ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERSALINAN PRETERM

Kamis, Januari 21, 2010

A.Pendahuluan
Setiap ibu hamil tentu menghendaki persalinan normal dan “jatuh tempo” pada saat yang tepat. Namun, karena berbagai sebab, si kecil jadi tak sabar ingin keluar, dan persalinan pun terjadi lebih cepat. Padahal, kalau janin lahir sebelum waktunya berarti pertumbuhannya juga belum sempurna. Ujung-ujungnya, kondisi bayi lemah, dan ia akan berhadapan dengan banyak masalah kesehatan.
Normalnya, persalinan terjadi setelah kehamilan berusia 40 minggu. Persalinan tergolong prematur bila berlangsung pada usia antara 20 – 37 minggu. Selain faktor belum cukup mur, kadang persalinan juga disebut prematur jika berat bayi yang lahir kurang dari 2,5 kg. Meski begitu, sebenarnya berat badan bayi lahir tidak selalu bisa dihubungkan dengan persalinan prematur. Misalnya, bayi prematur yang lahir dari ibu penderita diabetes, kadang lebih berat dibanding bayi normal. Tapi karena lahir lebih cepat, ia tetap saja menyandang masalah khas bayi prematur, seperti organ pencernaan atau paru-paru yang belum sempurna. Dalam keadaan demikian, bayi belum siap untuk hidup di luar rahim. Karenanya, ia “wajib” tinggal di kotak pemanas (inkubator) hingga cukup kuat hidup tanpa perlindungan.
Pada haid yang teratur, persalinan pretern dapat didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari hari haid pertama haid terakhir (ACOG, 1995). Di negara berkembang insidennya sekitar 7% dari seluruh persalinan. Persalinan preterm merupakan yang berbahaya karena potensial meningkatkan kematian prenatal sebesar 65% - 75%, umumnya berkaitan dengan berat lahir rendah. Berat lahir rendah dapat disebabkan oleh kelahiran preterm dan pertumbuhan janin yang terhambat. Keduanya sebaiknya dicegah karena dampaknya yang negatif, tidak hanya kematian perinatal tetapi juga moberiditas, potensi generasi akan datang, kelainan mental dan beban ekonomi bagi keluarga dan bangsa secara keseluruhan.
Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti persalinan pretern tidak diketahui bagaimana sebab dan faktor demografik diduga sebagai penyebab persalinan preterm seperti : solusio plasenta, kehamilan ganda, kelainan uterus, polihi dramnion, kelainan genital janin, ketuban pecah dini dan lain-lain. Penyebab persalinan preterm bukan tunggal tetapi multikompleks, antara lain karena infeksi. Infeksi pada kehamilan akan menyebabkan suatu respn imunologik spesifik melalui aktifasi sel limfosit B dan T dengan hasil akhir zat-zat yang menganisiasi kontraksi uterus. Terdapat makin banyak arti yang menunjukkan bahwa mungkin sepertiga kasus persalinan perterm kaitan dengan infeksi membran korioamnion.
Dari penelitian Lettieri, dkk (1993) didapati 38% persalinan peterm disebabkan akibat infeksi korionamnion. Knox dan Hoerner (1950) telah mengetahui dengan antara infeksi jalan lahir dengan kelainan prematur. Bobbit dan Ledger (1997) membuktikan infeksi amnion suibklinis seabgai penyebab kelahiran preterm dengan amniosentesis didapati bakteri patogen pada + 20% ibu yang mengalami persalinan preterm dengan ketuban utuh dan tanpa gejala klinis infeksi (Cox , 1996, Watts dkk, 1992).
Cara masuknya kunian penyebab infeksi amnion dapat sebagai berikut :
1. Melalui jalur transervikal masuk ke dalam selaput Amniokorion dan cairan amnion E. Coli dapat menembus membran korioamnion (Gyr dkk, 1994).
2. Melalui jalur transervikal ke desidua / chorionic junction pada segmen bawah rahim
3. Penetrasi langsung ke dalam jaringan serviks
4. Secara hematogen ke plasenta dan selaputnya.
5. Secara hematogen ke miometrium
Selain itu endotoksin dapat masuk ke dalam rongga amnion secara difusi tanpa kolonisasi bakteri dalam cairan amnion. Infeksi dan proses inflamasi amnion merupakan salah satu faktor yang dapat memulai kontraksi uterus dan persalinan preterm. Menurut Schwarz (1976), partus aterm diinisasi oleh aktivasi enzim phoholipase A.
Yang dapat melepaskan asasm arakidorat dari membran janin sehingga bentuk aasm arakidorat berbas yang merupakan bahan dasar sintesis prostaglandain. Baktiar dkk (1981) melaporkan sejumlah mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk menghasilkan enzim phospholipase A sehingga dapat menganisiasi terjadinya persalinan preterm. Bennet dan Elder (1992) menunjukkan bahwa mediator-mediator dapat merangsang timbulnya kontraksi uterus dan partus preterm melalui pengaruhnya terhadap biosintesis prostaglandin.
Kalau ibu termasuk golongan berisiko tinggi melahirkan prematur, cara yang dapat ditempuh adaLah memeriksakan diri secara teratur kepada dokter. Kalau selama ibu seorang pekerja keras, sebaiknya selama hamil kegiatan ibu dibatasi untuk menghindari kelelahan.Jangan bebani pikiran dengan berbagai persoalan sehingga membuat stress, hentikan kegiatan buruk seperti merokok. Hindari pula minuman beralkohol dan obat-obatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Disinyalir beberapa zat bahan kimia pada obat-obatan bisa membahayakan keselamatan bayi dalam kandungan...
Satu hal perlu diingat, sebaiknya ibu tidak melanggar anjuran dokter. Jika tidak bisa-bisa si kecil jadi tak sabar ingin segera melihat dunia, meskipun itu bisa membahayakan kesehatannya.
B. Konsep
1. Pengertian
Persalinan prematur adalah suatu proses kelahiran bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu atau sebelum 3 minggu dari waktu perkiraan persalina (dr. Suririnah).
Persalinan prematur adalah dimulainya kontraksi uterus yang teratur yang disertai pendataran atau cervik serta turunnya bayi pada wanita hamil yang lama kehamilannya kurang dari 37 minggu (kurang 259 hari) sejak hari pertama haid terakhir (dr. M. Halimi).
Pada haid yang teratur, persalinan preterm dpaat didefinisikan seabgai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (ACOG, 1995).
2. Etiologi
Kemampuan untuk memperkirakan wanita yang mana yang akan mengalami kelainan prematur, spontan dan kelahiran sangat susah karena penyebab preterm laboratorium tidak ketahui secara pasti. Dalam banyak kasus kelahiran preterm tidak diketahui meskipun demikian ada beberapa studi dilakukan selama 15 tahun dapat menunjukkan beberapa kondisi yang memungkinkan adanya kelahiran preterm (Newton et al 1970, Mamelle et al, 1984, Romero et al 1989, Klien et al, 1990) antara lain :
a. Distensi berlebihan dari uterus karena kondisi seperti poli hidroamnion
b. Anomali uterus
c. Riwayat pembedahan uterus
d. Aktivitas uterus yang muncul lebih awal
e. Infeksi maternal antara lain : bakteri uria asimtomatik
f. Kokain (kemungkinan terjadi persalinan preterm 4 kali lebih besar)
g. Merokok
h. Stress psikologis wanita pekerja dan kelelahan
3. Faktor Resiko
Tabel Resiko Kelahiran Prematur
Kelahiran Pertama Kelahiran Kedua Kelahiran Prematur selanjutnya dalam %
Tidak Prematur 4,2
Prematur 14,3
Tidak Prematur Tidak Prematur 2,6
Prematur Tidak Prematur 5,7
Tidak Prematur Prematur 9,0
Prematur Prematur 28,1
Tabel Hubungan Anomali Uterus terhadap Persalinan Prematur
Anomali Jumlah Pasien Pasien dengan Kelahiran Prematur %
Unikornus 8 37
Didelfis 17 35
Bikornus - -
Bikollis 5 80
Unikollis 66 27
Arkuata 33 18
Septum 2 4
Inkomplet 36 17
(James Rscoot)
Faktor Resiko
a. Faktor Demografi
- Kulit hitam
- Status sosial ekonomi yang rendah
- Umur saat kehamilan (<20> 40 tahun)
- TB < 159 cm dan BB < 45 kg b.
Riwayat Reproduksi yang lalu
- Kejadian aborsi sebelumnya
- BBLR sebelumnya
- Kurang dari satu tahun sejak kelahiran
c. Faktor resiko mayor
- Kelahiran preterm sebelumnya
- Kehamilan multiple
- Hidroamnion
- Dilatasi cerviks < 1 cm pada 32 minggu
- Anomali uterus - Riwayat aborsi
- Dua kali aborsi pada trimester ke 2
- Riwayat pyelonefritis
d. Status data Riwayat Medis
- Penyakit jantung dan Anemia
- ISK pada Trimester ke 3
e. Karakteristik prilaku dan lingkungan
- Kekurangan nutrisi
- Merokok (lebih dari 10 batang sehari)
- Senyawa alkohol dan obat-obatan
- Toksin
- Pekerja berat dan kelelahan
f. Obsetri pada kehamilan
- Kurang atau lambatnya prenatal care
- Kurang / penurunan BB sebelum kehamilan
- Perkembangan komplikasi kehamilan seperti demam
g. Psikososial
- Stress
- Trauma fisik
- Sikap negatif terhadap kehamilan
4. Manifestasi Klinis
a. Kontraksi uterus teratur 3 – 5 menit selama 45 detik dalam waktu sekurangnya 2 jam. b. Fase aktif meningkat, intensitas dan frekuensinya ketika pasien beraktivitas.
c. Terjadi tanda gejala mayor dan minor
d. Usia kehamilan 20 – 37 minggu
e. Taksiran berat janin sesuai usia kehamilan 20 – 37 minggu
f. Biasanya presentasi abnormal
5. Patofisiologi Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor atau minor. Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang per hari, riwayat abortus pada trimester III, riwayat abortus pada trimester 1 lebih dari 2 kali. Faktor resiko mayor ialah kehamilan multipel, hidramnion, anomali uterus, servik terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi dan iritabilitas uterus.
Pasien tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor mayor atau bila ada 2 lebih faktor resiko minor atau bila ditemukan keduanya.
6. Pencegahan
a. Pengenalan pasien berisiko
b. Pendidikan persalinan kurang bulan
c. Kenali kontraksi uterus kurang bulan sejak dini untuk mendapatkan terapi dr. OBGIN. d. Pemantauan rahim sejak dini.
e. Pemberian hormon hydroxyprogesterone caproate (dr. suririnah)
f. Diet yang tepat untuk hamil.
g. Personal higen yang baik.
h. Aktivitas dibatasi bagi ada riwayah prematur.
i. Penyakit-penyakit panas akut segera ditangani
j. Kontrol seksama kalau ada penyakit dm / toksosemia.
k. Tunda pembedahan abdomen yang elektif.
l. Tindakan yang khusus untuk
1) Gameli harus istirahat ditempat tidur sejak kehamilan 28 sampai 36 minggu
2) Fibromyoma uteri kalau ada keluhan istirahat ditempat tidur dan diberi analgesia.
3) Placenta previa istirahat total dan tranfusi darah sampai bayi ukuran viabelnya cukup 4) Inkompetensi cervik harus dijahit pada trimester II.
5) SC dilakukan sampai bayi-bayi cukup viabel
7. Penatalaksanaan Rujuk ke rumah sakit dan cari faktor penyebabnya dinilai apakah termasuk resiko rendah atau rendah :
a. Sebelum dirujuk diberi air minum sebanyak 1000 ml dilihat berhenti atau tidak kontraksi uterusnya.
b. Bila masih kontraksi beri obat fenoterol sebanyak 5 mg peroral dosis tunggal atau ritodrin 10 mg peroral dosis tunggal pilihan kedua, ibuprofen 400 mg pilihan ketiga dosis tunggal.
c. Bila menolak dirujuk pasien harus istirahat baring dan banyak minum, dan diberi beli obat fenoterol sebanyak 5 mg peroral dosis tunggal atau ritodrin 10 mg peroral, dosis tunggal pilihan kedua, ibuprofen 400 mg pilihan ketiga dosis tunggal.
d. Persalinan tidak dapat ditunda bila ada kontra indikasi mutlak (gawat janin, karioamnionitis, perdarahan anterpartum yang banyak) dan kontra indikasi relatif (gestosis, DM, pertumbuhan janin terhambat dan pembukaan serviks 4 cm).
Di Rumah Sakit
a. Hidrasi dan sedasi (pemberian cairan NaCl 0,9% / D5% / Ringer Lactat sebanyak 1 : 1 dengan morpin sulfat 8 – 12 mg im) sambil observasi ibu dan jamin
b. Kelompok Pasien menjadi 3 Pembukaan Servik terus berlangsung Tidak ada pembukaan, kontraksi berlangsung Tidak Pembukaan, Kontraksi Uterus Berkurang Kelompok I Obat tokolisis Kelompok II Obat tokolisis Kelompok III Obervasi pasien
c. Bila janin masih dalam keadaan baik beri obat tokolisis kehamilan 20 – 37 minggu permbukaan serviks kurang dari 4 cm dan selaput ketuban masih ada dengan jenis tokolisisnya beta mimetik, magnesium sulfat 4 g (200 ml MGSO 10% dalam dektrose 5% dengan tetesan 100ml/jam) etil alkohol dan glukokortikoid (deksametason 12 perhari selama 3 hari).
d. Lakukan persalinan pervaginam bila janin presentasi kepala terutama pada umur kehamilan 35 minggu lakukan SC bila syarat partus pervaginam tidak terpenuhi.
Agen Tokolitik Indikasi umum digunakan untuk :
a. Tanda-tanda kelahiran prematurd
b. Umur kehamilan > 20 minggu atau< 36 minggu
c. Kemungkinan berat janin > 500 gram atau < 2500 gram
d. Tidak ada kontra indikasi untuk melanjutkan kehamilan Kontra Indikasi Umum
a. Kehamilan < 20 minggu
b. Ruptur membran, khususnya dengan tanda-tanda infeksi
c. Perdarahan uterus yang aktif
d. Komplikasi medis maternal, seperti DM atau preeklamasi
e. Fetal distress akut atau konik
f. Anomali fetal mayor
g. Intra uterine fetal death
h. Kontra undikasi B
i. Beberapa keadaan maternal atau fetal untuk kelanjutan kehamilan
j. Kemajuan kelahiran dengan dilatasi serviks melebihi 4 cm.
Jenis Obat
1. B-Adrenergik Agonisth
a. Ritodrin (Yutopar)
1) Reaksi Memberikan efek secara khusus pada B2 reseptor dalam otot uterus memperlambat kontraksi, pada pembuluh darah menyebabkan vasodilatasi.
2) Kontra Indikasi Penyakit jantung maternal, penyakit ginjal, DM, hypertirodisme dan alergi terhadap agen obat.
3) Efek Samping Matermal Kardiovaskuler : peningkatan HR, nadi melemah Tekanan darah : peningkatan sistolik BP, penurunan diastolik BP, peningkatan cardiac output. Hyperglikemia, retensi air, edema paru, palpitasi.
4) Dosis IV Infus : 150 mg ritodrin 500 ml larutan = 0,3 mg/ml. Dimulai pada : 0,05 mg untuk 0,1 mg/menit, ditingkatkan sampai 0,05 mg/menit setiap 10 menit. Maksimum dosis yang direkomen dasikan adalah 0,35 mg/menit dan dilanjutkan IV 12 hari setelah kelahiran. Peringatan : Hanya digunakan untuk pengorbatan kelahiran prematur, resiko peningkatan oedema paru terjadi bersamaan dengan pemberian kortikoesteroid. Perawat harus mengetahui tanda dari oedema paru Tambahan :
Efek samping dan komplikasi : Sakit kepala, gugup, cemas, gelisah, nyeri, dyspnea, tachi cardi, janin, neonatal, hypoglikemia. Dosis : 30 menit sebelum IV diberikan, mulai ritodrine, oral ritodrine 18 mg setiap 2 jam selama 24 jam, 10 – 20 minggu setiap 4 – 6 jam untuk pemeliharaan
b. Terbulatalin
1) Kerja obat : sama dengan ritodrine
2) Kontra indikasi : pasien dengan asma yang lain sama dengan ritrodrine
3) Efek samping sama dengan ritodrine 4) Dosis : IV infus : 0,01 mg/mt menigkat sampai dengan 0,085 mg/mt maksimal. Oral : Dosis pemeliharaan 2,5 – 5 mg setiap 4 – 6 jam Injeksi subkutan : 0,25 mg setiap 20 – 60 menit rumusnya : Basal Rate 0,05 s/d 0,1 mg/jam
Peringatan : Kebutuhan dibanding ritrodrine lebih murah dapat diberi melalui subkutan c. Magnesium Sulfat
1) Reaksi : secara spesifik tidak diketahui penurunan aktivitas uterus ketika level semua magnesium maternal 6 – 8 mEg/L. 2)
Kontra indikasi : CSN depression, cardiac disfunction, patologi ginjal 3) Efek Samping : Maternal : dihubungkan dengan peningkatan level serum magnesium, hipertensi, depresi pernafasan, hipotonus.
Toksik magnesium : respiratiry Arrest, kolap pada sirkulasi, henti jantung. Fetal : respon disstress
4) Dosis IV infus dosis 4 – 6 gr melalui dengan pelan atau gejala toxit hilang
5) Peringatan : tanggung jawab perawat : Monitor VS setiap 5 menit selama pemberian dosis dan setiap 15 menit selama pemeliharaan Pertahankan kalsium glukonat Stop infus dan laporkan jika BP, 90/60 R < 12/mt, tidak ada refleks patela, urine output < 30 m/jam. Obat-obat yang digunakan untuk mencegah distressindrom pernafasan yaitu :
a. Corticosteroid
1. Reaksi : peningkatan produksi surfaktan pada paru janin
2. Indikasi : kelahiran preterm pada umum kehamilan 23 – 34 minggu kemungkinan hilangnya kemampuan kelahiran selama 48 jam therapi misasif tanpa resiko yang tak semestinya pada ibu dan janin.
3. Kontra indikasi : ketidakmampuan atau keterbatasan pada umum kehamilan > 34 minggu L : S perbandingan > 2 minggu
4. Efek Samping : Maternal dapat meningkatkan efek yang tidak diiinginkan pada DM Preeklamsia, peningkatan resiko infeksi, lambatnya penyembuhan pada luka SC.
Fetal/Neoantal : tidak ada laporan yang serius tentang efek samping tetapi efek jangka panjang tidak diketahui.
5. Dosis : 12 mg IM, diulaang pada 12 – 24 jam x 1,6 mg IM, diulang dalam 12 –24 jam x 1 diulang setiap minggu 6 mg IM sampai L : S rasio : 2 : 1 3/4 minggu efek yang terlihat akan pindah / hilang, puncaknya pada 48 jam dan kemungkinan hilang dalam waktu 1 minggu.
6. Peringatan : gunakan dengan agen tokalitik untuk menurunkan resiko peningkatan oedema pulmunal. FDA tidak disetujui digunakan pada potensial terjadinya bahaya dan kontroversi.

8. Prognosis
a. Prematuritas merupakan faktor kematian yang terkait mortalitas dan morbiditas sebagian bayi meninggal pada 28 hari pertama mempunyai bobot kurang dari 2500 g saat lahir.
b. Anoksia 12 kali lebih sering pada bayi yang baru lahir.
c. Gangguan respirasi menyebabkan 44% bayi meningggal pada bayi kurang 1 bulan jika bayi kurang dari 1000 g angka kematian sebesar 74%.
d. Rentan terhadap kompresi kepala karena lunaknya tulang tengkorak dan immaturitas jaringan otak.
e. Perdarahan intra cranial 5x lebih sering
f. Cerebral Palsy
g. Prognosis untuk kesehatan fisik dan intelektual bayi belum diketahui dengan pasti tampaknya insiden kerusakan otak organik otak lebih tinggi pada bayi prematur.

9. Persalinan Preterm / Pencegahan Kelahiran Preterm
Kelahiran dalam 2 minggu dari tanggal melahirkan yang diperkirakan, diinginkan oleh baik wanita hamil dan profesional kesehatan. Persalinan preterm merujuk pada persalinan yang terjadi setelah janin telah mencapai periode viabilitas (sedikitnya 20 minggu gestasi tetapi sebelum selesai minggu ke-37). Menunggu kelahiran sampai term mungkin dikontraindikasikan bila resiko bagi klien atau janin lebih berat daripada resiko melahirkan bayi preterm.

C. Asuhan Keperawatan

Pengkajian Data Dasar Klien
Catatan : etiologi tidak diketahui pada 70-80% kasus, ketuban pecah dini (KPD) terjadi pada sisa 20 – 30%.

Sirkulasi
Hipertensi, edema patologis (tanda hipertensi karena kehamilan [HKK]).
Penyakit jantung sebelumnya.

Integritas Ego
Adanya ansietas sedang

Makanan / Cairan
Ketidakadekuatan atau penambahan berat badan berlebihan.

Nyeri / Ketidaknyamanan
Kontraksi intermiten sampai reguler yang jaraknya kurang dari 10 menit selama paling sedikit 30 detik dalam 30 – 60 menit.
Pernafasan
Mungkin perokok berat (> 10 rokok/hari)

Keamanan
Infeksi mungkin ada (misalnya : infeksi saluran kemih dan atau atau infeksi vagina)

Seksualitas
Tulang servikal dilatasi
Perdarahan mungkin terlihat
Membran mungkin ruptur (KPD)
Perdarahan trimester III.
Aborsi sebelumnya, persalinan / melahirkan preterm, riwayat biopsi konus
Uterus mungkin distensi berlebihan, karena hiramnion, makrosomia atau gestasi multipel.

Interaksi Sosial
Mungkin kelas sosioekonoi rendah

Penyuluhan / Pembelajaran
Ketidakadekuatan atau tidak anya perawatan pranatal
Mungkin dibawah usia 18 atau lebih dari 40 tahun
Penggunaan alkohol / obat lain, pemajanan pada diestilstilbesterol (DES).

Pemeriksan Diagnostik
Ultrasonografi : Pengkajian gestasi (dengan berat badan janin 500 sampai 2.499 gram).
Tes Nitrazin : Menetukan KPD
Jumlah sel daerah putih : Peningkatan menandakan adanya infeksi
Urinalisis dan kultur : Mengesampingkan ISK
Kultul vaginal, reagen plasma cepat (RPC) : Mengindenfikasi infeksi.
Amniositensis : Rasio lesitin terhadap stingomielen (L/S) mendeteksi fosfati digliserol (PG) untuk meturitas paru janin, atau infeksi amniotik.
Pemantauan elektronik : Memvalidasi aktivitas uterus / status janin.

Prioritas Keperawatan
1. Memasikan kondisi ibu adanya persalinan dan kesejahteraan janin.
2. Membantu upaya untuk mempertahakan kehamilan, bila mungkin
3. Mencegah komplikasi
4. Memberikan dukungan emosi
5. Memberikan informasi yang perlu

Tujuan Pulang
1. Penghentian kontraksi uterus.
2. Bebas komplikasi dan atau efek yang tidak diinginkan
3. Menerima situasi dengan cara positif
4. Memahami tanda preterm persalinan / komplikasi dan terapi yang dibutuhkan

Potensial Komplikasi (Masalah Kolaborasi)
- PK : Persalinan preterm bayi, edema pulmonary (sekunder dari medikasi tokolitik)
- PK dari terapi magnesium sulfat : keracunan magenesium.

Diagnosa Keperawatan
- Kecemasan berhubungan dengan faktor : hasil kehamilan, efek samping tokolitik, kekurangan waktu untuk mempersiapkan persalinan atau perawatan bayi dan krisis situasional, ancaman yang dirasakan atau aktual pada diri dan janin.
- Aktifitas pengalihan yang tidak sempurna berhubungan dengan faktor : tirah baring yang lama.
- Proses keluarga terganggu berhubungan dengan faktor : penyakit atau ketidakmampuan anggota keluarga, perubahan dalam aturan keluarga, kekurangan suport sistem yang adekuat, perlakuan tirah baring.
- Ketakutan berhubungan dengan faktor : kemungkinan persalinan dan kelahiran awal.
- Pemeliharaan rumah terganggu berhubungan dengan faktor : support sistem yang tidak adekuat, perlakuan tirah baring.
- Manajemen regimen tetapi tidak efektif berhubungan dengan faktor : defisit pengetahuan, tuntutan berlebihan yang dibuat individu atau keluarga, defisit support sosial.
- Nausea berhubungan dengan faktor : efek samping pengobatan tokolitik.
- Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan faktor : efek samping magnesium sulfat.
- Ketidakberdayaan berhubungan dengan komplikasi penanganan kehamilan, kekurangan dalam perbaikan meskipun mengikuti regimen pengobatan dan tirah baring.
- Harga diri rendah (kronis, situasional) berhubungan dengan faktor : tidak berharap untuk kelahiran anak, ketidakmampuan menyelesaikan tugas seperti biasa.
- Disfungsi seksual berhubungan dengan faktor : retriksi yang muncul karena pengobatan, takut menyakiti janin, takut menyebabkan kontraksi uterus.
- Gangguan pola tidur berhubungan dengan faktor : moitoring dan frekuensi pengobatan.
- Intoleransi aktifitas berhubungan dengan hipersensitivitas otot/seluler.
- Resiko tinggi cedera pada janin berhubungan dengan : melahirkan bayi preterm/tidak matur.
- Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai persalinan preterm, kebutuhan tindakan dan prognosis berhubungan dengan kesalahan interprestasi atau kurang informasi.

Dx Prioritas Masalah
1. Kecemasan berhubungan dengan persalinan preterm ditandai dengan :
- Takut - Kewaspadaan meningkat
- Gugup - Stressor
- Kawatir - Gelisah
NOC : Kecemasan klien berkurang (secara verbal)
- Klien mengungkapkan kesiapannya menjalani proses persalinannya.
- Klien dapat mengontrol kecemasannya untuk mengurangi perasaan kawatir dan ketegangannya.
- Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang efektif dalam mengatasi cemas dan stresornya.
- Klien tidak lagi menunjukkan tingkah laku kecemasan pada dirinya.
NIC :
- Kaji tingkat kecemasan klien dan reaksi fisik terhadap cemas (seperti : takikardi).
- Jelaskan tentang prosedur kegiatan dan masalah yang melibatkan klien, selama dalam prosedur, gunakan istilah umum dan tenang serta bicara pelan.
- Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan yang mengindikasikan intervensi.
- Berikan informasi yang factual/akurat tentang dukung klien menginterprestasikan gejala kecemasan suatu hal yang normal.
- Instruksikan klien koping sebelumnya digunakan oleh klien untuk mengatasi kecemasannya.
- Instruksikan klien menggunakan teknik relaksasi.
2. Nausea berhubungan dengan efek samping pengobatan tokolitik ditandai dengan :
- Rasa mual - Peningkatan saliva
- Perasaan tidak nyaman - Rasa sakit pada perut
- Stimulasi visual tidak mengenakkan
NOC :
- Mual dapat teratasi/berkurang.
- Klien dapat mempertahankan status nutrisi secara adekuat (pemalsuan makanan dan minuman).
- Klien dapat mendemonstrasikan gejala nausea dengan dibuktikan indikator-indikator berikut (membahayakan dengan ketentuan 1-5 yaitu : berat, sedang, ringan, substansial, tidak membahayakan) dengan melihat intensitanya, frekuensi dari gejala yang timbul.
NIC :
- Monitor gejala subyektif pada mual yang ditimbulkan klien.
- Observasi keadaan umum klien.
- Monitor status hidrasi klien dengan : (pada kekuatan Nadi, TD).
- Identifikasi faktor yang mengkonstribusi beratnya gejala nausea yang ditimbulkan (misalnya obat-obatan, demam, stress, anjuran pengobatan).
- Kaji orientasi terhadap orang, tempat dan waktu.
- Pertahankan keakuratan catatan terhadap pemasukan dan pengeluaran.
- Monitor hasil lab yang relevan dengan keseimbangan cairan (BUN, albumin, protein total, osmolaritas).
- Anjurkan klien untuk mengkonfirmasi bila muncul gejala nausea, rasa ingin muntah.
3. Resiko injuri (pada bayi dan janin) berhubungan dengan persalinan preterm
NOC :
- Klien mampu mengurangi atau menghilangkan ancaman injuri pada ibu dan janinnya.
NIC :
- Tinjau ulang riwayat persalinan, awitan dan durasi.
- Kaji pola kontraksi uterus secara manual atau elektronik.
- Evaluasi tingkat keletihan yang menyertai serta aktivitas dan istirahat, sebelum awitan persalinan.
- Catat penonjolan, posisi janin presentasi janin dengan maneuver leopold dan tinjau ulang hasil USG.
- Sediakan kotak peralatan kedaruratan.
- Kaji DJJ secara manual atau elektronik.
- Siapkan untuk metode melahirkan yang paling aman lengkap dengan perawatan bayi resiko tinggi.
4. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas organ pernapasan ditandai dengan :
- Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi - Dypnea
- Penurunan pertukaran udara permenit - Napas pendek
- Tahap ekspirasi berlangsung lama - Tampak sianosis
NOC :
- Suara napas bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu.
- Irama napas, frekuensi pernapasan dalam rentang normal tidak ada suara napas abnormal.
- Tanda-tanda vital normal : Nadi : 120x/menit, R : 30x/menit
NIC :
- Bersihkan mulut, hidung dan keluarkan secret dengan suction
- Auskultasi suara napas, catat adanya suara tambahan.
- Monitor respirasi dan status oxigennya
- Pertahankan jalan napas
- Monitor aliran oxygen
- Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
- Monitor Nadi, pernapasan klien
- Monitor frekuensi, irama pernapasan, dan suara paru
- Monitor pola pernapasan abnormal
- Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit, serta sianosis perifer

2 komentar:

priestindian 10 Maret 2010 19.46  

wah bagus sekali... :)
Trim's atas sharingnya
kunjungi saya ya... di http://bidanku.web.id

Jual Produk Kecantikan 15 Oktober 2016 18.46  

Obat Pencernaan Alami
Solusi kesehatan www.Jual.ProdukKecantikanAman.com

Posting Komentar

tokoh keperawatan berkata:

Menurut Martha. E. Rogers, untuk mengadakan suatu perubahan perlu ada beberapa langkah yang ditempuh sehingga harapan dan tujuan akhir dari perubahan dapat dicapai . Langkah-langkah tersebut antara lain :
Tahap Awereness,
Tahap ini merupakan tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan diperlukan adanya kesadaran untuk berubah apabila tidak ada kesadaran untuk berubah, maka tidak mungkin tercipta suatu perubahan
Tahap Interest
Tahap yang kedua dalam mengadakan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari perubahan yang dikenalkan. Timbulnya minat akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah
Tahap Evaluasi
Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjadi hambatan yang akan ditemukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan
Tahap Trial
Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan
Tahap Adoption
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat dari sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.

banner_ku

Image and video hosting by TinyPic

Tukar Banner

Tukeran link



Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali

Image and video hosting by TinyPic

banner blog-blog lainnya

Image and video hosting by TinyPic http://bengawan.org/

among us

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP