( Inderal )
Pencegahan :
-Meningkatkan perkembangan otak yang sehat dan penyediaan pengasuhan dan lingkungan yang merangsang pertumbuhan
-Harus memfokuskan pada kesehatan biologis dan pengalaman kehidupan awal anak yang hidup dalam kemiskinan dalam hal ini ;
- perawatan prenatal
- pengawasan kesehatan reguler
- pelayanan dukungan keluarga

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Pengkajian terdiri atas evaluasi komprehensif mengenai kekurangan dan kekuatan yang berhubungan dengan ketrampilan adaptif ; komunikasi, perawatan diri, interaksi sosial, penggunaan sarana-sarana di masyarakat pengarahan diri, pemeliharaan kesehatan dan keamanan, akademik fungsional, pembentukan ketrampilan rekreasi dan ketenangan dan bekerja.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d. kelainan fungsi kognitif
• Gangguan komunikasi verbal b.d. kelainan fungsi kognitif
• Risiko cedera b.d. perilaku agresif ketidakseimbangan mobilitas fisik
• Gangguan interaksi social b.d. kesulitan bicara/ kesulitan adaptasi sosial
• Gangguan proses keluarga b.d. memiliki anak retardasi mental
• Deficit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas fisik /kurangnya kematangan perkembangan.

C. INTERVENSI
• Kaji factor penyebab gangguan perkembangan anak
• Indentifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi perkembangan anak yang optimal
• Berikan perawatan yang konsisten
• Tingkatkan komunikasi verbal dan stimualsi taktil
• Berikan instruksi berulang dan sederhana
• Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
• Dorong anak melakukan perawatan sendiri
• Manajemen perilaku anak yang sulit
• Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
• Ciptakan lingkungan yang aman

D. PENDIDIKAN PADA ORANG TUA
• Perkembangan anak untuk tiap tahap usia
• Dukung keterlibatan orang tua dalam perawatan anak
• Bimbingan antisipasi dan manajemen menghadapi perilaku anak yang sulit
• Informasikan sarana pendidikan yang ada dan kelompok

E. HASIL YANG DIHARAPKAN
• Anak berfungsi optimal sesuai tingkatannya
• Keluarga dan anak mampu menggunakan koping terhadap tantangan karena adanya ketidakmampuan
• Keluarga mampu mendapatkan sumber-sumber sarana komunitas

Read more...

Sindrom nefrotik

1. PENGERTIAN
Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia, dan hiperkolestrolemia.

2. Etiologi
Sebab yang pasti belum diketahui, akhir-akhir ini dianggap sebagai suatu penyakit autoimun. Jadi merupakan suatu reaksi antigen-antibodi.
Umumnya para ahli membagi etiologi menjadi:
a. Sindrom nefrotik bawaan
Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal. Resistensi terhadap semua pengobatan. Gejalanya adalah edema pada masa neonatal.
b. Sindrom nefrotik sekunder
Disebabkan oleh:
- Malaria kuartana atau parasit lain. Penyakit kolagen seperti lupus eritematous desiminata, purpura anafilaktoid.
- Glomerulonefritis akut atau glomerulonefritis kronis, trombosis vena renalis. Bahan kimia seperti trimetadion, paradion, penisalimin, garam emas, sengatan lebah, air raksa.
- Amilodosis, penyakit sel sabit , hiperprolinemia, nefritis membranoproliferatif hipokomplementemik.
c. Sindrom nefrotik idiopatik (tidak diketahui sebabnya)
d. Glomerulosklerosis fokal segmental Pada kelainan ini yang menyolok skelerosis glomerulus. sering disertai dengan atrofi tubulus.

3. PATOFISIOLOGI

Sindroma nefrotik adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas glomerolus terhadap protein plasma, yang menimbulkan: Proteinuria, Hipoalbumenemia, Hiperlipidemia, dan Edema. Hilangnya protein menyebabkan penurunan tekanan osmotik plasma dan peningkatan tekanan hidrostatik, yang menyebabkan terjadinya akumulasi cairan dalam rongga interstisial dan rongga abdomen. Penurunan volume cairan vaskuler menstimulasi sistim renin-angiotensin yang mengakibatkan disekresinya hormon antideuretik (ADH) dan aldosteron. Reabsorbsi tubular terhadap natrium (Na+) dan air mengalami peningkatan dan akhirnya menambah volume intravaskular.
















5. TANDA DAN GEJALA

a. Proteinuria.
b. Retensi cairan dan edema yang menambah berat badan edema periorbital, edema dependen, pembengkakan genetalia eksterna, edema fasial, asites hernia, inguinalisdan distensi abdomen, efusi pleural
c. Penurunan julah urin – urin gelap, berbusa.
d. Hematuria.
e. Anoreksia
f. Diare
g. Pucat.


6. KOMPLIKASI

a. Penurunan volume intravaskular (syok hipovolemik)
b. Kemampuan koagulasi yang berlebihan (trobosis vena).
c. Perburukan pernapasan (berhubungan dengan retensi cairan)
d. Kerusakan kulit.
e. Infeksi.
f. Peritonitis (berhubungan dengan asites).
g. Efek samping steroid yang tidak diinginkan.

7. PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG

a. Uji Urin
Protein urin --------- meningkat
Urinalisa ---------cast hialin dan granular, hematuria
Dipstik urin -------- positif untuk protein dan darah.
Berat jenis urin ------- meningkat.
b. Uji Darah
Albumin serum --------- menurun
Kolesterol serum meningkat
Hemoglobin dan hematokrit---------- meningkat (hemokonsentrasi).
Laju endap darah (LED) ------------ meningkat.
Elektrolit serum----- bervariasi dengan keadaan penytakit perorangan.
c. Uji Diagnostik
Biopsi ginjal yang tidak dilakukan secara rutin.


8. THERAPI

a. Pemberian kortikosteroid (prednison)
b. Penggantian protein (dari makanan atau 25 % albumin)
c. Pengurangan edema----- deuretik dan restriksi natriuim
d. Rumatan keseimbangan elektrolit
e. Inhibitor enzim penkonversi-angiotensin (menurunkan banyaknya proteinuria pada glomerulonefritis membranosa)
f. Agens pengalkilasi (sitotoksik)----- klorambusil dansiklofosfamid
g. Obat nyeri
h. Antibiotika hanya diberikan bila ada infeksi.


9. MASALAH KEPERAWATAN
a. Kelebihan volume cairan
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
c. Kerusakan integritas kulit
d. Resiko infeksi
e. Nyeriakut

Read more...

MENINGITIS

Pengertian
Meningitis adalah radang selaput otak yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme.

Klasifikasi.
Meningitis berdasarkan penyebab dapat dibagi menjadi :
1. Meningitis bakterial:
a. Bakteri non spesifik : meningokokus, H.Influenzae, S.pneumoniae, Stafilokokus, Streptokokus, E.Coli, S.Typhosa
b. Bakteri spesifik M. Tuberkulosa.
2. Meningitis Virus.
Beberapa jenis virus dapat menyebabkan meningitis seperti Mumps (gondong), measles; dll.
3. Menigitis karena jamur
4. Meningitis karena parasit, seperti toksoplasma, amoeba.
Berdasarkan perlangsungan dan pemeriksaan cairan serebrospinalis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Meningitis purulenta/meningitis bakterial akut
2. Meningitis serosa
3. Meningitis aseptik

1. Meningitis purulenta/ M. Bakterial akut
Penyebab adalah bakteri non spesifik
Perjalanan penyakit ini berlangsung akut sebagai berikut:
a. Secara hamatogen dari satu sumber infeksi (tonsilitis, pneumonia, endokarditis, tromboplebitis,dll).
b. Perluasan langsung dari peradangan organ didekat selaput otak (sinusitis, otitis media, mastoiditis, abses otak. Dll).
c. Trauma dikepala dengan fraktur kranium terbuka, komplikasi tindakan bedah otak.

2. Meningitis tuberkulosa.
Pada umumnya terjadi karena komlikasi penyebaran tuberkulosis paru primer. Secara hematogen kuman sampai keotak , sum-sum tulang belakang, vetebra → membentuk tuberkel → pecah → selaput otak. Cara lain dengan perluasan lansung dari mastoiditis tuberkulosa.

4. Meningitis ASEPTIK.
Kriteria diagnosis subyektif.
- Panas (gejala kardial)
- Mual.
- Muntah,
- Iritabel.
- Anoreksia.
- Nyeri kepala, bingung, rewel , kadang-kadang sakit pinggang, kekakuan otot,
- Kejang (fokal atau umum)
- Fotofobia.

Obyektif.
- Gangguan kesadaran (stupor sampai koma.
- Kerning sign (+) tanda kardinal, kaku kuduk,
- Tekanan intrakranial meninggi ( fontanela cembung, edema papil)
- Gangguan sistim saraf pusat : gangguan kesadaran, gangguan saraf kranial (paralisis, buta, tuli)
- Hiperestesia.

Laboratorium.
• Pungsi lumbal.
o Warna jerni, mengabur sampai keruh (tergantung sifat eksudat)
o Tekanan cairan serebrospinal meningkat
o Jumlah sel meningkat (100- 60.000) pada kausa bakteri didominasi oleh sel polimorfonuklear).
o Reaksi pandi (+), Nonne- Apelt (+).
o Protein meningkat : 35 mg%
o Kadar gula turun: 40 mg% (bisa sampai 0 ). Kadar gula CSS. Normal = separo kadar gula darah).
o Kultur : bila prosedur baik 90% biakan positif.

Khusus untuk meningitis tuberkulosis kultur dilakukan 2 kali yaitu setelah 3-4 hari pengobatan dilakukan oleh kultur ulangan hasil positif sulit diperoleh.
• Darah ;
o AL normal atau meningkat tergantung etiologi.
o Hitung jenis didominasi sel polimorfonuklear atau limfosit
o Kultur 80-90% , untuk TBC 2% (+).

Pemeriksaan lengkap.
• CRP darah dan cairan serebrospinalis
• Peningkatan kadar laktat cairan cerebrospinalis
• Penurunan pH cairan cerebrospinalis
• LDH, CPK, GOT.
• Khusus kausa TBC :
o Kurasan lambung.
o Takahashi, PAP,Imuzim.
o Uji PPD, BCG, Ro Thorax
o CT scan kepala (kalau ada indikasi khusus sepeerti hidrosephalus)
o Funduskopi untuk melihat tuberkel di retina.

Read more...

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)

I. PENGERTIAN
Infeksi Saluran Pernapasan Akut adalah infeksi akut yang terjadi pada saluran napas termasuk adneksanya. Akut adalah berlangsung sampai 14 hari, Adneksa yaitu sinus,rongga telinga dan pleura

II. KLASIFIKASI
Secara anatomis yang termasuk Infeksi saluran pernapasan akut :
ISPA atas : Rinitis, faringitis,Otitis
ISPA bawah : Laringitis ,bronchitis,bronkhiolitis,pneumonia.

III. ETIOLOGI
1. Virus Utama : - ISPA atas : Rino virus ,Corona Virus,Adeno virus,Entero Virus
- ISPA bawah : RSV,Parainfluensa,1,2,3 corona virus,adeno virus
2. Bakteri Utama : Streptococus,pneumonia,haemophilus influenza,Staphylococcus aureus
3. Pada neonatus dan bayi muda : Chlamidia trachomatis, pada anak usia sekolah : Mycoplasma pneumonia.

IV. FAKTOR RESIKO
Faktor diri (host) : umur,jenis kelamin,status gizi,kelainan congenital,imunologis,BBLR dan premature.
Faktor lingkungan : Kualitas perawatan orang tua,asap rokok,keterpaparan terhadap infeksi,social ekonomi,cuaca dan polusi udara.

V. PATOFISIOLOGI
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 4 tahap yaitu :
1. Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa
2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia.

VI. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Suportif : meningkatkan daya tahan tubuh berupa Nutrisi yang adekuat,pemberian multivitamin dll.
2. Antibiotik :
- Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab
- Utama ditujukan pada S.pneumonia,H.Influensa dan S.Aureus
- Menurut WHO : Pneumonia rawat jalan yaitu kotrimoksasol,Amoksisillin,Ampisillin,Penisillin Prokain,Pnemonia berat : Benzil penicillin,klorampenikol,kloksasilin,gentamisin.
- Antibiotik baru lain : Sefalosforin,quinolon dll.

ASUHAN KEPERAWATAN

1.PENGKAJIAN
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan ISPA :
a. Riwayat : demam,batu,pilek,anoreksia,badan lemah/tidak bergairah,riwayat penyakit pernapasan,pengobatan yang dilakukan dirumah dan penyakit yang menyertai.
b. Tanda fisik : Demam,dyspneu,tachipneu,menggunakan otot pernafasan tambahan,faring hiperemis,pembesaran tonsil,sakit menelan.
c. Faktor perkembangan : Umum ,tingkat perkembangan,kebiasaan sehari-hari,mekanisme koping,kemampuan mengerti tindakan yang dilakukan.
d. Pengetahuan pasien/keluarga : pengalaman terkena penyakit pernafasan,pengetahuan tentang penyakit pernafasan dan tindakan yang dilakukan.

2. DIAGNOSE KEPERAWATAN
a. Hipertermi berhubungan dengan invasi mikroorganisme
b. Risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d nyeri menelan,penurunan nafsu makan sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan akut.
c. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan ISPA b.d kurang informasi
d. Pola napas tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru.

Read more...

tokoh keperawatan berkata:

Menurut Martha. E. Rogers, untuk mengadakan suatu perubahan perlu ada beberapa langkah yang ditempuh sehingga harapan dan tujuan akhir dari perubahan dapat dicapai . Langkah-langkah tersebut antara lain :
Tahap Awereness,
Tahap ini merupakan tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan diperlukan adanya kesadaran untuk berubah apabila tidak ada kesadaran untuk berubah, maka tidak mungkin tercipta suatu perubahan
Tahap Interest
Tahap yang kedua dalam mengadakan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari perubahan yang dikenalkan. Timbulnya minat akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah
Tahap Evaluasi
Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjadi hambatan yang akan ditemukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan
Tahap Trial
Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan
Tahap Adoption
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat dari sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.

banner_ku

Image and video hosting by TinyPic

Tukar Banner

Tukeran link



Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali

Image and video hosting by TinyPic

banner blog-blog lainnya

Image and video hosting by TinyPic http://bengawan.org/

among us

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP